Halangan Tak Berarti Apapun


Kesempatannya hadir, ia selama ini sudah berlatih keras, namun harus pupus karena mendengar bahkan kejuaraan itu akan ditunda hingga entah kapan karena situasi yang mendadak kocar-kacir. Sebenarnya Resha anak yang baik dan penurut. Walaupun keras kepala ia tidak pernah membentak sang kakak atau ayah dan ibunya. Namun karena kekecewaan ini, membuat dirinya tidak terkontrol.

Dan ibu pun ternyata mendengar bentakan Resha kepada Hanisha. Ibu menghampiri Resha, dan mulai berbicara kepadanya. “Sayang … tadi Resha bentak kakak ya? Kasihan kakak, Nak. Kakak niatnya baik, cuma pengen Resha senang lagi. Ibu sedih, Resha sekarang seperti ini. Kemarin-kemarin Resha pinter, mau turun ke bawah makan sama-sama. Sekarang kok gini?” Tanya sang ibu. Akhirnya memutuskan lebih mendekat kepada sang anak. Sambil mengelus kepala Resha dengan lembut dan di tatapnya mata ke abu-abu an anak itu.

“Resha benci sama kakak! Kenapa dia sok perhatian, lebay banget. Capek denger gedoran pintu tiap hari tiap saat. Resha capek, Bu! Resha nggak selemah itu. Nggak seharusnya kakak bersikap seolah-olah Resha ini lemah!”

“Nak, kamu kan yang selama ini selalu care ke kakak? Usia kalian berbeda cukup jauh, tapi kamu berhasil menjadi adik yang baik. Bisa menghibur di saat kakak sedang sedih dan terpuruk. Sekarang kakak ingin gantian, berusaha menghibur kamu, pengen Resha ceria lagi. Tentu dengan cara kakak sendiri. Resha minta maaf ya sama kakak,” bujuk ibu.

“Resha nggak selemah itu, Bu. Tidak selemah kakak! Nggak perlu untuk dikasihani. Resha nggak mau minta maaf! Capek! Resha pengen sendiri!”

“Sudah hampir dua bulan kamu seperti ini. Mengurung diri, tidak mau olahraga, apalagi latihan berenang. Katanya mau maju ke tingkat intenasional, ada rintangan kecil sudah menyerah? Ingat tidak, ketika kakak mati-matian menyemangati Resha di bangku stadion. Rela menunda ujian semesteran hanya ingin melihat adiknya juara. Rela sekali harus bolak-balik antar jemput Resha atau menemani Resha latihan di tengah kesibukannya. Resha ingat tidak?”

Resha terdiam. Pertahanannya selama ini mulai runtuh juga. Sehari-hari dengan sikap arogan seolah baik-baik saja akhirnya mengaku rapuh juga. Air matanya mulai mengalir, dan ia tergugu, tertunduk di pangkuan sang ibu.

“Ibu tau nak, ini kesempatan kamu untuk maju ke tingkat internasional. Ibu, ayah, dan kakak tentu saja akan sangat bangga. Tapi keadaan memaksa kita untuk bersabar sayang … jika dipaksa mungkin Resha yang akan sakit terjangkit virus dan lain sebagainya. Pandemi bukan akhir segala-galanya sayang … pandemi bukan suatu alasan yang bisa kamu gunakan untuk melempar segala kekecewaanmu. Dan memanglah seperti ini keadaannya. Dua bulan sudah kamu buang dengan kesia-siaan. Tidak melihatkah usaha kakakmu untuk menyemangati kamu selama ini? Bangkit ya, Nak. Ini bukan akhir, melainkan awal yang baru.”

Hanisha sedari tergugu di depan pintu kamar sang adik. Ternyata sedari tadi ia mendengar percakapan sang ibu dengan adinya. Perlahan ia menghampiri adik dan ibunya. Duduk di tepi ranjang seraya memegang pundak sang adik, sebagai bentuk simpatinya. Tanpa suara.

“Kak Hanisha, maafin Resha. Dua bulan ini menjadi adik yang menyebalkan dan kemarin jadi adik menjengkelkan bahkan kurang ajar. Tolong, Kak, maafin Resha. Jangan pergi, kakak di sini aja. Jadi kakak terbaik buat Resha, selalu support Resha. Resha nggak akan mengecewakan kalian lagi. Nggak akan bikin kalian sedih lagi. Resha janji, Resha akan jadi anak yang kuat di tengah situasi apapun. Terima kasih selama ini sudah mensupport Resha dengan luar biasa. Resha akan bangkit dan berusaha dari awal,” ucap Resha, emosinya meledak tepat setelah ibu menyelesaikan ucapannya dan ketika Hanisha mulai menyentuh pundak sang adik. Seolah rasa simpati dan kasih sayang itu tersalur, menyadarkan Resha. Dengan isak tangis tersedu-sedu ia berusaha mengelurkan kata-kata itu dengan susah payah.

Dan ketiganya pun berpelukan dengan isak tangis masing-masing namun dengan kebahagiaan yang melingkupi. Ibu dengan kebahagiaan melihat kedua anaknya kembali bersatu dan saling berkasih sayang. Hanisha dengan harunya melihat sang adik akhirnya sadar dan bangkit kembali. Dan Resha, dengan perasaan yang pecah setelah selama ini dipendam.

Perlu diingat, bahwa pandemi bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang halangan itu hadir untuk menguatkan. Untuk menguji seberapa seriuskah seseorang atas tujuan yang ingin dicapainya itu. Seperti Resha yang akhirnya tersadar dengan hakikatnya menjadi seorang atlet. Haruslah menjadi sosok kuat dan tahan banting serta teguh pendirian meraih impian walaupun dunia berhenti berputar sekalipun. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali