Berorganisasi dan Bermental Kuat, Pentingkah?



Bagiku menulis itu menyenangkan bila dilakukan sesaat setelah “mendapatkan bahan”. Sebenarnya untuk ide ada sih, tapi merasa tidak mendapatkan feel ketika idenya terlanjur didiamkan terlalu lama. Sempat menulis mengenai topik yang cukup urgensi. Namun tak kunjung menyelesaikan karena feelnya sudah berkurang. Dan kebetulan hari ini, aku baru saja mendapat materi dari salah satu alumni Universitasku.

Dapat dikatakan ini sebagai catatan pribadiku mengenai materi yang disampaikan. Mungkin bila harus memasukkan keyword mengenai materi ini ke sistem SEO pun, tidak akan ada yang mencari sepertinya, tapi aku cukup senang untuk menulis ini. Siapa tau, nanti akan ada yang membutuhkan materi-materi ini. Atau mungkin, apa aku bagikan saja link tulisan ini kepada teman-teman Mahasiswa Baru, siapa tau bermanfaat. Terutama bagi mereka yang sedari awal kegiatan sudah tidur-tiduran aja, hehe.

Pemateri kali ini bernama Kak Dian Adi Pradana, asal Bekasi tapi tinggal di Kota Tegal. Lulus dari Universitas sekitar tahun 2015 dan sekarang sudah berprofesi sebagai seorang dosen disalah satu Universitas di Kota Tegal. Sebenarnya masih banyak hal-hal terkiat beliau, tapi cukup itu aja deh. Mungkin bagi kalian, teman-temanku yang membaca, kalian sudah tau. Bahkan ada kemungkinan, aku salah mencantumkan data-data diatas. Boleh dibantu koreksi ya.




Sebenarnya, mungkin bisa dikatakan, kegiatan tadi bukan mengenai pemaparan materi. Melainkan sharing session yang dikemas secara efektif. Selain ringan, tentu penuh ilmu. Kenapa aku menilai demikian? Karena ‘pemaparan materi’, biasa identik sekali dengan bahasa yang kaku, serius, hanya berpaku pada layar power point dan sebagainya. Dan tentu beda dengan Kak Dian ini.

Beliau memiliki basic mengenai keorganisasian yang luar biasa banyak. Berbekal pengalaman berorganisasi yang beliau miliki selama masa perkuliahan, ini menjadikan beliau sosok yang terbuka, easy going dan menyenangkan. Sudah pasti, hal inilah yang menjadikan beliau pemateri kali ini.

Waktu yang disediakan oleh panitia untuk beliau menyampaikan materi mungkin terbilang cukup lama. Tapi seperti berlalu bergitu saja. Ringan namun padat, itu kesan yang beliau tinggalkan.

Materi awal dibuka dengan beliau yang meyakinkan bahwa mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah, tidak salah jurusan. Kita diyakinkan bahwa jangan risau mengenai jurusan yang kita akan belajar didalamnya. Karena hanya perkara takut tertolak ini dan itu. Padahal peluangnya sama-sama luas, kata beliau. Seolah mengerti, mengenai kekhawatiran kami para Mahasiswa Baru.

Bukan tentang kamu berada dimana, melainkan apakah perubahan yang terjadi ketika kamu berada disana

Titik beratnya ada pada point “siap secara mandiri dan mental”. Karena pada perkuliahan nanti, akan banyak dijumpai godaan. Seperti contohnya pacaran dan perihal mencari uang. Kenapa bisa demikian? Yang aku tangkap, bisa terjadi hal seperti itu karena mungkin wajar sekali bagi usia-usia beranjak dewasa yang membutuhkan ‘teman’, ataupun mereka-mereka yang kurang mampu finansial lalu mengenal dunia kerja. Dan jadilah hal-hal tersebut mengganggu konsentrasi belajar selama perkuliahan. Maka dalam hal ini, sangat diperlukan sekali siap secara mental, agar mampu menghalau hal-hal demikian, atau setidaknya bisa bersikap bijak.

Selain tentang kesiapan mental, Kak Dian juga sangat menegaskan mengenai kegiatan berorganisasi. Berorganisasi dinilai menjadi wadah untuk berproses dan membekali diri. Diluar ilmu-ilmu yang didapat dalam tiap-tiap mata kuliah.




Beliau menjelaskan bahwa bagi mereka yang mendalami ilmu eksak, sudah tentu sehari-hari penuh dengan praktek. Sedangkan kami, yang nantinya menjadi sarjana sosial hanya akan menggeluti seputar teori dan teori. Padahal apalah arti ilmu tanpa pengimplementasian.

Maka dari itu, inilah pentingnya berorganisasi bagi Mahasiswa. Selian menjadi ‘ladang’ untuk pengimplementasian teori yang sudah didapat, tentu saja kegiatan berorganisasi bertujuan untuk mengasah serta meningkatkan soft skill yang telah dimilki.

Softkill pentingkah? Menurut Kak Dian, softskill sangatlah penting. Apalagi untuk kehidupan bermasyarakat nanti. Kita yang telah lulus dan bergelar sarjana, status sosialnya akan meningkat. Dan tentunya memaksa kita untuk meningkat pula kedewasaannya. Dan softskill inilah salah satu penunjangnya. Semacam apa gunanya ilmu dan gelar sarjana bila tidak bisa melalukan apa-apa yang berguna untuk masyarakat.

Softskill menjadi penunjang utama, disamping teori-teori yang dikuasai

Terkait macam-macam organisasi pun Kak Dian paparkan dengan jelas dan runtut. Serta memberikan contoh-contohnya. Sehingga membuat kami, para Mahasiswa Baru, terbuka pandangannya mengenai organisasi-organisasi yang berada dilingkungan Universitas. Sebenarnya tak hanya itu. Tapi mungkin hanya beberapa poin ini yang bisa aku tuliskan kembali. Tentu hanya sebagai catatan pribadiku, atau untuk kalian yang berkenan mampir. Semoga tulisan diatas sama-sama bisa menginspirasi dan membuka pandangan kita mengenai dunia perkuliahan dan apa-apa yang perlu dilakukan serta dipersiapkan.

Kesimpulannya, siapkan mental, perlahan bangunlah kedewasaan melalui organisasi-organisasi yang bisa diikuti, jangan lupa untuk mengembangkan skill-skill yang dimiliki. Karena gelar sarjana tidak akan mengubah apapun bila kita berada dilingkungan masyarakat tanpa skill yang menunjang.

Terima kasih bagi yang sudah berkenan mampir dan membaca, semoga ada sedikit ibroh yang bisa diambil. Walaupun sepertinya tulisannya tidak mengandung apa-apa ya, hehe.

 

Komentar

  1. Aktif di organisasi kampus secara tidak langsung mengembangkan atitude kita. Dan atitude sangat penting dalam dunia kerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi terkadang untuk orang-orang introvert, gabung ke organisasi semacam membutuhkan keberanian ekstra

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali