Diri Sendiri Juga Penting
“Kalau malas, ya, enggak usah sama dia. Ngomong saja bertemannya udahan. Kasihan kalau dimanfaatin. Berteman itu bukan gitu caranya. Lilyana aku akuin bodoh memang, tapi dia enggak salah.” Febi berkata dengan sedikit meninggi nada bicaranya, mulai emosi dengan tingkah Kayana.
Febi melanjutkan, “Lupa? Kemarin sudah kamu ajak untuk tongkrong sampai larut malam, dengan dalih sahabat sejati harusnya berangkat bareng pulang bareng. Kalau aku sudah biasa, bukan karena setuju dengan omongan itu, nah Lilyana? Dia masih polos, Na, berbeda dengan kita yang sudah biasa pulang malam.”
“Terus, kenapa nadamu tambah nge-gas gitu? Enggak suka sama caraku? Lagian asik juga, Lilyana lumayan berada, bisa dimintain untuk bayar ini itu.”
“Fix, aku kecewa sama kamu. Berteman yang sehat bukan begini caranya. Terserah besok mau ke kafe atau enggak, aku enggak peduli, aku ingin istirahat.” Febi memutus sepihak pembicaraanya dengan Kayana. Rasanya dia terlalu muak.
Mungkin bukan hanya Lilyana yang merasa bodoh karena dimanfaatkan oleh teman palsu. Mungkin di luar sana banyak Lilyana-Lilyana lainnya. Yang lebih memilih mengikuti setiap perkataan ‘temannya’ dibanding kata hatinya sendiri. Menjadi teman baik tidak harus menuruti segala permintaan dan perintah. Bahwa setiap diri pun memiliki hak masing-masing untuk sejauh mana bisa mengikuti tuntutan teman, bukan terpedaya dengan mereka. Dan seharusnya berani menolak apabila itu sudah berlebihan.
***
Grekk. Suara pintu terbuka, terdengar dari meja Lilyana dan Kayana. Seorang wanita muda sebaya dengan Lilyana memasuki kafe itu dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.
“Lah, itu ada Febi, Na?” Lilyana mengalihkan pembicaraannya tadi dengan Kayana dan menunjuk arah orang yang datang dengan telunjuknya. Dia terlalu girang karena ternyata geng-nya lengkap.
Febi datang? Kenapa? Batin Kayana.
“Lil, pulang yuk, aku mau ikut ke rumahmu,” ucap Febi tanpa berbasa-basi.
“Aku pikir kamu mau gabung sama kita, Feb?” Dengan polosnya Lilyana bertanya demikian.
“Apaan kamu, Feb, datang-datang langsung ajak Lilyana pergi? Mending enggak usah ke sini sekalian deh,” sarkas Kayana. Nadanya sudah meninggi.
“Enggak usah larang-larang kita, Na. Kita bukan budak yang seenaknya bisa diperintah-perintah. Aku sudah kesal dengan sikapmu yang keterlaluan, dan aku ingin menyelamatkan Lilyana dari kamu.”
“Menyelamatkan?” Dengan tatapan bingungnya, Lilyana tidak tahu ada apa sebenarnya. Baru kali ini suasana berubah menjadi tegang dan mereka berseteru.
“Iya, Lil. Kayana ini jahat, dia hanya ingin manfaatin kamu. Dia hanya ingin harta kamu, makanya setiap tongkrong kamu selalu diajak untuk membayari dan antar jemput dia. Bukan dengan dalih teman sejati,” jelas Febi.
“Yuk, pulang saja. Mama kamu sudah nungguin di rumah, papa kamu juga sudah pulang. Mereka katanya rindu sama putri kecilnya, berbulan-bulan pergi menjauh enggak menghiraukan mereka. Tentu saja sebabnya karena Kayana!” Febi mulai geram dan menghentakkan meja. Matanya tajam menatap Kayana.
“Sudah, sana kalian berdua pergi! Aku enggak butuh sama kalian! Pasti aku bisa dapetin teman yang lebih baik, dan pastinya lebih bodoh supaya bisa aku manfaatin,” tukas Kayana mengakhiri pembicaraan itu. Ditambah dengan senyum jahat yang mengembang diwajah liciknya.
***
“Lil, kamu harus lebih sayang sama diri kamu sendiri. Peka sama diri sendiri. Jangan mudah, ya, untuk dimanfaatin teman seperti itu lagi. Hidup kita terlalu berharga jika hanya untuk menuruti keinginan teman yang enggak logis seperti Kayana.”
Mencintai diri sendiri itu penting. Sebagai benteng utama supaya kita berhati-hati dengan segala ancaman dari luar diri. Ada batasan-batasan tidak kasat mata yang harus dijaga dan dipenuhi. Semata-mata agar mental tetap waras.
Dalih pertemanan selamanya tidak bisa disalahkan, tapi teman yang baik tidak memperlakukan teman dengan cara yang tidak manusiawi. Karena ada sisi-sisi pribadi seseorang yang juga harus diperhatikan, bahwa yang utama adalah kebahagiaan diri sendiri. Dengan tidak bersifat egois maupun arogan.
Komentar
Posting Komentar