Hijabmu Untuk Siapa?

  



Seperti halnya beribadah, memakai hijab juga dikatakan sebagai salah satu melaksanakan ibadah. Karena kewajiban berhijab atau menutup aurat berbarengan dengan turunnya perintah malaksanakan sholat maupun amaliah lainnya.

Pertanyaan mendasarku, kalian berhijab untuk siapa?

Apa yang mendasari hingga pada akhirnya memutuskan berhijab? Keterpaksaan belaka kah, karena masuk di sekolah yang wajib menggunakan hijab? Atau suruhan orang tua? Atau mungkin suruhan suami? 

Kayaknya sekarang ini, perintah memakai hijab malah datangnya darimana-mana. Bukan karena mematuhi perintah Allah, hingga yang nampak perempuan-perempuan modern memakai hijab, tapi auratnya masih kemana-mana. Ironi sekali bukan?

Aku mengatakan demikian, karena aku pun masih seperti itu.

Mamakai hijab yang sejatinya untuk mentup aurat, malah entah, makna itu hilang kemana. Memakai hijab tapi tetap “mempercantik diri.” Memakai hijab tapi tetap berharap bisa dipandang laki-laki dan “minta” digoda. Memakai hijab tapi dengan niat pengen cantik.

Padahal dikatakan, bahwa berhijab untuk menutup aurat. Adalah semua hal-hal yang seharusnya tidak dilihat oleh yang bukan mahrom. Termasuk kencantikan diri. Terus, bila berhijab niatnya ingin dipandang “cantik,” esensi dari memakai hijab itu sendiri bagaimana, dong?

Analogi kasarnya seperti itu.

Karena melihat realitas yang ada, hijab memang dipakai untuk fashion. Berlomba-lomba padu-padan baju supaya keliatan cantik. Entah baju itu dipandang baik atau tidak menurut syariat,  mereka tidak peduli. Sedih, ya?

Tapi setidaknya mereka yang seperti itu sudah mengusahakan memakai hijab. Perihal lain-lainnya, memang tidak bisa disandingkan. Pantas atau tidaknya seseorang hanya Tuhan yang bisa menilai.

Bila hanya orang yang berhati baik, berperilaku bak malaikat yang pantas memakai hijab, maka niscaya tidak akan ada perempuan yang memakai hijab. Kewajiban memakai hijab tidak bisa disandingkan dengan alasan, “Aku masih suka berkata kasar, aku suka main ke club, aku pacaran,” karena kewajiban, ya kewajiban. Mau bagaimana kondisinya, seorang perempuan muslim haruslah berhijab dan menutup aurat.

Sedang perihal perilaku yang tidak pantas, bisa membaik seiring konsistensinya memakai hijab. Karena hijab, sejatinya menjauhnya seseorang daripada perbuatan keji dan munkar.

“Ah, masa mau berhijab. Malu dong, aku masih suka keluar malam, main sama laki-laki, berduaan.”

 Betul, justru itu. Dengan hijabmu, kamu merasa malu. Akhirnya dijauhkan dari perbuatan yang tidak-tidak. Yakan?

Jadi berhijab jangan nunggu baik dulu.

 

- - -

Di sini, sebenarnya hal yang ingin aku garisbawahi bukan tentang “Ayo memakai hijab.” Tapi lebih kepada, kamu memakai hijab untuk siapa, sih?

Sebuah pertanyaan untuk kamu yang masih suka sungkan, mikir komentar orang lain, tentang hijab dan kerudung lebarmu itu.

Untuk kamu, yang memilih mengikuti trend, hijab dililit ke leher, dibentuk-bentuk sedemikian rupa, tidak menutup dada, yang hanya agar dipandang “normal” oleh orang lain.

Pernah menempatkan diri di posisi itu? Aku pernah. Dan itu sebagai latar belakang kenapa akhirnya aku menulis ini.

Rasa-rasanya tuh, semakin ke sini godaan seorang muslimah banyak, ya. Apalagi era digital mempermudah akses untuk melihat aktivitas orang lain, terutama gaya pakaian mereka. Yang mana bila dikonsumsi setiap hari, mau tidak mau akhirnya terpengaruh juga.

“Haduh, si A stylish banget. Cantik banget pake baju yang begitu. Aku pengen juga.”

Bahaya bukan, hanya karena konsumsi media, apa yang menjadi pegangan bisa runtuh. Tentang kamu, yang memutuskan berhijab dan berkerudung syari. Tentang kamu, yang mengutamakan keserderhaan daripada mengikuti gemerlap dunia. Tentang kamu, yang sudah merasa sangat bahagia hanya karena menuruti mau Tuhanmu.

Rentanya diri oleh pengaruh hawa nafsu bisa menjadi penyebab turunnya kualitas diri di hadapan Tuhan. Apakah sampai hati, menggadai kebahagiaan hakikimu, hanya untuk memuaskan dunia yang fana?

Dengan hati yang sadar, dan niat yang diperbaharui. Jadi, berhijabmu untuk siapa?

 

- - -

Mungkin kalian yang baca ini akan bingung, dengan kata Hijab dan Kerudung yang aku sebut berurutan. Iya. Dua  kata itu memiliki makna yang berbeda. Bahasan mengenai arti kata dua hal di atas, tidak akan aku bahas di sini.

Dan tulisanku di atas, buah keresahanku, datang setelah membaca ulang buku karya Ustadz Felix Siauw, “Yuk, Berhijab!” 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

8 Rekomendasi Buku Yang di Baca Pevita Pearce