Ternyata Hanya Bapakku
Deras air mata membanjiri relung hatiku
Tak terkira perihnya tangis malam ini
Sendu-sendu kicau burung hantu ada untuk menemani
Angin malam pun semerbak ikut mengiringi
Tanganmu yang sekokoh baja itu sudah tak bisa kugenggam lagi
Aroma hutan pinus dari rambut manismu sudah tak bisa kuindra
Hangat mengenggelamkan
Kini hanya ada beku es di tanganku
Kuterduduk bergeming
Memandang lautan luas sajauh indraku meraba
Harap-harap topi emasmu munculmu dari kejauhan
Membawa senyum mengembang nan membahagiakan
Ah, bodoh
Halusinasiku kembali menyeruak
Kupikir kumendengar suaramu
Mengusik ketenanagan ramaiku
Menyalak mengetuk indraku
Menyambut langkah kaki masuk ke ruang semediku
“Eh, bapak. Kenapa, Pak?”
Kupikir wajah bodohmu yang akan muncul di ambang pintu itu.
Ternyata hanya bapakku
Komentar
Posting Komentar