Diri Sendiri Juga Penting


Angin berdesir mengibaskan rambut panjang Lilyana yang tengah tergerai. Dirinya sedang duduk termenung di tepian kolam ikan depan rumahnya. Tidak ada siapa pun di sana, hanya dirinya. Terdengar nyaring cuit-cuit burung yang sesekali melintas di atas kepalanya.

Dret-dret. Telepon genggam Lilyana bergetar pelan menandakan ada pesan masuk. Tangannya bergegas membuka dan membaca pesan tersebut.

Lil, kamu bisa ke sini sekarang enggak? Aku lagi di kafe dekat rumahmu nih. Ke sini, ya, aku tunggu. Love, Kayana.

Sorotan mata Lilyana terlihat kosong. Seolah dia tidak mengetahui tentang dirinya sendiri. Rasanya seperti diperbudak secara perlahan dengan dalih sahabat sejati. Lilyana terlalu penurut dengan Kayana. Buktinya sekarang, Lilyana sedang take a break, setelah kemarin seharian diperintah-perintah oleh Kayana, sekarang apalagi.

“Lil, kamu mau ke mana, Nak?” Sebelum pergi Lilyana menyempatkan diri masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas selempangnya yang berada di kamar, lalu bergegas menuju kafe tempat Kayana berada. Namun, langkahnya harus terhenti oleh seorang wanita paruh baya yang muncul di ambang pintu kamarnya.

“Mau ke kafe depan, Ma. Lilyana pamit,” ucap Lilyana, tanpa menatap mata Rose sedikit pun.

“Kemarin kamu pulang larut malam hanya karena Kayana, sekarang mau main lagi sama Kayana? Dia bukan teman yang baik buat kamu, Nak.” Rose berusaha membujuk sang anak agar tetap di rumah. Rasanya khawatir sekaligus sedih melihat Lilyana yang kian hari kian dingin lantaran lebih peduli dengan temannya, Kayana.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Lilyana, balasannya hanya berupa deru mobil yang suaranya kian menjauh, tanda Lilyana sudah pergi dari rumah itu.

“Eh, Lilyana sudah datang. Sini-sini, duduk. Mau pesan apa? Lemon tea mau?”

“Apa saja deh, Na. Aku ikut. Di sini kamu sendirian? Febi di mana? Enggak ikut kumpul?” Seolah kata kumpul adalah kata wajib bagi Lilyana. Di mana dia harus datang menemui mereka agar dicap sebagai sahabat setia entah apa pun kondisinya. Namun, rasanya makna sahabat sejati bukan seperti itu.

Enggak usah banyak tanya deh, ya. Aku inginnya senang-senang di sini, bukan ngeladenin pertanyaan-pertanyaan enggak pentingmu.”

***

“Feb, bisa menemani aku ke kafe dekat rumah Lilyana enggak? Aku bosan di rumah, ingin tongkrong. Tapi enggak usah sama Lilyana,” ucap Kayana kepada seseorang di ujung sana melalui sambungan telepon selular.

“Duh, maaf banget deh, Na. Hari ini kan, weekend. Ini waktuku untuk kumpul sama keluarga. Jadi, enggak bisa main dulu. Kamu sama Lilyana saja, ya?”

“Hah, serius? Ke sini sebentar enggak bisa? Aku malas sama Lilyana. Dia mau-mau saja dimanfaatin terus-terusan. Malas banget, asli.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali