Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Aku Tetap Menunggu

Gambar
Aku hanya menganggap ia sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Aku hanya ingin berteman, karena aku belum siap untuk patah hati. Terlebih tidak ada kata pacaran dalam kamusku. Aku takut   bila terlontar kata-kata itu dari dirinya “Akun ingin kita lebih dari sekedar sahabat.” Selalu terngiang-ngiang di   benak, namun semoga saja tidak pernah terlontar dari mulutnya  d an hanya menjadi kalimat lalu dikepalaku.   Aku takut untuk kelihanga n,  dia sahabat  terbaik ku. _____________ Sudah beberapa hari aku menjaga jarak dengan Andrea, aku tidak ingin dia semakin dekat dan intens terhadapku. Sungguh aku tidak membayangkan tentang hal-hal yang berkelebat di   bayanganku.  Dan ternyata benar saja. “Besok kita lihat sunset ,  ya. Jangan lupa untuk berdandan cantik. Sudah lama kita tidak melihat sunset bersama.” Tiba-tiba Andrea melintas di   depan rumahku. Sepertinya baru saja kembali dari menangkap ikan. Terlihat tangannya penuh dengan ikan-ikan....

Aku Tetap Menunggu

Gambar
Aku di   sini , duduk temenung di tepi pantai. Menatap kejauhan . B erharap kamu akan muncul dari bayang-bayang ombak itu. Hati ini kelu. Terlalu lelah untuk memendam rindu. L elah untuk berkeluh kesah bersama air mata yang kian mender u . A ku tetap setia m enunggu kedatanganmu. “Tunggu aku di   sini, bulan purnama nanti aku akan kembali.” K alimat terakhir yang aku ingat, seutas kalimat ringan penuh makna yang membuatku hingga kini bertahan menunggu. _____________ “Anastasia, kemarilah . …” Seseorang berteriak dari arah belakang. Kala itu aku tengah sibuk menyiapkan makan malam kam i. “Ada sesuatu yang menarik?” “Kemarilah ,  kita lihat sunset .  Sebentar lagi matahari tenggelam.” Kelihatannya aku terlalu sibuk memasak. Hingga lupa bahwa sebentar lagi matahari tenggelam. Andrea  pun  harus berteriak memanggilku. Melihat sunset memang kegemaran kami. Sungguh suatu hal yang tidak ingin kami lewatkan disetiap sela-sela waktu makan malam yang sesekali kami la...

Halangan Tak Berarti Apapun

Gambar
Kesempatannya hadir, ia selama ini sudah berlatih keras, namun harus pupus karena mendengar bahkan kejuaraan itu akan ditunda hingga entah kapan karena situasi yang mendadak kocar-kacir. Sebenarnya Resha anak yang baik dan penurut. Walaupun keras kepala ia tidak pernah membentak sang kakak atau ayah dan ibunya. Namun karena kekecewaan ini, membuat dirinya tidak terkontrol. Dan ibu pun ternyata mendengar bentakan Resha kepada Hanisha. Ibu menghampiri Resha, dan mulai berbicara kepadanya. “Sayang … tadi Resha bentak kakak ya? Kasihan kakak, Nak. Kakak niatnya baik, cuma pengen Resha senang lagi. Ibu sedih, Resha sekarang seperti ini. Kemarin-kemarin Resha pinter, mau turun ke bawah makan sama-sama. Sekarang kok gini?” Tanya sang ibu. Akhirnya memutuskan lebih mendekat kepada sang anak. Sambil mengelus kepala Resha dengan lembut dan di tatapnya mata ke abu-abu an anak itu. “Resha benci sama kakak! Kenapa dia sok perhatian, lebay banget. Capek denger gedoran pintu tiap hari tiap saat. Resh...

Halangan Tak Berarti Apapun

Gambar
Tubuh kecilnya duduk termenung di pojok ruang sambil menatap lurus ke luar jendela. Hari ini suasananya sangat sendu. Di luar gelap. Sebenarnya bukan suatu hal yang patut ditonton sebagai hiburan. Tapi sepertinya itulah kesenangan Resha akhir-akhir ini. Bahkan sepanjang hari ia habiskan hanya untuk duduk di pojok ruang itu. Sang kakak, Hanisha, selalu menilik kondisi Resha. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah maupun sore ketika pulang. Tak lupa, ia pun sering memantau sang adik melalui CCTV yang connect dengan handphonenya. Ternyata yang sendu bukan Resha saja. Melainkan sang kakak pun ikut sendu dengan kondisi sang adik. Resha anak yang periang dan ceria. Selalu mewarnai suasana, ribut sana-sini, bila tidak ada ia maka keadaan sangat sunyi. Sang kakak cukup pendiam dan bertolak belakang sekali dengan Resha. Maka keberadaan Resha sangat terasa bagi sang kakak. Dialah satu-satunya adik yang selalu menghibur di kala sang kakak terpuruk. Namun sekarang berbeda. Resha lah yang sedang ...