Ilmu Adalah Cahaya

Tak terasa berminggu-minggu sudah berjalan, dilewati dengan deru sesak kembang-kempis dada yang naik turun, sedang berusaha mengejar waktu agar tidak kalah dan menyisakan kekosongan absensi di tengah-tengah pacuan. Terkadang ide tak muncul, sulit untuk dikembangkan, lalu harus merelakan hutang satu hari demi memunculkan ide-ide kembali. Yang mana dalam sepekan sekali ada sedikit bantuan, yakni diberi tema untuk memunculkan ide.

Lagaknya lumayan, ya. Kami yang tengah berjuang lolos diberi sedikit ide agar tak mati gaya. Walaupun nyatanya tema yang disuguhkan terkadang tidak tanggung-tanggung, yakni sungguh menguras otak dan menuntut emosi untuk turut andil. Tantangan pekan ini terkait dengan opini. Penulis di haruskan menulis opini sebuah cerpen. Pilihanku atas dua pilihan yang tersuguhkan jatuh kepada cerpen karya Achmad Ikhtiar dengan judul “Setelah Para Tetua Pergi.”

Setelah sekian lama hanya berkutat dengan tulisan menye-menye, akhirnya pada tantangan pekan ini bertemu dengan cerpen yang super berat. Dibanding tulisan remaja tujuhbelas tahunan, aku rasa cerpen “Setelah Para Tetua Pergi,” ditulis oleh seseorang yang sudah menuju fase dewasa atau bahkan dewasa. Sehingga isi yang dimuat lebih memerlukan pikiran fokus yang tinggi disamping pengetahuan kebahasaan yang harus mantap pula untuk bisa memahami cerpen ini.

Dalam sekali baca rasanya-rasanya memakan waktu lebih dari sepuluh menitan untuk membaca habis dan berusaha memahami. Namun, ternyata belum juga paham. Hingga akhirnya harus dua sampai tiga kali baca sampai menemukan suatu titik yang bisa diulas. Sebelumnya perlu diingat, bahwa setiap karya sastra memiliki berbagai penafsiran tergantung siapa yang membaca dan berdasar pengetahuan yang mereka miliki serta emosi yang diolah. Sehingga penilaian mengenai suatu karya sastra hasilnya bisa berbeda.

Pada cerpen “Setelah Para Tetua Pergi,” aku menilai ini sebagai suatu kiasan mengenai orang-orang zaman terdahulu. Secara makna tersirat pun sudah jelas, “tetua” orang-orang yang dituakan, orang-orang terdahulu, dan sejenisnya. Berarti sebetulnya bukan kiasan tetapi berupa makna sesungguhnya. Namun, yang aku tangkap para tetua ini adalah orang-orang pada zaman jahiliyah sebelum nabi Muhammad SAW. datang membawa kebenaran.

Ada suatu poin yang belum terpecahkan maknanya, yakni mengenai tokoh yang diam saja di tengah ruangan sedang yang lain tengah berdiskusi. Apakah ini sebagai orang-orang yang memiliki sikap netral dan acuh? Mengenai orang buta akan kebenaran dan memilih bungkam? Padahal ada keadaan yang sedang porak-poranda atau diliputi keburukan maka memilih diam. Sebuah hal dengan makna ambigu, namun bila boleh dikatakan aku menangkap tokoh ini sebagai seseorang yang acuh dan menghindari arus keburukan. Tak peduli seramai apa diskusi itu, bila tidak sesuai maka ya sudah, lebih baik diam.

Lalu ada lagi makna yang cukup menohok, tentang tetua yang sudah pergi lalu keadaan menjadi lebih baik. Aku tidak tau tentang isi sebenarnya penulis menuliskan cerpen ini. Namun, melalui kacamatku sebagai pembaca awam, aku menilai ini sebagai kiasan dari kebodohan yang “memilih” hilang, diselamatkan oleh cahaya ilmu, lantas kebaikan-kebaikan akhirnya berdatangan. Terutama perihal yang disinggung penulis yakni terkait kedamaian dan keselarasan hidup.

Bila dituliskan menjadi satu kesatuan singkat, satu buah cerpen berjudul “Setelah Para Tetua Pergi,” memiliki sebuah makna mendalam terkait realitas kehidupan. Ini, lho, zaman dulu kita dalam masa kegelapan, menyukai pembunuhan dan macam-macamnya, lalu setelah ilmu dan cahaya datang semua menjadi baik-baik saja karena ada pemandu jalan dan kebodohan sudah sirna.

Maka relate dengan keadaan sekarang, bila ingin menikmati hidup yang aman, damai, tentram, perbanyaklah ilmu agar kebodohan bisa menyingkir serta dapat menggeser sifat-sifat binatang dari diri manusia yang bersemayam karena tidak adanya sebuah ilmu.  


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali