Aku Tetap Menunggu
Aku hanya menganggap ia sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Aku hanya ingin berteman, karena aku belum siap untuk patah hati. Terlebih tidak ada kata pacaran dalam kamusku. Aku takut bila terlontar kata-kata itu dari dirinya “Akun ingin kita lebih dari sekedar sahabat.”
Selalu terngiang-ngiang di benak, namun semoga saja tidak pernah terlontar dari mulutnya dan hanya menjadi kalimat lalu dikepalaku. Aku takut untuk kelihangan, dia sahabat terbaikku.
_____________
Sudah beberapa hari aku menjaga jarak dengan Andrea, aku tidak ingin dia semakin dekat dan intens terhadapku. Sungguh aku tidak membayangkan tentang hal-hal yang berkelebat di bayanganku. Dan ternyata benar saja.
“Besok kita lihat sunset, ya. Jangan lupa untuk berdandan cantik. Sudah lama kita tidak melihat sunset bersama.” Tiba-tiba Andrea melintas di depan rumahku. Sepertinya baru saja kembali dari menangkap ikan. Terlihat tangannya penuh dengan ikan-ikan. Pun dengan wajah tak berdosa ia berani-beraninya menyelonong masuk ke pekarangan rumahku dan melontarkan pernyataan itu. Dan tentu saja, aku hanya diam.
_____________
Aku berjalan dengan langkah gontai. Seperti tidak bernyawa, sungguh semoga tebakan dalam hatiku salah. Aku berangkat dengan berat hati. Semata-mata tak ingin mendengar kalimat-kalimat itu dari mulutnya, namun dia adalah sahabatku maka kupaksakan diri untuk terus melangkah. Tidak dengan pakaian bagus, tidak dengan riasan cantik.
“Andrea, aku sudah di sini. Ingin berbicara apa?”
“Marilah kita menunggu sunset dahulu. Jangan buru-buru. Kau kan yang paling suka sunset, apalagi melihatnya dari sini. Ayo kemari.” Bertele-tele sekali perkataannya, batinku. Sungguh tidak seperti biasanya. Benar-benar di luar ekspetasi. Orang yang selama ini terkenal menyebalkan ternyata bisa seberlebihan ini dalam berkata-kata. Tak kuasa aku mendengarnya.
“Kau diam saja sedari tadi. Ada yang salah? Berbicaralah.”
“Kau ingin berbicara apa?”
“Begitukah cara kau berbicara dengan sahabat karibmu? Santai sejenak, tidak usah buru-buru.”
“Sahabat macam apa kau ini. Selama ini bermain-bermain dengan perasaanku, lantas sekarang hendak berpura-pura baik. Belum puaskah selama ini sudah menjadi orang yang sangat menyebalkan? Apalagi sekarang!”
“Perhatianku selama ini hanya kau anggap pura-pura saja? Apa kau tidak bisa membaca sinyal perasaan itu?”
“Aku tidak peduli dengan sinyal itu. Hanya kau yang merasa, aku tidak. Apa peduliku. Aku hanya ingin kita berteman tidak lebih. Tidak dengan perasaan-perasaan itu!”
“Aku belum berkata apapun tentang perasaanku, dan kau sudah berteriak? Semurah itukah diriku di depan matamu? Setidak pantaskah itu aku untuk dirimu? Apa salah bila aku ingin menyampaikan perasaanku?”
“Bukan, bukan maksud─”
“Sudahlah. Terima kasih sudah memenuhi undanganku. Tidak perlu lagi kulanjutkan.”
“Andrea!”
Tidak ada respon apapun. Ia berlalu meninggalkanku sendirian dengan segala kebingungan yang ada. Mungkin aku salah, karena terus mencerca serta tidak memberi dia kesempatan untuk berbicara. Aku hanya takut, bila ia akan menyakiti pula seperti yang sudah-sudah. _____________
Hari pun berlalu. Perang dingin di antara aku dan Andrea semakin menjadi-jadi. Aku merasa bersalah. Dan aku harus menemui Andrea untuk meminta maaf. Selama ini hanya dialah satu-satunya sahabat yang selalu ada untukku, dan tidak adil rasanya bila aku menghakimi dia begitu saja.
“Kemana saja? Selama ini menghilang. Habis ditelan bumi?”
“Apa urusannya dengan kau. Dan kenapa kemari? Bukankah kita sudah selesai?”
“Kita masih bersahabat, ingat?”
“Itu dahulu. Sekarang tidak.”
“Bagaimana bisa?!”
…
“Lalu tentang perasaanmu itu?”
“Tak usahlah kau pedulikan. Itu bukan apa-apa.”
“Aku berhak tahu. Aku ini sahabatmu.”
“Kau memang sahabatku, sekaligus cinta pertamaku. Tapi kini sia-sia. Tunggulah aku pada bulan purnama besok. Mengenai kejelasan tentang semua ini. Akan kusampaikan sejelas-jelasnya. Tunggulah di tepian pantai itu. Aku pergi.”
Perjumpaan singkat yang tidak ada titik terang di antara kami. Dia berlalu begitu saja. Dengan kalimat terakhir yang tidak bisa kucerna. Baiklah, kita lihat nanti. Benarkah ada titik terang itu.
___________
Dan sinilah aku. Berakhir menuggu Andrea di tepian pantai. Dengan perasaan cemas tak berkesudahan. Berharap ia segera hadir kembali dan memberi kejelasan. Sungguh sesak hati ini menahan rindu. Masa-masa penuh kenangan terus terngiang-ngiang. Kejadian demi kejadian masih teringat jelas di benakku. Tentang pertengkaran itu, tentang pujian manis itu, tentang melihat sunset bersama, dan semuanya.
Ini sudah bulan purnama ke-tiga yang aku lalui tanpa Andrea. Aku masih terus setia menunggu. Lagi-lagi berharap semoga dia segera kembali. Karena aku tidak kuasa bila harus menahan perasaan ini lebih lama lagi. Ternyata dia pun cinta pertamaku. Terlambat kumenyadari. Berharap perasaan ini akan terbalas. Walaupun aku tak tau kapan Andrea akan kembali. Aku ingin segera mengulang kenangan-kenangan itu.
Komentar
Posting Komentar