Aku Tetap Menunggu
Aku di sini, duduk temenung di tepi pantai. Menatap kejauhan. Berharap kamu akan muncul dari bayang-bayang ombak itu. Hati ini kelu. Terlalu lelah untuk memendam rindu. Lelah untuk berkeluh kesah bersama air mata yang kian menderu. Aku tetap setia menunggu kedatanganmu. “Tunggu aku di sini, bulan purnama nanti aku akan kembali.” Kalimat terakhir yang aku ingat, seutas kalimat ringan penuh makna yang membuatku hingga kini bertahan menunggu.
_____________
“Anastasia, kemarilah .…” Seseorang berteriak dari arah belakang. Kala itu aku tengah sibuk menyiapkan makan malam kami.
“Ada sesuatu yang menarik?”
“Kemarilah, kita lihat sunset. Sebentar lagi matahari tenggelam.”
Kelihatannya aku terlalu sibuk memasak. Hingga lupa bahwa sebentar lagi matahari tenggelam. Andrea pun harus berteriak memanggilku. Melihat sunset memang kegemaran kami. Sungguh suatu hal yang tidak ingin kami lewatkan disetiap sela-sela waktu makan malam yang sesekali kami lakukan bersama di tepian pantai.
“Hari ini kau sangat cantik.”
Aku hanya tertunduk malu di sampingnya. Kalimat pujian itu terlontar untuk pertama kalinya. Sungguh, baru kali ini Andrea memujiku.
Kami berteman sejak kanak-kanak. Rumah kami cukup berdekatan namun butuh waktu yang lumayan lama untuk mencapai rumah Andrea. Sedari dulu kami selalu bersama. Menuju sekolah, bermain air di tepi pantai, berburu ikan, hingga sekedar melihat sunset. Ia sosok yang menyebalkan. Selalu saja membuatku sebal. Aku teringat kala itu Andrea pernah membuatku sangat marah.
“Hei, lihat! Dibawahmu ada ular laut! Menyingkirlah!”
Ditengah kami yang sedang serius berburu ikan, Andrea tiba-tiba berceletuk seperti itu. Fokusku terganggu, aku limbung karena lonjakan diriku yang kaget dengan teriakan Andrea di seberang sana. Itu sungguh bukan hal yang waras. Dan tau apa yang terjadi? Dia menipuku.
“Mana ada ular? Lihat! Gara-gara tingkahmu, ikan-ikanku jatuh!”
“Tadi ada ular. Mungkin sudah pergi karena terlalu sakit telinganya mendengar teriakan kencangmu.”
“Kau mengada-ngada. Tanggung jawab!”
“Itu jatuh karena kau yang tidak erat-erat memegang. Bukan aku. Carilah lagi.”
“Bagaimana bisa? Hari sudah kian gelap!”
“Ya sudah, berarti kau pulang saja, tak usah merengek di sini. Besok masih bisa mencari lagi.”
“Aku yang merengek? Itu gara-gara kau! Besok pun aku tak bisa untuk menangkap ikan.”
“Lantas bagaimana? Nasi sudah menjadi bubur. Kubilang, kau pulang sajalah. Ikan-ikan itu sudah kabur. Mana sempat untuk mencari lagi.”
Kubanting wadah ikan itu sambil berlalu meninggalkan Andrea. Dengan wajah polos diiringi dengan cekikikan ia tidak merasa bersalah sedikitpun. Tidak meminta maaf apalagi mengganti ikan-ikanku.
Memang kebiasaan kami sebagai anak pesisir. Terkadang diberi tugas oleh orang tua untuk mencari ikan. Jika tangkapan itu banyak, maka bisa dijual ke pasar, jika sedikit maka untuk santapam makan malam. Namun kali ini tidak keduanya karena ulah Andrea. Sungguh keterlaluan.
Begitulah Andrea. Lebih banyak sikap menyebalkannya daripada sikap baiknya. Tidak ada perasaan di antara kami. Tidak ada degup-degup istimewa di hati kami. Pun tidak ada canggung di tengah momen-momen konyol di antara kami. Dia memanglah sahabatku, dan akan selamanya seperti itu. Kataku kala itu.
_____________
Hari-hari pun berlalu. Tetap menuju sekolah bersama, bermain bersama, bahkan tetap berburu ikan bersama. Seolah tidak pernah terjadi hal yang menyebalkan itu. Namun ada yang berubah pada Andrea.
Entah bagaimana, ia lebih pendiam tidak sebawel waktu itu. Lebih banyak mendengarkan daripada asal nyelonong ketika berbicara. Lebih banyak senyum daripada jutek. Pertanda baikkah atau justru buruk? Sehari-hari diisi dengan adegan bertengkar, kini ia berubah drastis. Adakah yang salah dengan dirinya?
Komentar
Posting Komentar