Mahasiswa Baru Harus Tahu!
Hari ini hari ke-dua mengikuti kegiatan PBAK. Seperti biasa, pasti didalamnya akan ada paparan materi serta tugas-tugas yang mengikuti. Dan demikianlah aku sajikan, sekilas review materi yang aku dapatkan dari tiga sesi materi yang sudah aku ikuti. Sudah pasti, lagi-lagi tulisanku ini tentang mahasiswa baru, serta tak jauh-jauh dari Universitas.
Semoga bisa bermanfaat untuk yang ingin mengetahui mengenai info-info UIN Walisongo Semarang. Atau hanya sekedar penambah ilmu. Boleh colek-colek ya, jika mungkin ada beberapa hal yang kurang tepat. Selamat membaca.
Sejarah UIN Walisongo Semarang
Cerita dan inspirasi tergambar jelas dari nama Walisongo, yang aktif mengembangkan dakwah islam di Pulau Jawa. Dengan menjunjung sikap ramah, sopan, santun, dan ketawadhu’an. Dan inilah yang mengarahkan kepada pembangun peradaban dunia yang maju dan berkembang.
Walisongo menjadi inspirasi besar kampus UIN Walisongo Semarang. Maka menjadikan Walisongo sebagai prototype dalam segala pengkajian ilmu, penelitian, riset, dan berbagai pengembangan ilmu pengetahun dan teknologi. Yang tentu implementasinya adalah mecetak generasi-generasi seperti Walisongo diatas, yang bersikap ramah, sopan, santun, dan menjunjung ketawadhu’an serta berakhlakul karimah. Dan tidak lupa pula untuk mengedepankan pula sikap saling toleransi, dengan konsep rahmatan lil’alamin.
Perkembangan UIN Walisongo Semarang
Awal berdirinya UIN Walisongo tahun 1963. Yang pada kala itu pun UIN Walisongo belum terbentuk menjadi seperti sekarang ini. Mula-mula para ulama dan cendekiawan muslim saling bersatu, merintis berdirinya mimbar-mimbar pergerakan agama islam.
Berdasarkan keputusan Menteri Agama RI no 30-31 tahun 1970 tanggal 6 April 1978, Institut Agama Islam Negeri Walisongo resmi berdiri. Dari yang semula hanya berupa rintisan para ulama dan cendekiawan. Yang pada kala itu, kementrian agama di pimpin oleh KH. M. Dachlan.
Lalu demi merespon perubahan jaman dan peningkatan kualitas mutu pendidikan, IAIN Walisongo bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri Walisongo. Yang diresmikan Menteri Agama RI pada tanggal 6 April 2015, dibawah kepemimpinan H. Lukman Syaifuddin.
Visi dan Misi UIN Walisongo
Setiap lembaga apapun, tak terkecuali UIN Walisongo pasti memiliki visi dan misi yang menjadi penunjang langkah lembaga ini agar terus maju dan terorgansir. Visi UIN Walisongo adalah sebagai berikut; Menjadi universitas islam riset terdepan berbasis kepada kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaana dan peradaban pada tahun 2038.
Selian visi, suatu lembaga pasti memiliki misi untuk menunjang keberlangsungan visi tersebut. Dan beberapa misi UIN Walisongo tersebut, adalah sebagai berikut;
1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran IPTEK berbasis kesatuan ilmu pengetahun untuk menghasilkan lulusan professional dan berakhlakul karimah.
2. Meningkatkan kualitas penelitian untuk kepentingan islam, ilmu, dan masyarakat.
3. Menyelenggarakan pengabdian yang bermanfaat untuk pengembangan masyarakat.
4. Dll,
Program Pendukung
Dengan visi dan misi yang sangat jelas dan baik, tentu iti saja tidak akan cukup. Maka UIN Walisongo juga mengadakan program-program pendukung, sebagai pendukung visi dan misi diatas. Program-program inilah yang dihasilkan dari visi dan misi yang dimiliki UIN Walisongo. Tentunya bertujuan untuk mensupport sistem kerja tiap jajaran pengajar demi memberikan pelayanan terbaik, maupun melayani mahasiswa sendiri, agar mendapat pengajaran dengan sistem yang layak dan baik. Program pendukung tersebut diantara;
1. Sistem informasi akademik UIN Walisongo
2. Sistem E-Learning
3. Sitem E-Library
4. Dll,
Sistem Pembelajaran
Pembelajaran dalam sistem akademik dan sistem sekolah sangatlah berbeda. Pada UIN Walisongo maupun Universitas lain, sistem pembelajaran akademiknya kurang lebih sama.
Dimana setiap mahasiswa dituntut kemandiriannya dalam mencari ilmu-ilmu baru, atau mengkaji hal-hal yang belum dijumpai pada masa sekolah, tanpa harus bergantung kepada pengajar. Inilah perbedaan mendasar yang mungkin terasa sangat signifikan dirasakan oleh mahasiswa baru. Interaksi murid dan pengajar sudah tidak lagi 50% berbanding 50% melainkan menjadi 75% - 90% interaksi mahasiswa dan sisanya interaksi pengajar kepada mahasiswa.
Di sistem pembelaran akademik pun, ada hal yang tidak kalah berbeda dengan sistem sekolah. Yang mana ketika menjadi mahasiswa, secara bebas mereka memiliki kebebasan untuk menuangkan ide gagasan dan semacamnya, tanpa ada batasan apapun selagi ide gagasan itu tetap sejalan dengan visi misi UIN Walisongo.
Tantangan
Disetiap bidang keilmuan yang diterapkan sudah pasti akan ada tantangan pula yang menghadang. Banyak sekali perbedaan mendasar dari peralihan siswa menjadi mahasiswa. Dan ini lah yang menjadi tantangannya. Yang bisa sebutkan sebagai berikut;
1. Tingkat kemandirian dijamin sepenuhnya
Untuk eksplorasi pengetahuan, keingintahuan mahasiswa menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran
2. Teknis pelaksanaan pembelajaran
Perbedaan yang ada dari masa sekolah dulu, menjadikan mahasiswa tertantang untuk memahami sistem-sistem pembalajaran yang baru. Dimulai dari perubahan mindset, penyesuaian ilmu untuk mempelajari teknis-teknis pembelajaran melalui daring, hingga kesiapan finansial untuk menunjang proses belajar daring tersebut.
Dan itulah tantangan-tantangan mahasiswa yang harus dihadapi dimasa perkuliahan. Beradaptasi dengan sistem dan kebiasaan baru.
Tri Etika Kampus
Sebagai Universitas yang beradab, sudah pasti akan ada nilai-nilai yang dijunjung tinggi didalamnya. Demi menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang baik dan berkopeten selaras dengan visi misi UIN Walisongo.
Dalam rangka mencetak mahasiswa menjadi pribadi yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa, maka UIN Walisongo menetapkan Tri Etika Kampus. Yang harus diimplementasikan dalam setiap langkah dan sepak terjang mahasiswa selama melakukan pembelajaran. Tri Etika Kampus itu, diantara lain;
1. Etika Diniyah
Dalam melangkah harus didasari dengan ilmu agama yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah serta pendapat para ulama yang merupakan elaborasi dari kedua hal tersebut. Dengan adanya etika diniyah, mahasiswa diharapkan memiliki etika yang akhlakul karimah.
2. Etika Ilmiyah
Pentingnya pengembangan ilmu berdasar pada pentingnya pula ilmu pengetahun itu sendiri. Yang mana dalam pengembangan ilmunya harus didasarkan kepada riset sebagaimana misi UIN Walisongo. Pengembangan ilmu semata-mata demi majunya mutu pendidikan dan menciptakan generasi yang beradab. Serta memanfaatkan ilmu tersebut demi keberlangsungan masyarakat yang lebih baik
3. Etika Ukhuwah
Didalam Universitas, yang dijumpai tidak hanya saudara satu kampung halaman. Melainkan banyak pula dari luar itu. Adanya etika ukhuwah ini, harapannya bisa menjadikan mahasiswa untuk saling akrab dalam berkomunikasi tanpa harus melihat latar belakang dan lainnya. Demi tercapai keefektifan komunikasi yang nanti dari komunikasi itu akan menghasilkan banyak ide dan gagasan.
Nah, itu tadi ya sekilas informasi baru yang bisa aku sajikan untuk kalian. Lagi-lagi, semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian. Terimakasih bagi yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya.
Sistem pendukung E Library pasti sangat membantu mahasiswa ke depannya. Bagi yang gak bisa langsung dateng ke perpus atau mager-mager gitu, udah ada solusinya.
BalasHapusDalam proses meminjam dan mencari memang sangat lebih mudah, tetapi buku juga cepet sold out mba hehe
HapusDengan adanya tulisan ini sangat bermanfaat untuk mahasiswa baru di UIN Walisongo .... semoga para mahasiswa baru bisa lebih memahami dan tidak mendapatkan kesulitan
BalasHapusTerimakasih mba, sudah bersedia mampir di tulisan ala-ala saya. Semoga bisa jadi tambahan pengetahuan juga buat mba, siapa tau nanti ada yang tiba-tiba menanyakan, hihi.
Hapus