Benarkah ini Aku?
Setiap orang memiliki medan perjuangannya
masing-masing. Dengan kadar yang sudah Allah tetapkan sesuai dengan kekuatan
masing-masing. Ada yang semasa hidupnya diuji dengan harta namun bisa tetap
bahagia. Ada yang diuji dengan orang tua, entah Allah memanggil orang tua
mereka dahulu atau tentang seorang anak yang berada dalam kondisi
terombang-ambing karena ke dua orang tuanya yang bercerai. Atau ada pula dengan
ujian hidup berupa dirinya sendiri.
Ujian yang datang, sesuatu yang Allah hadirkan, akan
sangat terkenang ketika ujian itu sungguh berat dan luar biasa rasanya. Setiap orang
pasti memiliki hal-hal yang ia ingat betul.
Ada seseorang yang kondisi keluarganya berbeda
dengan kondisi keluarga lain. Seseorang yang selalu merasa iri dengan teman
lainnya ketika melihat mereka memiliki kedekatan yang baik dengan ke dua orang
tuanya. Pun ketika mereka bisa berlibur bersama dan lain sebagainya.
Awalnya semua bejalan baik. Seperti anak-anak pada
umumnya. Sesekali berlibur bersama, walaupun ibarat kata hanya menuju taman
bermain dekat rumah. Waktu itu, ke dua orang tuanya sering mengajak
jalan-jalan, ke tempat wisata, taman bermain, wisata alam dan sebagainya. Tapi tidak
berlangsung lama. Pun sebenarnya hal-hal itu pun hanya sesekali, bahkan
seseorang itu masih ingat betul dengan tempat-tempat yang pernah dikunjungi
bersama orang tuanya, karena sedikit itu kenangan yang tertinggal mengenai
kebahagiaan bersama.
Hari kian berjalan, semua mulai tampak nyata. Di dalam
rumah sering ada pertengakaran ke dua orang tuanya. Hingga lambat laun
seseorang itu sadar bahwa inilah titik perpisahan itu.
Tepat di kelas 5 SD menuju kenaikan kelas 6 SD, ibu
seseorang itu memutuskan berangkat ke luar negeri untuk mencari nafkah. Dengan tidak
mengindahkan bujukan-bujukan sang suami dan orang tua, ibu itu memutuskan untuk
berangkat. Dan seseorang itu adalah aku.
Aku bukan seorang yang pandai dalam akademik, namun
tergolong cukup baik. Di masa SD sering mengikuti lomba semacam pesta siaga
maupun marching band. Ibu lah yang selalu mengantar ke sana kemari. Dan aku
memang dekat sekali dengan ibu. Aku bertipe introvert, yang sangat susah
bergaul dengan orang baru, maka hanya ibu dan ayah saja yang aku dekati ketika
berada di lingkungan baru.
Mungkin karena bentukan lingkungan yang membuatku
sangat introvert, bahkan hingga ke keluarg besar pun aku merasa enggan. Seperti
tidak kenal siapapun.
Dan tibalah ketika hari keberangkatan itu. Ibu melarangku
untuk libur sekolah, karena tidak ingin melihatku sedih. Dan ya, aku pun tetap
sekolah. Finansial keluargaku kala awal-awal SD cukup baik, ikut les sana sini,
ikut antar jemput sekolah, masih bisa untuk beli suatu kebutuhan primer. Namun
entah bagaimana tiba-tiba situasi berbalik dan ibu memutuskan pergi. Padahal hal
ini bukanlah satu-satunya jalan.
Dan ya, ketika aku pulang, ibu sudah tidak ada. Hanya
ada ayah dan kakek nenekku di rumah. Entah bagaimana aku ini sangat jarang
sekali berkomunikasi intens dengan ayah. Tapi tau bahwa aku sayang, tapi entah
bagaimana seolah-olah sedari dulu ibu seperti membatasi hubunganku dengan ayah.
Tapi aku tau bahwa ayah pun sayang aku. Dan mulai kian terasa ketika kepergian
ibu.
Ayahku seseorang yang bertipe lembut. Tidak pernah
berkata kasar. Marah pun tidak dengan nada tinggi. Justru ibuku yang seperti
itu. Ayah selalu mengalah dengan ibu. Dan berusaha meredam ibu walaupun ibu
tidak pernah ‘berbuat baik’ dengan ayah.
Disanalah aku. Berdua bersama ayahku. Yang kala itu
masih berusia 11 tahun an dengan pribadi yang sangat introvert berusaha untuk
mulai membuka diri dan berbaur. Apa-apa aku jalani bersama ayah. Dengan sesekali
mendapat kabar dari ibu,
Ayah sangat tau bahwa aku sangat sayang kepada ibu. Ayah
tau bahwa aku sangat terpukul. Maka sehari-hari ayah selalu berusaha membuatku
nyaman berusaha membuatku bahagia. Dan itu berhasil. Hubunganku dengan ayah kian
membaik bahkan sangat dekat.
Bagaimanapun ayah adalah seorang laki-laki, ketika
aku ada lomba yang mengharuskan aku berdandan, aku harus meminta tolong kepada
tetangga sebelah rumahku untuk mendandani aku. Pun ketika ada lomba-lomba,
mulai sejak itu aku selalu sendiri. Karena ayah bekerja. Dan itu seseuatu yang
tak pernah aku lupa. Suka merasa sedih ketika melihat teman-temanku diantar
lomba oleh orang tuanya. Dan itulah sekilas kesedihan dan kesepianku kala itu.
Guncangan batin untuk yang ke dua kalinya pun
datang. Qadarullah, kala itu ibu sakit, dan pulang. Namun tidak ke rumah
melainkan ke rumah nenekku. Jadi kami terpisah. Ibu niat hati tidak ingin
memberitahuku karena setelah sembuh akan segera berangkat kembali, Tapi ayah
memberitahuku.
Lantas serangan batin yang ke dua pun hadir. Ayah
tau bahwa aku sangat sayang ibu, dan benar. Aku pun memilih ikut ibu. Tapi kala
itu, ayah masih antar jemput aku ketika sekolah di masa-masa akhir kelas 6 SD. Masih
suka untuk mengajak aku jalan-jalan dengan menjemput aku di rumah nenek. Tentu hanya
kami berdua yang selalu pergi.
Aku pikir, semua akan membaik. Tapi kenyataanya
tidak, ada sesuatu yang menimpa ayah. Mungkin batinnya. Ayah mulai menjaga
jarak. Sudah sangat berbeda. Mungkin karena sakit, megetahui tentang aku yang
memilih ikut ibu. Ayah menjauh. Padahal di kala itu aku merasa sangat dekat
dengan ayah. Tapi ayah seperti itu. Di sisi lain kondisi ibu yang belum pulih
dan masih bergulat dengan batinnya sendiri. Maka tersisalah aku. Berada di
tengah dua orang yang sedang bimbang.
Dan kalian pasti sudah dapat menebak. Apa yang
terjadi setelah itu. Ya, beberapa saat setelah itu ibuku menikah lagi ketika
aku kelas 1 SMP. Dengan luka batin yang belum sembuh, lantas harus ada luka
baru dan beradaptasi dengan orang baru, itu bukan suatu hal yang mudah. Terlebih
sosok itu sangat berbeda dengan ayah, dan hingga sekarang pun rasanya masih
berjarak. Padahal sudah bejalan hampir 7 tahun yang lalu. Dan ayahku?
Aku sering bermain ke sana. Tapi ayah sering pergi. Aku
di rumah sendiri. Aku selalu kemana-mana sendiri karena ayahku sudah tidak
sempat untuk mengantar aku dan lainnya. Di rumah baru, situasi rumah juga tidak
baik. Ibu sedikit sekali memperhatikan aku.
Sangat terombang-ambing diriku saat itu. Di tengah
ke dua orang tua yang tidak peduli. Di tambah lingkungan pertemanan yang kurang
baik. Aku kala itu berpikir bahwa aku akan hancur.
Namun ajaibnya, aku bersyukur, ditengah keadaan yang
rumit, aku tetap bisa menuju sekolah favorit dan sering mendapat juara kelas. Lambat
laun bisa memilih lingkaran yang baik, bisa menerima keadaan keluarga yang luar
biasa. Berusaha untuk ikhlas dan menerima semua dengan hati yang lapang. Dan terus
berupaya untuk kian positif.
Walaupun kala itu serangan batin ke tiga muncul. Sekarang
berganti ayahku lah yang menikah lagi tepat di masa-masa peralihanku menuju
kelulusan SMP. Tentu dengan segala drama yang melingkupi.
Namun aku berhasil bangkit. Berhasil melihat bahwa
kejadian-kejadian itu sebagai ujianku. Berusaha untuk ikhlas ditengah hati yang
hingga saat ini pun sering bergejolak bahkan seringkali meneteskan airmata bila
teringat dengan itu semua. Namun aku baik-baik saja. Sekarang aku sudah menjadi
seorang mahasiswa. Di Universitas Islam Negeri yang ada di Semarang. Dan aku
bersyukur atas hal itu. Karena nyatanya Allah memapukan aku ditengah banyaknya
cobaan yang hadir. Dan kini aku tetap berusaha untuk menerima. Serta mengupayakan
bakti kepada ke dua orang tuaku walaupun keadannya tidak mudah.
Semangat :)
BalasHapusTerima kasih kak :)
HapusBagus kak, semangat nulis terus ya!
BalasHapusTerima kasih kak. Kakak juga semangat ya :)
HapusAaaa kuat banget si kak:(
BalasHapusAku aja orang tua lengkap, perhatiannya wow, masih saja sok sakit hati hanya karena nasihat atau kritik. Heum:(
Sama aja kok mba, hehe. Kadang ada titik lemahnya juga. Tapi berusaha untuk terus bangkit. Banyak-banyak bersyukur ya, masih ada ibu bapak di rumah. Kalo mau bakti masih banyak peluang
HapusTerharu sekalii mbaaak....tetap semangat yaaa... Dan terus berprasangka baik kepada Allah.. btw mbak..itu ada typo.. paragraf terakhir Allah memampukan ya maksudnya?
BalasHapusSemoga ada ibrah yang bisa diambil ya mba, terima kasih untuk koreksiannya. Habis ini aku betulkan kembali deh, hehe
HapusMasya Allah . Semangat terus Mbak, selalu ada hikmah dibalik apa yang kita jalani.
BalasHapusTerima kasih Mbak, aamiin aamiin ya Allah, semoga selalu dimampukan untuk bisa membaca hikmah dibalik setiap kejadian
HapusBenarkah ini aku? Ya. Sosok yang kuat dan hebat
BalasHapusTidak sekuat itu kok mba, hehe. Tapi Alhamdulillah, masih Allah mampukan
HapusMasya Allah ceritanya.
BalasHapusTerima kasih, Mba sudah mampir dicerita saya
Hapussemangat terus mbak! :)
BalasHapusTerima kasih, Mba. Mba juga semangat ya :)
HapusMasyaAllah. Semangat terus, Kak :)
BalasHapusTerima kasih, Kak sudah mampir untuk membaca. Kakak juga semangat ya :)
HapusSemangat kak. InsyaAllah pasti ada hikmah besar dalam skenario hidup kita
BalasHapusMasih terbayang sama cerita Kak Yonal. Aku pun sebenarnya tidak setangguh Kak Yonal. Terima kasih Kak, sudah mampir
HapusPertanyaan tersulit untuk seorang anak, "Kamu ikut ayah apa ibu?"
BalasHapusBetul mba. Bimbang sekali. Karena sudah pasti menyakiti keduanya
HapusTerima kasih, Kak. Sudah mampir dan mau mengoreksi. Aku suka ketika dikoreksi. Dapet insight walaupun nanti suka lupa lagi, hehe.
BalasHapusWah, Mbka hebak sekali ya, yang sabar ya Mbak, semua yang terjadi pasti ada hikmah dibaliknya 😊
BalasHapusInsyaAllah, Mba. Terima kasih sudah mampir :)
HapusMba kuat banget :')
BalasHapusSemoga sukses selalu ya Mba :)
Sama saja kok, Mba sama orang-orang lain. Terima kasih ya, Mba sudah mampir :)
HapusSemangat kak..
BalasHapusTerima kasih, Kak :)
HapusTulisan kak Dhelviaa menginspirasi anak-anak Indonesia yang mempunyai cerita hidup dengan kakak..... Sukses selalu dan semangat terus kak
BalasHapusTerima kasih, Mba. Mba juga semangat terus ya .. Rintangan ujian kita masih panjang sekali
HapusCeritanya sangat menyentuh...betapa tangguh menghadapi semuanya tanpa mengeluh. Inspiratif sekali..semoga kesuksesan setia mengiringi.
BalasHapusMasih ada lemahnya kok, Mba. Tapi alhamdulillah Allah kasih kuat. Terima kasih ya, Mba, Mba juga semangat terus ..
HapusMbak, peluuukkk...Engkau sangat kuat mba. Aku kaguuumm
BalasHapusYa Allah, Mba. Tidak sekeren itu juga kok, hehe. Terima kasih sudah mampir :)
HapusPostingan ini mengandung bawang.. Ah semangat ❤
BalasHapusWah maaf ya, yang nulis kurang ajar nih, naruh bawang sembarangan, hehe. Terima kasih, Kak sudah mampir :)
HapusHwaaaaaaaaaaa~ aku bagaikan remahan bakwan kalau dibandingin :( semamgat terus ya mbaks huhuhuhu peyukpeyuk
BalasHapusJangan dibanding-bandingin mba, hihi. Setiap orang punya medan ujiannya masing-masing kok. Aku pun kalo jadi mba juga belum tentu kuat. Ayo ayo semangat. Terima kasih ya mba sudah mampir :)
Hapus
BalasHapusSemangat kak
Terima kasih kak
HapusHebat. Selamat, sudah jadi pribadi yang sangat kuat 😊
BalasHapusBelum kok mba. Ini masih berproses juga, siap menunggu serang-serangan selanjutnya, hehe. Terima kasih sudah mampir mba :)
Hapusternyata cerita itu benar-benar terjadi kukira hanya di cerpen atau novel ... semangat kak ... ringankan hati dan pikiran agar bisa melangkah maju ke depan
BalasHapusDi luar sana pun masih banyak yang ceritanya jauh lebih menyakitkan daripada saya Bu. jadi masih Alhamdulillah rasanya. Terima kasih, Bu sudah mampir
HapusSemoga cerita hidupmu ini menjadikanmu pribadi yang kuat ya. What doesn't kill us, makes us stronger katanya :).
BalasHapusSetiap cerita memang tujuannya untuk membuat pribadi itu kuat kok, Mba, Dan aku akan berusaha, hehe. Terima kasih ya, Mba sudah mampir :)
HapusPeluk jauh����semangat yaaaa!!
BalasHapus