Aku Pulang Bagian 1
Kaki Kirana terseret kasar menghantam dataran lantai berplester. Napasnya menderu, tergopoh-gopoh melongok satu per satu gerbong kereta yang siap melaju. Matanya menyapu setiap kursi penumpang dengan teliti melalui jendela-jendela kaca besar di luaran kereta pinggiran peron.
“Dam, kamu di mana? Harusnya kamu sudah di sini,” ucapnya lirih di sela-sela isak buliran air bening yang mulai meluncur perlahan membasahi pipi tirusnya.
Tetesan air itu jatuh, menimpa punggung tangan Kirana yang tengah menggenggam telepon genggam di depan dadanya. Sepintas kepalanya tertunduk, meneliti air apakah itu yang sudi hinggap di atas tangan kurus keringnya. Asin terasa di ujung bibir Kirana. Tangannya buru-buru meraih ujung jilbabnya yang terjulur, segera menyeka air itu kasar.
“Kenapa harus nangis? Dasar lemah!” bentak Kirana, merutuki dirinya sendiri.
Terlihat seorang petugas keluar dari posnya, menuju peron untuk mengecek lintasan. Sesaat kemudian edblek berwarna hijau sudah diacungkannya ke arah masinis. Lintasan sudah aman dan kereta siap berangkat. Tanpa aba-aba lagi, kereta jurusan Yogyakarta–Surabaya mulai melaju dengan perlahan.
“Pak! Pak! Tunggu!” Kirana berteriak, melambai-lambaikan tangannya, memicu tatapan tajam para penumpang lain yang tengah duduk-duduk di sekitaran peron. Kirana berlari kecil, mencoba mengejar laju kereta itu. Namun, nihil. Tidak ada sahutan dari siapa pun, tidak ada yang memedulikan, menyisakan petugas kereta api yang bertugas memberi aba-aba belum juga beranjak dari tempat semula, masih memandang Kirana dengan tatapan iba.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya petugas itu, menghampiri Kirana yang kelelahan bersandar di tiang peron.
Ia menengok sekilas, “Teman saya, Mas. Dia kayaknya tertinggal kereta. Saya berniat memberi salam perpisahan. Tapi, teman saya tidak hadir rupanya.”
Kirana hanya menjawab datar. Rasanya sungguh menyesakkan. Kirana rela bolos kelas manajemen bisnis hanya karena ingin kemari menjumpai Damar, teman satu kelasnya yang di semester ini memutuskan untuk ambil cuti dan kembali pulang ke Surabaya, kota asalnya. Jarak yang ditempuh Kirana memang hanya tiga puluh menit, rumahnya di sekitaran Pasar Pakem, tetapi seolah kepercayaannya dihancurkan dan itu yang membuatnya sungguh sesak.
Damar seorang laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dari Kirana. Damar seorang mahasiswa pertengahan semester, yang entah apa alasannya bisa terperosok ke universitas Kirana. Dengan tampang tak serius belajar, hanya cengengesan, menggoda perempuan sana-sini, apa yang bisa dibanggakan dari sosok Damar? batin Kirana.
“Mbak! Jangan bengong, nanti kesurupan! Mungkin lebih baik pulang saja jika sudah tidak ada urusan lain.”
Sudi sekali petugas itu memperhatikan Kirana, menyempatkan berhenti dan menasihati anak bau kencur itu untuk segera pergi. Padahal, dirinya tidak tahu apa-apa tentang Kirana, dan seenaknya harus memutus harapannya.
“Saya tidak tau siapa teman, Mbak. Tapi, yang pasti semua penumpang di jurusan ini sudah datang dan masuk ke gerbong masing-masing. Mungkin termasuk teman yang, Mbak, maksud tadi,” jelas petugas itu tanpa dosa.
Kirana secara spontan membuka mulutnya, menunjukkan tatapan tidak percaya. Telepon genggam yang sedari tadi digenggamnya terlempar jatuh menghantam punggung kakinya.
“Mas, enggak bercanda, kan?” tanya Kirana dengan nada meninggi.
“Saya dari tadi mondar-mandir mencari teman saya. Rupanya dia bersembunyi, begitu menurut, Mas?”
“Dia sudah janji mau nikahin saya! Dia memberi jaminan bahwa akan menemui saya di hari ini sebelum kepulangannya ke Surabaya. Demi memberi cincin tunangan itu kepada saya. Tapi, menurut, Mas dia melarikan diri, begitu!”
“Mbak-Mbak! Tunggu dulu, jangan histeris di─” Ucapan petugas muda itu terpotong dengan teriak histeris Kirana.
Tangan Kirana mengguncang-guncang tangan lelaki di depannya itu dengan keras, menyalurkan segala kesakitan hatinya yang tak berujung. Tangisnya pecah, kakinya lemas terduduk di lantai peron dengan busana yang berantakan ke sana kemari.
“Saya sudah merencanakan pernikahan kita nanti akan seperti apa. Sudah menghitung biaya dan mempersiapkan semuanya. Bahkan saya sudah memberinya uang yang tak sedikit untuk membantu Damar mempersiapkan ini semua,” tukas Kirana lirih. Suaranya sudah habis tertelan kepedihan yang merenggut batinnya.
Komentar
Posting Komentar