Dibalik Kewajiban Menuntut Ilmu
Setiap hal yang terjadi dikehidupan, sudah barang
tentu ada hikmah dibaliknya. Tidak ada hikmah yang tidak baik. Justru dari
kejadian kurang mengenakan pun hikmah yang didapat selalu sangatlah baik. Mungkin
kita selalu komentar dengan setiap hal yang terjadi di kehidupan kita. “Kenapa
harus seperti ini? Bukannya hal yang satunya lebih baik ya?” Sehari-hari isinya
hanya komentar dan komentar.
Aku pun demikian. Selalu saja protes tentang ‘ketetapan
Allah’. Yang mungkin hanya sekedar mengeluh kecil, namun itu sudah dapat
dikatakan sebagai protes kepada Allah. Begitu tidakkah bersyukurnya kita
sebagai hamba? Padahal setiap yang diharuskan untuk kita hadapi, ada hikmah
atau pesan-pesan cinta dari Allah untuk kita. Sama halnya dengan menuntut ilmu.
Menuntut ilmu wajib untuk setiap insan. Padahal apa
yang Allah wajibkan, itu untuk diri sendiri kelak bukan untuk Allah. Namun lagi-lagi
kita tidak sadar. Justru penuh arogan berkomentar ini dan itu. Mencari berbagai
alasan agar tidak menuntut ilmu atau kewajiban lainnya. Dimulai dari alasan ada
kegiatan lain, ada pekerjaan rumah yang menumpuk, ngantuk, tidak enak badan,
yang padahal dibalik itu pasti ada alasan klasik terbesar yaitu malas.
Setiap kalimat dorongan yang kemarin aku tuliskan
ulang untuk kalian, semata-mata karena Allah peduli dengan kita. Allah ingin
kita semangat menuntut ilmu. Sebegitu baiknya Allah menyediakan sesuatu yang
itu adalah kebutuhan diri kita sendiri sebenarnya. Selalu mengingatkan dan
mengajak kita. Tapi lagi dan lagi, kita yang selalu berdalih. Memilih menghindar
dan menolak. Padahal kita yang butuh itu semua, bukan Allah. Lalu, pantaskan demikian?
Allah memerintahkan sesuatu bukan karena tanpa
sebab. Pasti hal itu penuh dengan kebaikan, demikian pula menuntut ilmu. Apa
yang Allah ingin dari kita yang rajin menuntut ilmu?
Hikmah Menuntut Ilmu
- Pembentukan Penalaran Rasional
Bagaimana bila ada ilmu yang hanya mengedepankan
satu aspek saja. Mengedepankan aspek akhirat atau mengedepankan aspek dunia. Dapat
dibayangkan kehidupannya akan seperti apa. Maka dari itu islam dengan luar
biasanya telah mengatur segala aspek dengan baik dan seimbang. Dan ilmu-ilmu
yang senantiasa kita pelajari, akan mendorong kita untuk berfikir rasionalitas.
Berfikir bukan hanya mengikuti dengan taklid atau
buta dan bukan pula mengikuti karena hal itu adalah kebiasaan di hari lalu.
Allah sudah menyindir orang-orang yang hanya ikut-ikutan, terdapat pada Q. S
Al-Baqarah ayat 170. Bahwa Allah menyindir sebagian orang yang mengikuti
kebiasaan nenek moyang dalam berakidah maupun dalam aspek lainnya.
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun tentang mendapat petunjuk. (Q. S Al-Baqarah: 170)
Penalaran rasional akan mengarahkan kita untuk tidak
mengikuti hal-hal irasional yang tidak berlandaskan dalil dan hadits Nabi. Seseorang
yang bila berlandaskan iman dan ketauhidan yang baik, maka ia akan mengetahui
mengenai apa yang Allah larang dan batasan-batasan apa yang Allah ciptakan
untuk kita. Agar kita tidak terjerumus dalam kesesatan serta jauh dari kata
mengkikari Allah. Dan ini semua bisa diketahui bila kita rajin menuntut ilmu.
Pengakuan Metode Eksperimental
Islam mengakui meotede eksperimental. Sebagai contoh
kala itu ketika sedang masa penyerbukan kurma para sahabat melakukan
penyerbukan dengan cara menggoyang-goyangkan batang kurma. Lalu Rasulullah
melintas dan bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian melakukan dengan cara
seperti itu?”
Para sahabat pun menduga bahwa Rasullah tidak
menghendaki cara menggoyang-goyangkan batang kurma. Lantas pada tahun
penyerbukaan selanjutnya, para sahabat sudah tidak lagi menggunakan cara yang
lalu. Karena mengikuti perkataan Rasulullah. Namun ternyata panen mereka di
tahun ini justru gagal. Dan para sahabat mengadukan kepada Rasulullah.
Rasulullah menjawab aduan para sahabat, “Kalian lebih mengetahui tentang dunia kalian.” (H. R Muslim)
Maksutnya Rasululllah juga manusia, yang tidak
diberitahukan secara keseluruhan mengenai kehidupan dunia. Serta tidak
mengetahui bahwa cara mana yang paling tepat dan benar. Sebenarnya Rasulullah menanyakan
ini dan itu bukan karena tidak ridha, namun hanya menduga. Dan dugaan itu bisa
benar maupun bisa salah.
Ucapanku dahulu adalah hanya dugaaanku. Jika berguna lakukanlah. Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, dugaanku bisa benar dan juga bisa salah. Namun apa yang aku katakan kepadamu Allah berfirman, maka aku tidak akan berdusta mengenai Allah. (H. R Ahmad)
Hal ini menggambarkan bahwa islam menyerahkan urusan
sains dan teknologi agar manusia melakukan eksperimen dan menemukan
temuan-temuan yang bermanfaat untuk ummat. Seperti motivasi Allah yang terdapat
pada Q. S Ar-Rahman: 33.
Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintas) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah). (Q. S Ar-Rahman: 33)
Ini jalan yang Allah berikan agar ummatnya, ummat
muslim dan manusia pada umumnya agar mempelajari betul-betul tentang alam
semesta maupun hal-hal diluar angkasa. Maka dapat disimpulkan bahwa Allah
memang mengakui metode eksperimental. Karena kebermanfaatan metode ini serta
Rasulullah pun telah menunjukkan cara pengaplikasiannya secara umum. Dan kita
patut untuk mempraktekkannya sesuai pada bidangnya masing-masing yang memang cara pembuktiannya bisa dengan
metode ini. Untuk bisa berpikir dengan metode ini, tentu saja harus ada ilmu
dibalik itu.
- Menghindarkan Ummat Muslim dari Sifat Khufarat dan
Tahayul
Sebagaimana dulu bertepatan dengan meninggalnya putra Rasulullah bernama Ibrahim saat terjadi gerhana, orang-orang Quraisy menyebut bahwa gerhana matahari terjadi karena meninggalnya putra Rasulullah,
Rasulullah bersabda, “Gerhana bulan dan matahari tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi keduanya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah... (H.R Bukhari)
Pada sabda yang lain, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun paranormal dan menanyakan sesuatu, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.” (H. R Muslim)
Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki ummat,
pengetahuan itu dapat membentengi dirinya dari hal-hal seperti diatas. Bisa menghalau
diri dari berita-berita tahayul maupun berita dusta yang ditiupkan untuk
menghancrukan aqidah ummat serta membuat ibadah tidak diterima.
Allah menciptakan sesuatu bukan tanpa tujuan. Dan tujuan
kita diwajibkan untuk menuntut ilmu adalah semata-mata karena Allah
menginginkan kebaikan dari diri kita. Sesuai dengan tiga point diatas, yang aku
coba untuk tulis kembali sebagai bahan belajar bersama.
Disini bukan aku yang pandai disebabkan mampu
menulis hal diatas, namun semata-mata karena kemurahan hati Allah telah
mengijinkan aku menuntut ilmu dan menuliskannya kembali. Ini lanjutan resume
materi sebelumnya yang membahas tentang motivasi menuntut ilmu. Semoga bisa
menmbah pemahaman kita mengenai menuntut ilmu. Jangan lupa diamalkan. Boleh beri
saran dan masukan pula untuk tulisan ini. Terima kasih bagi yang sudah membaca.
^aukamaaqaal
(sesuai perkataan beliau yang sebenarnya)
Komentar
Posting Komentar