Tak Hanya Menghibur, Namun Sarat Makna



Banyak orang hanya memperhatikan serta mengulas film yang berdurasi 60 menitan dan diatasnya. Atau bisa dikatakan sebagai mengulas film layar lebar. Jarang sekali orang-orang mengulas film pendek yang berdurasi hanya 30 menitan atau bahkan kurang. Dan justru hanya menjadikan itu sebagai tontonan hiburan sebagai selingan setelah menonton film berat.

Setiap tulisan yang dibuat lalu difilmkan sudah tentu ada premis didalamnya. Yang sangat ingin penulis tunjukkan kepada pemirsa. Dengan harapan semoga pesan-pesan yang disisipkan bisa tersampaikan dan dapat diterima dengan jelas oleh pemirsa. Tak terkecuali film pendek. Film yang berdurasi sangat singkat pun tentu saja memiliki pesan-pesan juga.

Dan inilah dua film yang siap aku sajikan kepada kalian. Barangkali kalian sudah melihat tetapi belum menangkap pesan didalamnya.

Film

Ada dua film yang hendak aku ulas disini. Yang satu mungkin sudah tidak asing ditelinga kalian yaitu film Tilik. Film yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo dan diproduksi oleh Ravacana Films.

Sedangkan film yang lainnya yaitu berjudul Cream. Film yang disutradarai oleh David Firth, film yang berasal dari Negara Inggris.

Negara pembuatan film tersebut berbeda, dan apakah ceritanya akan sangat bertolak belakang?

Ulasan Film Tilik

Jogja.suara.com
Jogja.suara.com

Diawali dengan adegan para rombongan ibu-ibu yang sedang berada didalam truk muatan. Sedang berdesak-desakan berdiri seraya sibuk membahas tentang uang iuran. Ini menggambarkan tentang kebudayaan sekali, bahwa begitulah kebiasaan ibu-ibu ketika hendak tilik. Seputar menyewa angkutan, desak-desakan, dan patungan biaya sewa.

Terlihat disana ada Yu Ning yang tengah memasukkan uang ke dalam amplop beserta menunjukkan amplop itu kepada ibu-ibu lain sebagai bukti bahwa uangnya tidak di-tilep. Dengan nada dan gerak gerik yang identik sekali dengan kegiatan tilik. Heboh, berisik, dan sangat  bersemangat.

Di scene lain ada Bu Tejo. Yang sedari awal sudah menjadi sorotan sekali bagi orang-orang yang telah menonton film ini. Dengan gaya bicara yang khas dan menggebu-gebu, Bu Tejo sangat mencuri perhatian para penonton.

Sikap Bu Tejo yang suka ghibah dan kompor, membuat penonton sangat greget pengen nampol. Lebih-lebih ingin ikut membantah setiap perkataannya. Karena sangking tidak tahannya dengan pembicaraan Bu Tejo.

Bermula dari pertanyaan Yu Sam yang bertanya ke Bu Tejo. “Fikri ki karo Dian opo bener sesambungan to, Bu?

Inilah pertanyaan pertama yang memancing Bu Tejo untuk kian mengulik dan mengorek tentang kehidupan Dian. Tak lupa juga disampingnya ada tokoh bernama Yu Tri yang turut andil juga sebagai pendukung setiap komporan Bu Tejo. Bahkan menambah-nambahi yang menjadikan suasana kian panas.

Bu Tejo selalu membuka pembicaraan mengenai Dian. Selalu berkata yang tidak-tidak mengenai Dian. Yang mana Dian ini memanglah seorang kembang desa yang cantik jelita. Sehingga sering membuat ibu-ibu resah dengan setiap tindakannya. Walaupun belum tentu juga mengenai tindakan-tindakan itu. Namun Bu Tejo selalu mengompori ibu-ibu lain dengan selalu membicarakan hal-hal buruk mengenai Dian.

Percakapan perghibahan selalu di dominasi oleh tiga tokoh. Yaitu Bu Tejo, Yu Sam, dan Yu Tri. Namun disetiap serunya perghibahan Yu Ning selalu menyambar dan berkata bahwa berita-berita itu belum tentu benar.

Dimuali dari pembicaraan mengenai Dian yang punya barang-barang bagus padahal baru saja bekerja, ada juga ibu-ibu yang mengaku melihat Dian berjalan bersama om-om di sebuah mall dan hotel, hingga menyebut bahwa Dian tengah hamil karena melihat ia sedang muntah-muntah dipinggir jalan waktu malam hari, dan berujung pada tuduhan bahwa Dian perempuan nakal.

Sebenarnya cerita tilik ini bercerita tentang perjalan rombongan ibu-ibu menuju Rumah Sakit untuk menjenguk Ibu Lurah. Namun didominasi oleh perghibahan ibu-ibu yang membahas tentang Dian dan Dian. Yang mana hal ini sangat relevan sekali dengan kehidupan sehari-hari. Entah benar atau tidak perghubahan itu. Namun tentu saja, aka nada suasana mengghibur pula ditengah panasnya perghibahan. Seperti ketika Bu Tejo yang kebelet ingin buang air kecil, atau truk yang ditumpangi mogok, hingga tingkah ibu-ibu yang menyerang pak polisi dan menyogoknya dengan serantang jajanan.

Nanti akhir cerita, ada scene yang menampilkan sosok Dian tengah berjalan perlahan memasuki mobil di sebuh parkiran Rumah Sakit. Dan ternyata ia bersama suami Bu Lurah.

Ulasan Film Cream

Okayplayer.com

Pertama kali menonton aku sudah dibuat merasa deg-degan dengan aura filmnya. Seperti aura-aura film horror pembunuhan. Namun ternyata tidak. Film ini berkisah tentang seorang ilmuan bernama Dr. Belliefer.

Yang pada scene itu sedang berdiri diatas podium dan sedang mempresentasikan produk barunya bernama cream. Ketika mengetahui hal ini, jelas saja langsung faham bahwa film ini bercerita tentang krim wajah tersebut.

Namun ternyata oh ternyata. Krim itu bukan sembarang krim. Ketika mempresentasikan hasil ciptaannya itu, Dr. Belliefer memcobanya terlebih dahulu kepad subjek penelitian. Di mulai dari seorang wanita berjerawat parah, lalu seorang laki-laki yang hidungnya bolong, dan seorang wanita lain yang tangannya hanya tinggal satu. Dan ajaibnya, krim ini bisa menyembuhkan ketiga problem tersebut dan membuatnya seperti sedia kala. Wajah bersih bebas jerawat. Hidung yang kembali normal dan tangan yang utuh kembali.

Terlihat sekali orang-orang sangat bergembira dan semangat dengan hasil temuan itu. Karena harga yang terjangkau serta khasiat yang luar biasa. Usut punya usut tenyata krim itu tidak hanya digunakan untuk wajah. Namun dapat digunakan sesuai keinginan sang pengoles krim.

Ada yang mengoleskan ke tangan lalu bermunculan perhiasan-perhiasan. Ada juga laki-laki yang mengoleskan krim ke body mobil rongsokan lalu mobil itu menjadi baru dan lebih canggih. Semacam krim sejuta ummat yang bisa mengatasi segala problematika kehidupan. Selian itu juga bisa untuk menyuburkan tanah gersang maupun air yang tercemar limbah.

Setelah segala kesuksesan yang diraih, dengan memperlihatkan bukti-bukti bahwa orang menyukai krim tersebut, maka Dr. Belliefer membuat serta meluncurkan temuan terbarunya yang lain. Masih sama berbentuk serupa krim namun bisa menggadakan barang dan lainnya.

Bisa untuk menggandakan orang, barang-barang, bahkan bisa menyembuhkan rasa kebosanan akibat mudahnya penyelesaian dari setiap problem yang dihadapi. Dan tentu saja setelah mengoles krim tersebut, orang-orang kembali riang dan semangat kembali.

Namun ditengah kesuksesan seseorang pasti akan ada orang-orang yang tidak menyukai. Setelah menunjukkan tentang berbagai kesuksesan Dr. Belliefer serta kesenangan masyarakat akan produknya itu, maka ditengah-tengah itu penonton diperlihatkan scene yang menyorot wajah serta mimik bibir yang berkata “No”. Seolah menunjukkan para petinggi itu tidak menyukai kesuksesan Dr. Belliefer. Dan mereka mulai mencari cara untuk menjatuhkan pesaingnya tersebut.  

Dan tibalah saat media masa mulai membicarakan dan memberitakan tentang Dr. Belliefer. Mengenai bahan baku pembuatan krim wajah dan serba-serbinya. Serta isu-isu yang mengatakan bahwa krim tersebut mengandung penyakit. Berbekal dengan informasi tersebut, akhirnya para masyarakat marah dan membung produk krim. Seolah tidak percaya bahwa yang digunakannya adalah sebuah krim berbahan dasar bayi manusia.

Dengan adanya berita-berita yang mencuat ke public, membuat Dr. Belliefer ditangkap dan diamankan. Serta masyarakat yang membencinya dan bisnis yang hancur.

Kesimpulan   

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa kedua film ini tentang berita bohong. Walaupun disertakan dengan bukti-bukti, namun bukti yang tersebar di internet pun belum tentu benar.

Orang-orang mudah sekali untuk terhasut dan terprovokasi dengan tindak-tindak semacam itu. Tanpa berusaha mencari kejelasan terlebih dahuhlu. Dan inilah realitasnya. Bahwa orang-orang memang sangat mudah sekali untuk termakan berita bohong, dan dominan sekali untuk ikut-ikutan menyebar berita bohong tersebut atau bahkan turut membuatnya kian memanas.

Ke dua film ini menyiratkan bahwa yang terlihat buruk belum tentu buruk sebenarnya bila ditelisik lebih lanjut. Jangan percaya dengan apa yang orang lain hasut mengenai kita. Atau apa yang orang lain bawa untuk menarik kita terjerumus kepada berita bohong itu.
catatannya adalah, cek dulu setiap apa yang muncul. Baru boleh menyimpulkan, hal itu baik atau tidak. Dan baru lakukanlah tindakan yang objektif sesuai berita yang diterima setelah melalukan berbagai kroscek.

Karena perlu diingat, kita yang mengghibah tidak akan mendapat kerugian sama sekali. Tetapi mereka yang kita bicarakan dan ternyata pembicaraan kita tidak sesuai, hal itu bisa menjadikan kita sebagai penghancur kehidupan orang lain. Walaupun hanya sekedar mendatangkan kebencian orang lain kepada orang yang dibicarakan atau lebih dari itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali