Halangan Tak Berarti Apapun




Tubuh kecilnya duduk termenung di pojok ruang sambil menatap lurus ke luar jendela. Hari ini suasananya sangat sendu. Di luar gelap. Sebenarnya bukan suatu hal yang patut ditonton sebagai hiburan. Tapi sepertinya itulah kesenangan Resha akhir-akhir ini. Bahkan sepanjang hari ia habiskan hanya untuk duduk di pojok ruang itu.

Sang kakak, Hanisha, selalu menilik kondisi Resha. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah maupun sore ketika pulang. Tak lupa, ia pun sering memantau sang adik melalui CCTV yang connect dengan handphonenya. Ternyata yang sendu bukan Resha saja. Melainkan sang kakak pun ikut sendu dengan kondisi sang adik.

Resha anak yang periang dan ceria. Selalu mewarnai suasana, ribut sana-sini, bila tidak ada ia maka keadaan sangat sunyi. Sang kakak cukup pendiam dan bertolak belakang sekali dengan Resha. Maka keberadaan Resha sangat terasa bagi sang kakak. Dialah satu-satunya adik yang selalu menghibur di kala sang kakak terpuruk. Namun sekarang berbeda. Resha lah yang sedang membutuhkan banyak dukungan. Hanisha harus keluar dari zona nyaman, dan menunjukkan bukti kasih sayangnya kepada sang adik. Dan memaksa ia harus show up demi mengembalikan tawa riang sang adik.

●   ●   ●

Hanisha mengetuk pintu kamar Resha. “Resha, buka pintunya dong. Kakak mau masuk nih, ada sesuatu yang kakak bawa buat kamu,” dengan sedikit ragu-ragu akhirnya Hanisha memberanikan diri untuk menyapa adiknya. Suaranya pelan sekali, lembut, takut adiknya terganggu.

“Jangan hari ini, Kak. Resha masih pengen sendiri.” Tukasnya. Singkat padat dan jelas. Tanpa basa basi Resha berucap demikian. Sontak membuat sang kakak kecewa dan sedih.

“Kamu jangan lupa makan ya. Itu ibu udah buatin makanan kesukaan kamu di bawah. Ayo turun, kita makan sama-sama,” ajak sang kakak. Sekali lagi ini adalah upaya untuk membujuk sang adik.

“Kakak aja yang makan. Resha nanti.”

“Setidaknya buka pintu kamarnya dong. Kakak kangen, pengen peluk kamu,” usahanya sekali lagi.

“Kakak pergi aja! Resha nggak mau ketemu siapa-siapa!”

Hanisha salah apa hingga adiknya membentak seperti ini. Hanisha hanya ingin bertemu dan memberikan barang yang selama ini Resah ingin, sebuah baju renang baru untuk kejuaraan nanti.

Sang kakak masih terdiam di depan pintu. Bersender, bahkan lama-lama tubuhnya merosot ke bawah, dan terduduk sambil memegang lutut. Matanya mulai memerah.

‘Kakak cuma pengen kasih kamu ini,’ ucap lirih Hanisha ditengah isak tangisnya yang tanpa suara itu.

Ia berusaha menyeka air matanya sebisanya. Berharap riasannya tidak hancur. Perlahan ia bangkit dan kembali memeluk baju itu. Berlalu meninggalkan kamar Resha. Dengan langkah gontai. Semoga sang ibu tidak mendengar bentakan sang adik dan tidak melihat sisa air mata Hanisha.

●   ●   ●

Hanisha dan Resha memanglah berbeda. Seperti bumi dan langit. Hanisha seorang kakak yang lemah lembut, perasa, mudah tersinggung karena kelembutan hatinya, dan seseorang yang sangat menghindari olahraga. Berbeda dengan Resha, ia seorang adik yang tegas, keras kepala, suka semaunnya namun, dia seorang anak yang periang dan gila olahraga.

Resha sejak kecil sudah terlihat bakat olahraganya. Apapun yang ayahnya tunjukkan, dengan cepat tanggap Resha ikuti dan ia imbangi permainan sang ayah walaupun kala itu usianya masih sangat kecil, 6 tahun. Dari sekian banyak olahraga yang ayahnya ajarkan, Resha sangat tertarik dengan olahraga berenang. Tiada pekan yang terlewat tanpa pergi ke sebuah kolam renang bahkan dua atau tiga hari dalam sepekan.

Dan inilah titik awal bagaimana Resha bisa seperti sekarang. Resha seorang atlet muda perempuan berusia 12 tahun. Yang sudah melanglangbuana hingga luar kota dan menjuarai banyak kejuaraan. Antar club, antar kota hingga nasional sudah ia juarai. Namun, satu harapannya, ia ingin mengikuti kejuaraan Sea Games tahun ini untuk mewakili negaranya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali