Resensi Buku Non Fiksi |Mimpi Bertemu Nabi Oleh Juman Rofarif

Front Cover

Identitas Buku

Judul : Mimpi Bertemu Nabi  
Penulis : Juman Rofarif
Penerbit : Zaman
Cetakan Pertama, 2014
Editor : Siti Qomariyah
Desainer : IGrafix
ISBN : 978-602-1687-29-1
Kategori : Non Fiksi, Ilmu Pengetahuan, Religi
Harga P. Jawa : Rp 39.000,-


Back Cover 


Blurb

Bertemu Nabi dalam mimpi merupakan kepenasaran, harapan, dan kebahagiaan besar bagi kebanyakan kaum muslim. Ada yang menjadikannya sebagai titik balik kehidupan, bahkan menganggapnya sebagai ukuran derajat spiritual. Namun, jika ada orang yang mengaku mimpi bertemu Nabi, Ibnu Abbas dan Ibn Sirin akan meminta orang itu menjelaskan ciri-ciri sosok tesebut. Jika tidak sesuai dengan ciri-ciri Nabi, dua orang dari generasi sahabat dan tabiin itu akan mengatakan, “Kau tidak melihat Rasulullah”. Itu hanya mimpi biasa dan sosok tersebut bukan siapa-siapa.

Mengapa Ibnu Abbas dan Ibn Sirin bersikap demikian? Apakah mereka tidak membenarkan pernyataan Nabi sendiri yang menyatakan bahwa orang yang melihatnya dalam mimpi sesungguhnya benar-benar melihat sosok Nabi?

Buku ini juga memaparkan sisi-sisi manusiawi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam yang menyuburkan kerinduan kita kepada Sang Junjungan: Pada kejadian apa Nabi  menangis? Apa yang Nabi lakukan untuk menghalau kesedihan? Doa seperti apakah yang Nabi panjatkan untuk menepis kegalauan? Nabi pernah dua kali keliru hingga dua kali pula ditegur Allah. Kekeliruan apakah itu? Ada tiga dimensi dalam islam yang dalam hadits Nabi disebut secara urut: Iman, Islam, Ihsan. Apa makna pengurutan itu?

Kisah-kisah sarat hikmah tentang para sahabat Nabi dan orang-orang sholeh melengkapi karya berharga ini.

Ibarat camilan, mimpi bertemu Nabi asyik dinikmati untuk mengisi waktu senggang. Tapi ini camilan sehat: kisah dan hikmahnya tak hanya nikmat, tapi juga sarat gizi.


 𑁋♡𑁋♡𑁋♡𑁋


Jika ditanya tentang first impersion mengenai buku ini, aku bisa mengatakan bahwa buku ini cukup menarik. Banyak disajikan kisah-kisah inspiratif dari sosok Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam, para sahabat dan orang-orang shaleh. Yang tentu saja, akan banyak pelajaran yang bisa kita petik. Disamping cover yang sangat mencerminkan isi buku, ketika membaca bab awal buku ini pun, aku dibuat tersentuh. Disini penulis langsung menyajikan hal haru, sesuatu yang sebetulnya tidak diharapkan muncul di awal-awal buku. 

Tapi sangat diluar dugaan. Hal semacam ini justru dimunculkan di awal buku. Namun tak mengapa, setidaknya membuat kita kembali bernostalgia dengan sosok Nabi dan kembali memenuhi ruang hati dengan kerinduan akan sosok beliau. Aku fikir isinya akan berupa hal-hal yang serupa. Tapi ternyata tidak. Dan memang betul saja, di bab ke dua, sudah disambut dengan kisah yang membuat senyum-senyum sendiri. Karena hati yang tersentuh dengan kisah Nabi. Kisah yang menceritakan tentang sosok Nabi. Kerinduanpun semakin sering bergelora.

Seperti yang aku katakana diatas, di awal bab aku  dibuat tersentuh dengan kisah yang disajikan. Di bab pertama ini, penulis menyajikan kisah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam yang tengah menangis. Seperti tidak asing ya dengan kisah di bab awal ini. Dan memang betul, ini adalah kisah yang penulis sudah sampaikan di sinopsis buku. Dan ternyata kisah itu muncul di awal bab.

Kisah ini bermula dengan datangnya kebahagiaan Rasulullah menyambut kelahiran anak laki-laki beliau bernama Ibrahim dari istri beliau yang bernama Mariah al-Mishriyyah. Beliau terlihat sangat bahagia, ditandai dengan peristiwa bahwa Rasulullah hingga ‘memamerkan’ kebahagiaan tersebut kepada istri beliau yang lain yakni Aisyah. Teman-teman sudah tau, bahwa Aisyah adalah istri Rasulullah yang paling pencemburu. Dan di hadapan Rasulullah yang tengah  menyodorkan Ibrahim kepada Aisyah, Aisyah memalingkan muka dan acuh tak acuh. Karena cemburu.

Kebahagiaan sangat tampak, dari sikap Rasulullah yang demikian. Namun sayang, kebahagiaan Rasulullah tidak berlangsung lama. Karena di usia Ibrahim yang baru saja satu setengah tahun, ia meninggal. Dan inilah titik kesedihan Rasulullah. Hal ilnilah yang membuat Rasulullah menangis. Dapat dibayangkan, bagaimana hancurnya hati Rasulullah. Dan inilah, kisah yang menyambut kita di awal bab. Masih banyak emosi-emosi yang penulis ingin mainkan dengan hati para pembacanya. Namun cukup sekilas cuplikan peristiwa itu saja yang aku sampaikan. Untuk lebih detail, kalian bisa membaca sendiri di buku ini.

 Aku tidak dilarang bersedih. Yang dilarang adalah meratap berlebihan dengan suara kencang. Kesedihan dan air mata yang kalian lihat di wajahku adalah ungkapan cinta dan kasih sayang di hatiku 

Ini kisah yang cukup menguras emosi di awal-awal bab. Dan cukup untuk membuat kita menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ke bab selanjutnya. Berbahagialah kita, karena pada bab selanjutnya kita dihibur oleh kisah manis Rasulullah. Yang ditulis dengan sangat cantik oleh penulis.  Bagaimana tidak, karena yang dikisahkan adalah tentang ciri-ciri Rasulullah. Kita diberikan gambaran mengenai sosok Rasulullah dengan sangat detail. Pun dituliskan dengan gaya bahasa yang seolah sumringah. Membuat aku, sebagai pembaca ikut bahagia pula. Sangat bahagia. Membayangkan bagaimana sosok Rasulullah.

Kisah  ini, sempurna membuat kita semakin rindu, membayangkan begitu sempurnanya Rasulullah. Kali ini, kisahnya tidak akan aku ceritakan. Dan aku berikan kalian kesempatan untuk menemukan sendiri kisah ini di dalam buku. Dan rasakanlah bagaimana atmosfir rindu itu menyeruak ke dalam hati kalian. Aku hanya akan membagikan sedikit cuplikan quotes dari kisah ini. Semoga cukup untuk semakin membangkitkan rasa penasaran kalian.

 

Malam itu begitu cerah. Kulihat Rasulullah menyelimuti diri dengan jubah merah. Lalu, kulihat bulan. Menurutku, Rasulullah lebih menawan.
 

Cuplikan Daftar Isi

Sebelum lanjut ke pembahasan beikutnya, aku perlu menyampaikan dahulu, bahwa buku ini adalah buku kumpulan kisah-kisah. Yang terdiri dari empat tema besar, dengan masing-masing terdiri antara tujuh hingga lima belas sub bab. Tema itu antara lain Bersama Rasulullah, Bersama Para Sahabat, Bersama Orang-orang Shaleh dan Hikmah Yang Terserak. Jadi jangan pernah membayangkan bahwa ini adalah novel. Karena bagaimanapun ini adalah buku non fiksi namun dikemas dengan gaya ‘novel’.

Di cover buku tertera tag line “Menyimak Kisah dan Memetik Hikmah dari Rasulullah, Para Sahabat, dan Orang-orang Shaleh”. Dalam penilaian awal, tag line ini memang sesuai dengan tema besar yang dipaparkan penulis. Cukup jujur dan jelas dalam penyampaian isi melalui tag line di cover buku. Dan benar saja, buku ini memang hanya membahas tentang kisah-kisah. Namun, kisah-kisah yang diangkatpun beragam. Sangat menarik untuk dibaca dan dipetik hikmahnya.

Jangan risau. Jangan takut karena hanya menilai buku ini berisi kisah-kisah. Yang mungkin sebagian kalian parno dan berfikiran bahwa buku ini akan rumit dan membosankan. Tapi aku berani menjamin, dugaan kalian salah besar. Sebagai pembaca pemula yang ingin mencoba mendalami kisah-kisah Rasulullah, menurutku buku ini cocok untuk kalian.

Kisah-kisah yang dituliskan, semuanya menggunakan bahasa sehari-hari. Dengan penjelasan singkat namun jelas. Seolah penulis mengerti, bahwa para pembacanya adalah pemula. Sehingga penulisan ayat-ayat ataupun doa-doa, ditulis dan dijelaskan dengan sesingkat mungkin. Memudahkan kita untuk mencerna dan mengolah informasi. Tak seperti buku Sirah Nabawiyah yang super tebal, dengan halaman hingga lebih dari 500 halaman. Buku ini cukup dengan 262 halaman, namun sudah dapat diambil hikmah dan pelajarannya. Walaupun tidak dengan mempelajari kisah penuh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam.

Dari banyaknya kisah yang dituliskan oleh penulis, ada beberapa kisah yang menurutku sangat mengesankan. Walaupun sebenarnya, semua kisah yang dipaparkan pun adalah kisah-kisah yang luar biasa semua. Tapi cukup ada beberapa kisah yang mencuri perhatianku. Yang selalu membuatku terngiang-ngiang. Selain kisah Rasulullah menangis, ada lagi satu kisah yaitu Aisyah yang wirai.

Kisah ini bermula dengan datangnya Ibnu Abbas untuk menjenguk Aisyah, yang kala itu sedang dalam kondisi payah karena tua dan mendekati sekarat. Dikatakan bahwa Aisyah tidak mau dijenguk olehnya, tapi karena saudaranya terus membujuk maka akhirnya Aisyah mengiyakan. Aisyah khawatir bahwa Ibnu Abbas hanya akan mengumbar pujian. Dan ternyata benarlah kekhawatiran Aisyah. Dan terucaplah sebuah kalimat yang terlontar di tengah pujian Ibnu Abbas kepada Aisyah, yakni.

 

Aku lebih nyaman tanpa pujian ... Aku lebih senang untuk tak dikenang ... 
 

Cukup jelas ya, sedikit saja yang aku gambarkan dari kisah ini. Namun semoga kalian sudah paham akan apa yang akau tuliskan. Dan mengerti hal yang aku anggap menarik dari kisah ini. Sangat relevan bukan, dengan keadaan kita saat ini. Tapi sikap kita berbanding terbalik dengan kisah Aisyah. Karena tak jarang, orang zaman sekarang justru haus akan pujian. Dan seolah menunjukkan diri bahwa ia patut untuk dipuji. Sekilas kisah ini semoga membuat kita tersadar. Dan memulai untuk mempertimbangkan sikap selanjutnya. Dan yang pasti contohlah kisah Aisyah di atas.

Dari kisah yang aku sajikan diatas, semoga bisa diambil ibroh. Dan selain dari kisah-kisah yang aku tuliskan dari buku ini, masih banyak kisah-kisah lain yang tak kalah menarik. Dan yang pasti sangat patut untuk kita baca. Seperti yang penulis katakan, Bermimpi Bertemu Nabi adalah seperti camilan. Dan ini memanglah camilan. Jadi jangan lupa dicicip juga ya. Untuk kalian yang ingin memetik segala hikmah kehidupan dari kisah-kisah Rasulullah dan para sahabat. Tentunya dengan bahasa ringan dan mudah dimengerti.

                                                                 𑁋♡𑁋♡𑁋♡𑁋

Semoga ulasan ini bermanfaat untuk kalian.

Big Love💖

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali