Realitas Kehidupan Seorang Karyo


Sekian purnama tidak menilik film besutan sutradara Indonesia, kali ini sedang memuas-muaskan diri dengan ditemani oleh film garapan Citra Sinema yang disutradai Dedi Setiadi. Sebuah film bertema kehidupan yang “segar” disaksikan, setelah berlalu-lalang dengan perfilm-an barat. Diajak kembali untuk melihat realitas isu kehidupan dan pahitnya kesenjangan sosial. Epy Kusnandar dan Erma Zarina sebagai pemain utama, sekaligus menjadi pemeran utama laki-laki terbaik dan pemeran wanita terbaik yang berhasil mem-bopong Piala Vidia 2013 rupanya benar-benar mampu membawakan karakter tokoh dengan apik-nya.

Konflik cerita sudah dibangun sejak permulaan film, memperlihatkan areal perkampungan kumuh dan apa adanya, beserta hiruk pikuk masyarakatnya yang tengah bersibuk sekedarnya. Permulaan yang tidak lambat dan tidak cepat tapi cukup membawa kesan intens disepanjang pemutaran film. Menciptakan perasaaan miris, menyaksikan rumah-rumah tambalan dan anak-anak tak terurus.

Scene berpindah pada sepetak rumah kumuh milik sepasang suami istri beranak satu. Memperlihatkan Saroh (Erma Zarina) yang tengah kelimpung-an ke sana kemari. Keluar masuk rumah dengan tidak henti-hentinya memegang kening sang anak. Dirinya gelisah, putus asa, mendapati Tini (Safira) suhu badannya tidak turun-turun. Lalu sibuk meluapkan amarah ketidakberdayaannya kepada Karyo (Epy Kusnandar) dan membebankan semuanya kepada sang suami. Tergambar jelas dalam raut merah padamnya, merasakan sesak dan kekecewaan dirinya yang membuncah akibat tidak bisa berbuat apa-apa ketika anaknya jatuh sakit.

Film ini kental dengan realitas kesenjangan sosial, bagaimana menderitanya seorang bapak yang tidak bisa mencukupi kebutuhan anak dan istri. Serta ketidakberdayaan seorang istri dalam upaya turut andil membalikkan keadaan perekonomian keluarga. Kerja keras banting tulang yang hanya sebagai tukang tambal ban tidak membawakan pundi-pundi rupiah yang cukup untuk makan sehari-hari apalagi perihal kritis seperti harus ke rumah sakit. Pada akhirnya harus memaksa Karyo untuk berkeliling menjualkan TV butut ke seantro kampung, namun nihil.

Seperti senasib dan sepenanggungan, Karyo “kedatangan” tamu tak diundang, seorang tukang pacul yang sehari-harinya ikut “mangkal” di kedai sebelah tambal ban Karyo. Ikut-ikutan menjajakan jasa gali lobang di usianya yang sudah tidak lagi muda. Dengan budi pekerti baik, selalu bersedia memberi “wejangan” pada Karyo, seorang laki-laki putus asa yang suka mengeluh dan melampiaskan segala hal. Sungguh dua sikap terbalik di antara dua contoh kondisi kesenjangan sosial itu.

Dedi Setiadi berusaha menampilkan dua karakter berbeda dari seorang yang berada di kondisi sulit. Memaparkan, bahwa semua orang bisa untuk bahagia walaupun kondisi sedang tidak baik-baik saja daripada harus menjadi seorang pemarah dan “kurang ajar”. Tapi namanya sudah terdesak ya bagaimana lagi. 

Konflik kian menanjak ketika sakit Tini sudah kian parah, yakni anak Saroh terindikasi mengidap tumor. Bagaimana lagi bayangan tentang orang biasa dengan anak menderita sakit parah demikian. Untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi berobat. Berbagai cara sudah dilakukan Karyo, lalu apa lagi. Menjadi seorang bapak tak berdaya sungguh membebankan. Tergambar semenderita itu seorang Karyo dan Saroh yang hanya bisa menyaksikan anaknya mengerang kesakitan di atas ranjang tempat tidurnya.

Selayaknya kehidupan, bila ada kesedihan pasti selanjutnya ada kemudahan. Seutas harapan bagi Karyo dan Saroh pun muncul untuk membawa anaknya ke dokter. Ketika ada seorang pejabat menyambangi perkampungan kumuh mereka dan memberi bantuan. Rasa iba memenuhi dinding hati setiap penonton. Melihat kontrasnya kehidupan antara mereka, berwajah cerah dan bahagia sedang lainnya setengah murung, pusing memikirkan rumitnya kehidupan.

Seringkali seseorang menyalahkan pejabat yang suka berleha-leha dengan gelimang harta, serta merasa jijik dengan mereka yang berpura-pura baik serta acuh dengan keadilan semua orang. Inilah yang tengah dihadapi Karyo. Disajikan dalam konflik yang memuncak ketika suami Saroh dituduh mencuri kalung berharga milik pejabat dengan sangat dramatisnya. Sungguh percaya bahwa orang “bawah” pasti bisa melakukan hal-hal buruk seperti itu. Padahal tidak bisa untuk menyamaratakan semua orang ke dalam satu golongan. Belum tentu yang rendah itu buruk.

Tapi rasanya pikiran penonton di atas telah dipatahkan dengan apiknya. Dengan ending film yang tidak diduga-duga. Ternyata Seorang Karyo yang dikenal “tersiksa” malah membodohi sang pejabat dan membalikkan keadaan. Rela menelan kalung dua kali demi menjual kembali dan hendak membawa Tini ke rumah sakit. Rela dirinya dipaksa untuk mengeluarkan isi perut dan dipermalukan di depan orang-orang kampung. Namun, nyatanya sesuatu yang buruk tidak akan berakhir baik, sebagaimana Saroh dan Karyo yang pada akhirnya harus kehilangan sang anak tercinta hanya karena berupaya keras menipu dan membuang waktu untuk hal tidak berfaedah.

Film kehidupan berdurasi kurang dari 100 menit ini berhasil menyajikan konflik sederhana nan menohok dengan lugasnya. Dedi Setiadi berhasil membawakan film berlatar minimal dan dialog sederhana dengan piawai. Hanya dengan menggunakan plot maju dirinya mampu membawa perasaan penonton ke dalam keadaan “gamblang”. Berhasil menyiratkan makna-makna pemikiran tentang kesenjangan sosial, bahwa tidak semua yang berjabatan buruk, dan tidak semua yang biasa itu baik. Konflik penyelesaiannya cukup rumit dan tidak terduga, mampu menguras tanda tanya dan membawa pikiran kembali ke menit-menit sebelumnya untuk menelisik lebih jauh.

Tidak ada yang patut dikomentari dari segi sinematografi. Selain membawa dua Piala Vidia 2013, film ini juga menjadi film dengan kategori sinematorafi terbaik, menjunjung nama Gunung Nusa Pelita sebagai pengarahnya. Sehingga film ini dijuluki dengan pembawa “multi-penghargaan”. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali