Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Ilmu Adalah Cahaya

Gambar
Tak terasa berminggu-minggu sudah berjalan, dilewati dengan deru sesak kembang-kempis dada yang naik turun, sedang berusaha mengejar waktu agar tidak kalah dan menyisakan kekosongan absensi di tengah-tengah pacuan. Terkadang ide tak muncul, sulit untuk dikembangkan, lalu harus merelakan hutang satu hari demi memunculkan ide-ide kembali. Yang mana dalam sepekan sekali ada sedikit bantuan, yakni diberi tema untuk memunculkan ide. Lagaknya lumayan, ya. Kami yang tengah berjuang lolos diberi sedikit ide agar tak mati gaya. Walaupun nyatanya tema yang disuguhkan terkadang tidak tanggung-tanggung, yakni sungguh menguras otak dan menuntut emosi untuk turut andil. Tantangan pekan ini terkait dengan opini. Penulis di haruskan menulis opini sebuah cerpen. Pilihanku atas dua pilihan yang tersuguhkan jatuh kepada cerpen karya Achmad Ikhtiar dengan judul “Setelah Para Tetua Pergi.” Setelah sekian lama hanya berkutat dengan tulisan menye-menye, akhirnya pada tantangan pekan ini bertemu dengan ce...

Diri Sendiri Juga Penting

Gambar
“Kal au  mal a s, ya, e nggak u s ah sama dia. Ngomong s aja berteman nya udahan. Kasi h an kal au  dimanfaatin. Berteman  itu bukan gitu caranya. Lilyana aku akuin bodoh memang, tapi dia e nggak salah . ” Febi berkata dengan sedikit meninggi nada bicaranya, mulai emosi dengan tingkah Kayana. Febi melanjutkan, “ L upa? Kemarin s udah kamu ajak untuk t ongkrong samp ai larut mal a m, dengan dalih sahabat sejati harusnya berangkat bareng pulang bareng. Kal au  aku su dah biasa, bukan karena setuju dengan omongan itu, nah Lilyana? Dia masih polos, Na, be rbeda dengan  kita yang s udah bias a  pulang mal a m.” “Terus, kenapa nadamu tambah nge-gas  gitu? En ggak suka sama caraku? Lagian asik juga, Lilyana lumayan berada, bisa dimintain untuk bayar ini itu.” “ Fix , aku kecewa sama kamu. Berteman  yang sehat bukan begini caranya. Terserah besok mau ke kafe atau enggak, aku e nggak peduli, aku ingin  istirahat . ” Febi me mutus sepihak  p...

Diri Sendiri Juga Penting

Gambar
Angin berdesir mengibaskan rambut panjang Lilyana yang tengah tergerai. Dirinya sedang duduk termenung di tepian kolam ikan d epan  rumahnya. T idak  ada siapa   pun di sana, hanya dirinya. Terdengar nyaring cuit-cuit burung yang sesekali melintas di atas kepalanya. Dret-dret. Telepon genggam Lilyana bergetar pelan menandakan ada pesan masuk. Tangan nya  bergegas membuka dan membaca pesan tersebut. Lil, kamu bisa ke sini sekarang e nggak? Aku lagi di kafe dekat rumahmu nih. Ke sini ,  ya, aku tunggu. Love, Kayana. Sorotan mata Lilyana terlihat kosong. Seolah dia tidak mengetahui tentang dirinya sendiri. Rasanya  seperti diperbudak secara perlahan dengan dalih sahabat sejati. Lilyana  terlalu penurut dengan Kayana. Buktinya sekarang, Lilyana sedang take a break, setelah kemarin seharian di perintah-perintah  oleh Kayana, sekarang apalagi. “Lil, kamu mau ke mana, Nak?” Sebelum pergi Lilyana menyempatkan diri   masuk ke dalam rumah untuk...

Aku Pulang Bagian 2

Gambar
  “Agam, Mbak ini kenapa? En ggak  kamu apa-apain ,  kan?” tanya seorang petugas lain yang menyeru dari arah belakang tubuh lelaki bertubuh jangkung di depan Kirana. “Lagi ada masalah pribadi yang cukup rumit. Aku takut kalau perempuan ini nekat terus bunuh diri di rel seperti kasus yang sudah-sudah.” Lelaki bernama Agam itu melontarkan tatapan iba ke arah Kirana, yang sedari tadi masih mematung dan bingung dengan situasi yang ada. Para penumpang lain tidak memedulikan Kirana. Hanya tadi di awal-awal kedatangannya lalu bersikap acuh. Beruntung, hari ini stasiun tidak terlalu ramai sehingga tidak mengganggu laju orang-orang yang lalu-lalang di peron akibat posisi Kirana yang terduduk tepat di tengah-tengah jalanan peron. “Mbak, ayo pindah ke tempat yang lebih sepi. Malu, dilihat banyak orang. Atau mau saya panggilkan taksi saja?” ajak Agam, membujuk Kirana yang sedari tadi hanya membatu tepat setelah kalimat terakhir yang terlontar dari bibir tipisnya. K...

Aku Pulang Bagian 1

Gambar
Kaki Kirana terseret kasar menghantam dataran lantai berplester. Napasnya menderu, tergopoh-gopoh melongok satu per satu gerbong kereta yang siap melaju. Matanya menyapu setiap kursi penumpang dengan teliti melalui jendela-jendela kaca besar di luaran kereta pinggiran peron. “Dam, kamu di mana? Harusnya kamu sudah di sini,” ucapnya lirih di sela-sela isak buliran air bening yang mulai meluncur perlahan membasahi pipi tirusnya. Tetesan air itu jatuh, menimpa punggung tangan Kirana yang tengah menggenggam telepon genggam di depan dadanya. Sepintas kepalanya tertunduk, meneliti air apakah itu yang sudi hinggap di atas tangan kurus keringnya. Asin terasa di ujung bibir Kirana. Tangannya buru-buru meraih ujung jilbabnya yang terjulur, segera menyeka air itu kasar. “Kenapa harus nangis? Dasar lemah!” bentak Kirana, merutuki dirinya sendiri. Terlihat seorang petugas keluar dari posnya, menuju peron untuk mengecek lintasan. Sesaat kemudian edblek  berwarna hijau...