Emosi Perlu dirilis
Bukan suatu hal yang mengherankan
kala suatu ketika melihat seseorang tiba-tiba emosi meledak-ledak hinggak
banting barang dan sebagainya. Lalu tidak jarang juga melihat teman atau orang
di sekitar yang mula-mula ceria tiba-tiba murung sekali di beberapa waktu
kemudian. Ini seputar orang lain, nih. Bagaimana dengan kita? Pasti merasakan
hal yang sama pula, ya.
Pagi-pagi masih bersemangat,
penuh senyum, hangat. Sore hari bisa berubah mejadi sosok menyebalkan nan
membetekan. Marah-marah ke sekitar, melempar emosi ke sembarang orang,
menyalahkan orang lain, tuding sana-sini. Tau-tau marah, aja, padahal orang
lain tidak salah apa-apa. Padahal kira-kira, nih, setelah marah-marah tak
beralasan itu rasanya bagaimana? Menyesalkah?
Merasa marah, sedih, senang, itu
wajar dan normal. Justru bentuk kesyukuran tertinggi ketika seseorang masih
diberi kesempatan merasakan emosi dan bisa mengekpresikannya, coba bayangkan,
bagaimana dengan mereka-mereka yang Allah uji dengan keadaan psikologis kurang
dari yang lain. seperti tidak bisa merasa marah, sediih, bahkan gembira. Sayang
sekali bukan? Tapi kita sebagai sosok yang “sempurna” kadang lupa dengan
anugerah itu. Lalu bisa bertindak semena-mena. Memang harusnya seperti apa,
sih? Mari kita bahas di bawah.
Pengertian Emosi
Menurut Damon dan Einseberg,
emosi adalah usaha seseorang menentukan, menemukan, atau mengubah hubungan
antara individu dengan lingkungan agar sesuai dengan keinginannya. Dan menurut
Fridja, seseorang harus bisa mengendalikan emosinya pula agar tidak bertindak
sembrono serta mampu menerima konsekuensi atas emosi yang terbentuk pada
dirinya ketika memang pada akhirnya di keluarkan dan disalurkan.
Terus kenapa regulasi emosi
diperlukan? Gross mengatakan bahwa pada bagian otak ada yang berperan dalam
mengatur emosi, ingin bertindak menindaklanjutin respon syaraf yang menerima
sinyal emosi. Namun sebagian yang lain hanya ingin diam tidak merespon. Sehingga
ketika seseorang merasakan emosi maka yang terjadi bisa dua hal, akan melakukan
seseuatu dan mengubah keadaan atau hanya diam saja. Dan inilah buah konsekuensi
yang harus kita terima ketika keadaan sedang “terserang” emosi.
Pengertian Regulasi Emosi
Fridja menyimpulkan, bahwa
regulasi emosi adalah bentuk kontrol seseorang dalam menangani emosi yang
sedang dirasakannya. Regulasi emosi dapat memengaruhi tindakan dan pengalaman
seseorang. Hasil regulasi bisa berupa perilaku yang ditingkatkan, dikurangi,
atau dihambat dalam bentuk ekpresi yang tampak.
Regulasi emosi juga berperan
penting dalam bentuk pembeda kepribadian seseorang. Sebagai contohnya saja, ada
seseorang yang dapat merasa tenang walaupun diserobot antrianya namun ada pula
di lain sisi, seseorang ini marah-marah tidak karuan hingga meldak-ledak lalu
nampaklah tabiatnya yang dikenal sebagai sosok pemarah. Jadi kepribadian
seseorang sejatinya tidak hanya berupa bawaan lahir, tapi ada juga yang
terbentuk akibat aktivitas kita setiap hari dan melekat pada diri sehingga
jadilah menjadi sosok yang demikian.
Di luar tentang aspek pembeda
yang signifikan, ternyata mempelajari cara merugulasi emosi sangat penting,
lho. Ketika seseorang dapat mengolah emosinya dengan baik, maka akan mengurangi
kemungkinan meledak-ledak ketika harus dihadapkan pada situasi sulit. Tidak pula
menjadi orang menyebalkan karena terkenal suka marah-marah dan semuanya
sendiri. Dan yang pasti orang lain akan senang berteman dengan kita karena
sikap tenang serta dewasa ketika menghadapi persoalan hidup. Lantas bagaimana
cara meregulasi emosi?
1. Expressive writing
Disadari atau tidak, sebetulkan
kita sudah sering melakukan ini. Hanya sesederhana menulis status whatssapp
atau caption instagram, nyatanya sudah bisa sedikit banyak merilis emosi
terpendam kita. Pasti pernah, kan, merasa sedikit plong setelah puas menuangkan
uneg-uneg di media? Tapi mungkin alangkah baiknya bila ingin menuangkan
keluh kesah hati bisa dimulai di buku diary atau buku khusus lainnya.
Tak mau, kan, semua orang
mengetahui masalah pelikmu dan menjadi konsumsi public? Maka coba, yuk, untuk
menuangkannya di media yang tersembunyi supaya aman dan tentunya lebih puas
karena tidak ada batasan-batasan ketika menuangkan emosi.
2. Emotional eating
Emosi yang terkumpul tidak hanya
bisa dituangkan dalam bentuk tulisan untuk dirilis, tetapi bisa juga disalurkan
melalui makanan kesukaan yang menciptakan rasa bahagian dan puas. Sehingga emosi
yang semula menekan bisa perlahan lepas seiring dengan bahagianya hati.
Dua cara di atas sudah bisa digunakan untuk merilis emosi. Namun rupanya hanya sekedar rilisan semu. Karena apa yang kita lakukan hanya perilaku-perilaku yang mengalihkan “emosi sebenarnya”. Dengan menyalurkan dalam makanan, mungkin merasa senang dan lupa dengan akar masalah, yang mana problem intinya belum terselesaikan juga. Lantas bagaimana baiknya? Mari kita bahas di artikel selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar