Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Teringat Kembali

Gambar
Berkali-kali sudah kubuka lembaran lusuh itu Bayangan dan memori pun ikut berkelebat Rasa yang hilang kembali terangkat Oh, ini kah perihnya mengingat kenangan pilu?   Dahulu masih puti bersih Hanya ada bekas coretan dan sisa gesekan akibat penghapus Setelah empat tahun Buku itu penuh dengan luberan tinta Juga bekas air mata mengering   Sebuah kisah cinta klasik Cinta monyet muda-mudi remaja kala itu Puisi yang teroreh mungkin hanya sekedarnya Aku paham betul Dan tau   Tapi untuk melepas kenangan Rasanya tidak mudah Terus dan terus terbayang Hingga akhirnya tersadar Bahwa jalan kita sudah berbeda

Kubawa Tinggi-tinggi

Gambar
Kata orang memgejar sesuatu itu melelahkan Cinta yang notabenenya menyenangkan pun sesekali bisa memuakkan Lantas bagaimana dengan suatu impian Benarkan sama melelahkan? Atau justru membahagiakan?   Setiap hari ku pandangi wajah itu didepan cermin Berharap suatu saat akan seperti Austin Seindah itukah halusinasi yang main-main   Apakah kemungkinanku sangat kecil untuk bisa seperti dia? Nampaknya aku tengah amnesia Tapi tak apa, nyatanya aku bahagia Walaupuan itu hanya sebuah angan belaka   Tak salah bila ingin bermimpi Bermimpi bak candu sebuah aromaterapi Lantas siapa yang mau mengakhiri Lebih baik ku bawa saja mimpi ini tinggi-tinggi Agar tak ada lagi yang bisa kuratapi dibawah sini    

Aku Di Sini

Gambar
Malam kelabu menemani mimpi Bersama rembulan aku setia menanti Kepada dikau yang jauh di sana  Tak harap cemas  Aku sudah lupa  Tentang manisnya kehadiran  Serta bahagianya temu  Tak apa lah  Sementara begini saja Terkadang berpisah menjadi indah Manakalah bersama hanya membawa luka  Dan air mata  Buat apa  Ini tentang aku Yang masih menunggu  Tidak memaksa kembali  Cukup tau saja Bahwa aku masih di sini

Melepas

Gambar
Gersang rindu melanda hati Kosong ini butuh isi  Menuntut hati untuk setia  Mempertahankan cinta  Tapi apa daya  Semua hanya menjadi remah-remah kebencian  Tak ada ujung  Menyisakan lubang dalam  Mendesak ke jantung  Melepaskan sama sulitnya dengan kehilangan  Yang berat justru bertahan  Bingung Bagaimana cara melepaskan Ikatan itu sudah terlalu kencang Hingga tak terasa  Akan bait-bait cintanya  Terganti dengan aura-aura penat kebencian

Ku Tunggu

Gambar
  Terbayang sendu kutatap mata legammu Harapku cemas menunggu kedatangan sang pujaan Mata ini pun sudah sembab Pikiranku kelimpungan berpikir kau tak akan pulang   Makan malam sudah terhidang di atas dipan-dipan kasih Rinduku ini bukan kepalang Ingin rasanya segera jengkap Kita berdua beradu dalam peraduan saling menghadap   Kuingin kau segera menetap Segeralah datang Lalu kita bergandengan sepanjang malam Torehan tinta merah muda sudah tertuang dari canting Siap mengisi hati kosong   Ah, Aku ini menunggu siapa Jodoh saja belum nampak batang hidungnya Aku tak ingin membangkang Pada Tuhanku   Cukuplah angin malam saja yang menemani Nanti ku jemput kau di seluasnya ilalang Bersama kaki jenjangmu aku siap melangkah   Tentu, Dengan menikah dulu ya, Sayang Kali ini curi-curi dulu bayang-bayangmu Dalam kegelapan   Mungkin nanti Sehari dua hari Atau tahun depan Kita berjumpa Dan menjadi len...

Kehilangan

Gambar
  Berat dirasa pundak ini Air mata mengalir deras Tubuh dingin Dibayang-bayangi kelamnya malam   Kau berdiri dipojok ruang Menanti-nanti kabar kebahagiaan Kau mencari tenang Ditengah ributnya kehidupan   Kau kuat Tubuhmu tak perlu sekokoh baja Tanganmu tak perlu kekar Asal hatimu sekuat luasnya bumi dan langit   Kuat tak berarti tanpa tangis Tapi mampu untuk bangkit Dan melepas luka Menerima dengan penerimaan terbaik Walau diuji dengan kehilangan Semarang, 19 September 2021

Jangan Menyesal

Gambar
  Datang tak diundang Tak payah menunggu persetujuan apalagi persiapan jamuan Tiba-tiba saja langsung di depan mata Tanpa permisi, tanpa kabar kedatangan   Kedatangannya sudah ditunggu-tunggu, sebenarnya Tapi tak pernah mengira Bahwa hari ini Adalah kedatangannya   Hendak berpamitan? Tidak bisa Mengucap maaf untuk yang tersakiti? Sudah terlambat Menambah catatan kebaikan? Sudah habis waktu Baru sadarkah?   Tiba-tiba dan mendadak Jatah napasmu sudah diberhentikan Diganti dengan kehidupan selanjutnya Siap menghadapi apa yang ada di depan   Setelah nyawamu ditarik dari kerongkongan Jangan sampai, ya Baru sadar kurangnya amal Ketika diri sudah di alam lain Jangan menyesal Bila selama ini hanya ke sia-sia yang yang diperbuat  

Aku Butuh Topangan

Gambar
Aku ingin berkeluh Mengadukan dunia yang semuanya acuh Porak-poranda nan angkuh Apalagi yang bisa dilakukan selain bersimpuh   Di hadapan Tuhan aku mengadukan dunia Mengadukan segala euphoria yang memuakkan Meninggalkan asaku di atas angin-angin Memenjarakan hidupku dalam angan-angan   Rasanya ingin berhenti Cukup sudah Aku selelsai Dengan dunia yang menjemukkan   Kupeluk erat tubuhku Menyisakan isak tangis dan dinginnya air mata mengering Akan kerinduan damainya diri akan dunia Rasanya terlalu sulit untuk bediri sendiri  

Cukuplah Bersamaku

Gambar
  Denyut nadi mendebarkan tubuhku Tempias-tempias depan rumahmu sangat menggemparkan relung hatiku Kau bilang, “Semua akan indah pada waktunya.” Benarkah demikina? Batinku   Ketika raga sudah berpisah Hanya menyisakan lubang-lubang kelam kenangan Akankah bahagia menghampiri hatiku yang sunyi? Bisa kah kau janjikan kebahagiaan untukku?   Ah, maaf. Aku sungguh lupa Hatimu kan sudah pergi Bersama langkah-langkah iblis itu   Pintaku terlalu keras Terlalu naif Iblis itu jelas lebih menggodamu Daripada harus di sini dengan seonggok air mata   Aku cengeng memang Tak seperti dia yang tegar Tapi tangisku hanya untukmu Bukti kasihku padamu   Kembalilah Mari kita nikmati tempias-tempias air itu bersama Di bawah sinar rembulan malam Dan gemerlap bintang Kita rajut kisah kembali Melupakan iblis dan segala wanita yang menggoda itu Cukuplah bersamaku

Lelahku

Gambar
  Peluh menetes dari sekujur tubuhku Menyisakan aroma keringat tertinggal di setiap ujung baju Basah kuyup Dengan air-air kerja keras penuh haru   Nikmat rasanya Ketika diri bisa membawa berkah Mampu bekerja dan melampaui batas Karena hidup tidak melulu tentang dicukupi   Akan beranjak menjadi mencukupi Bertumpu pada kekuatan diri Mempertanggungjawabkan kekuatan Intuk memenuhi kehidupan tak hanya seorang anak manusia   Lelah tak terkira Waktu seakan membeku Ketika kuharap bisa melampiaskan lelahku Nyatanya lelah ini harus terus berjalan Tak peduli ada yang memhatikan atau tidak  

Ternyata Hanya Bapakku

Gambar
  Deras air mata membanjiri relung hatiku Tak terkira perihnya tangis malam ini Sendu-sendu kicau burung hantu ada untuk menemani Angin malam pun semerbak ikut mengiringi   Tanganmu yang sekokoh baja itu sudah tak bisa kugenggam lagi Aroma hutan pinus dari rambut manismu sudah tak bisa kuindra Hangat mengenggelamkan Kini hanya ada beku es di tanganku   Kuterduduk bergeming Memandang lautan luas sajauh indraku meraba Harap-harap topi emasmu munculmu dari kejauhan Membawa senyum mengembang nan membahagiakan   Ah, bodoh Halusinasiku kembali menyeruak Kupikir kumendengar suaramu Mengusik ketenanagan ramaiku Menyalak mengetuk indraku Menyambut langkah kaki masuk ke ruang semediku   “Eh, bapak. Kenapa, Pak?” Kupikir wajah bodohmu yang akan muncul di ambang pintu itu. Ternyata hanya bapakku  

Cukuplah Bersamaku

Gambar
  Denyut nadi mendebarkan tubuhku Tempias-tempias depan rumahmu sangat menggemparkan relung hatiku Kau bilang, “Semua akan indah pada waktunya.” Benarkah demikian? Batinku   Ketika raga sudah berpisah Hanya menyisakan lubang-lubang kelam kenangan Akankah bahagia menghampiri hatiku yang sunyi? Bisa kah kau janjikan kebahagiaan untukku?   Ah, maaf. Aku sungguh lupa Hatimu kan sudah pergi Bersama langkah-langkah iblis itu   Pintaku terlalu keras Terlalu naif Iblis itu jelas lebih menggodamu Daripada harus di sini dengan seonggok air mata   Aku cengeng memang Tak seperti dia yang tegar Tapi tangisku hanya untukmu Bukti kasihku padamu   Kembalilah Mari kita nikmati tempias-tempias air itu bersama Di bawah sinar rembulan malam Dan gemerlap bintang Kita rajut kisah kembali Melupakan iblis dan semua wanita yang menggodamu itu Cukuplah bersamaku

Pergi

Gambar
Air mataku jatuh tak berarah Menatap lamat matamu dari kejauhan Aroma hangatmu masih tersisa di sini Melekat manis di permukaan baju   Hangat tubuhnya sempurna hilang Dari lembutnya kulit bibirku Rona merah muda di bibirku hilang Seiring dengan langkahmu yang kian menjauh   Seperkian detik berlalu Kakiku masih saja terpaku Di sini, di atas jejak kaki jenjangmu Memeluk erat bekas-bekas persinggahanmu   Senja menyapa Mengusap sisa-sisa air yang tergantung di sekujur pipiku Mengulas tawa Membuatkan kembali merasa Akan adanya cinta baru Walau yang kini sedang hancur berkeping-keping

Are You Ready

Gambar
Ada yang tengah sibuk Berkutat dengan diri, memoles ini itu Berdalih ingin melakukan persiapan dan perubahan Itu sungguh hal yang baik   Lalu ada lagi yang berlagak manis Menampilkan diri dengan apiknya Menunjukkan bakat ini itu atau bahkan keistiqomahan Karena berharap dinilai sebagai sosok sempurna   O, tunggu dulu Kali ini mereka mengemis perhatian di hadapan manusia Bukan sang Pencipta Lantas, pantaskah itu?   Lagi-lagi, kita sibuk terlalu memantaskan diri hanya untuk yang tercinta Padahal belum tentu akan berjumpa   Dan juga, belum tau cintanya itu untuk siapa Dan kapan berlabuhnya   Ada yang mutlak daripada menunggu seorang pangeran tampan turun dari kahyangan Yang setiap hari sudah menilik kita Dengan setianya kembali dan kembali hingga berulang kali Menyapa dan siap menarik   Tak lain dan tak bukan Apalagi bila bukan kematian Tapi sungguh, aura keindahan seorang pangeran membutakan mata setiap ...

Cinta Manusia Biasa

Gambar
  Aku dan kalian semua memanglah manusia biasa Bisa merasakan sakit, jatuh, kecewa, ataupun jatuh cinta   Orang bilang, cinta itu anugerah Datangnya tak diundang Lalu perginya membuat selera makan hilang   Rasanya lucu Hanya karena seorang manusia, hati kita bisa rancu Hilang arah Apa-apa hanya ditentukan oleh perasaan itu   Hei, look up Your so special and beuatiful Don't make yourself like a trash Just because of a man God made you valuable Be happy   Ada Dia yang selalu Ada Ada Dia yang selalu di sini Ada Dia yang tahu segala-galanya tentang dirimu   Jangan berpikir, bahwa aku sendirian tanpa kamu Padahal ada Allah yang selalu dekat   Cinta-Nya lebih nyata Cinta-Nya selalu lebih sempurna Cinta-Nya tak ternilai harganya dan tak bisa ditukar dengan apa-apa Bersyukurlah Selalu ada Dia di sisi kita Walau tanpa kita sadari bahkan acuh   Lupakanlah apa yang semu Leburlah dengan ilm...

Tak Lagi

Gambar
Mengering sudah air mata  Ketika raga sudah tak lagi bersama  Rindu ini membuncah  Tatkala tubuhmu sudah tak ada dalam bayang-bayang  Pelukku hanya sebatas pada angin kosong Genggam erat tanganku sudah tak berarti Suara bisingmu sudah tak terdengar  Ingin rasanya kutarik kembali  Gegap gempita malam itu  Rumah ramai dengan ketiadaanmu  Aku sering meracau  "Ah, dasar bawel!" Padahal hanya itu yang akan dinanti-nanti setiap hari  Diri ini suka lupa Bahwa dunia hanya sementara  Tak sadar, bahwa kau bisa meninggalkanku kapan saja  Hari ini? Atau besok?  Hanya sabar menanti yg kubisa Tak tau diri harus kemana Kadang kala merasa bahwa semesta tak adil Tapi tersadar bahwa Allah Sang Maha Adil  Tak pernah terbayangkan Engkau yang selalu kuacuhkan Dirimu yang selalu tak nampak  Yang aku sepelekan   Semua menjadi nyata Ketika kehilangan sudah di depan mata  Hargailah dia yang masih ada  Selagi raganya m...

Membahagiakan Tuhan

Gambar
Hati ini acak-acakan Kala sering menolak ajakan Suka beralasan Agar bisa pelarian   Jangan kau merasa aman Karena telah berhasil melawan Bukan tentang urusan belakangan Namun semua ada balasan   Aku ingin berkawan Dengan kesamaan keyakinan Selalu berebutan Selalu salip-salipan Dan bergandengan Dalam beramal kebaikan Demi membahagiakan Tuhan   Saling membutuhkan Dan jadi cerminan Bukan menjadi sebuah cobaan Ayo membentuk kesatuan Demi kuat menghalau segala cobaan Semata-mata kerena ingin kelapangan Dalam mengadapi takdir Tuhan 

Jangan Aku

Gambar
  Tolong … Aku dirampas Sungguh tidak bisa bernapas Tolong … Kau tumpas Karena aku tak ingin diriku ini terlepas   Aku bukan sosok istimewa Namun aku tak ingin jadi terdakwa Tolong jangan tertawa Karena aku tengah kecewa   Tolong … Berdirilah dengan wibawa Bak seorang cakrabirawa Karena kita ini sedang berbelasungkawa  

Batu

Gambar
  Riuh air itu berdendang Ada ilalang yang siap bergoyang Tak lupa, ada daun-daun yang juga riang Tapi batu itu malang   Yang lain siap berenang Tapi batu itu hanya jago kandang Mereka bekata, jangan bilang-bilang Tapi batu memanglah otak udang   Dia bujang Sehari-hari menyimpang Sesekali suka membangkang Tapi dia rajin sembahyang

Antasari

Gambar
  Senandung riang, sambil menari Tatkala hati jatuh pada Antasari Tak terkira hati ini berseri-seri Terbayang perjumpaan esok hari   Rindu ini setajam duri Menusuk tepat didalam diri Hadir tanpa disadari Berharap Antasari segera menghampiri   Jemari Ayo kemari Aku tak akan berlari Karena hati ini sudah seperti Kalahari Maka kemarilah … tunjukkanlah jatidiri