Friend’s Trap – Bagian 2
Kebetulan hari ini hari libur. Suci
tidak salah bila ingin menginap, karena tidak ada jadwal kerja maupun lainnya. Kirana
bertanya-tanya, kenapa bisa pas sekali dengan jadwal-jadwalnya. Sabtu kerja,
pulang pukul empat sore, lalu menginap. Seperti sudah di atur sedemikian
cantiknya.
“Pagi, Suci. Itu, udah gue bikinin
roti bakar cokelat keju. Suka kan?” tawar Kirana.
Seraya tangannya sibuk membuat
jus buah untuk dirinya sendiri.
Terlihat Suci berjalan lambat
dari arah depan. Tangannya sibuk mengusap mata, yang masih penuh dengan dengan
kotoran mata. Kirana hanya tersenyum dari kejauhan.
Lalu menyeletuk, “Aduh,
cantik-cantik bangunya siang, nih. Belum cuci muka lagi.” tawanya renyah
mengiasi candaan ringannya.
“Pagi-pagi udah rapi aja, Ra?”
“Enggak, sih. Ini biasa, aja. Gue
belum mandi, haha. Tapi habis ini mau renang. Mau ikut?”
“Renang? Pagi-pagi? Enggak macet?”
“Tinggal ke samping rumah, doang.
Tuh, ada kolam.” Tangannya menunjuk luar ruangan, menuju pintu kaca yang
tirainya setengah terbuka dan menampakkan kolam renang.
Kirana dan Suci bertemu belum
genap dua hari, tapi sudah akrab. Padahal biasanya butuh dua pekan hingga satu
bulan, Kirana untuk mengenal dan terbuka terhadap orang baru. Ini suatu
kebaikan kah, atau suatu kejanggalan?
“Ra, udah hampir satu jam. Belum beres
juga?”
Kirana naik dari kolam renang,
tangannya meraih baju handuk dari sisi lainnya. Lalu melangkah menghampiri Suci
dengan hanya mengenakan handuk, belum membersihkah diri.
“Duh, si Eneng. Udah cantik, aja.”
“Ah, bisa aja. Gue udah mandi,
nih. Nggak bisa, Lo, ledekin lagi, haha.”
“Anjir, Lo. Bisa-bisanya, ya. Oh,
iya. Boleh tanya nggak?” Kirana bertanya dengan ragu-ragu.
Melanjutkan, “Umur kita nggak
jauh beda, kan? Tapi, Lo, kayak masih remaja aja. Padahal udah kepala dua kan?”
“Ada apa dengan kepala dua?” Suci
berlagak santai dan seolah tidak kaget dengan pertanyaan Kirana. Seperti sudah
mendengar pertanyaan itu berulang kali.
“Nggak, sih. Cuma, biasanya kan
mulai ada kerutan, atau lingkar hitam tak tertolong, keriput dan semacamnya. Kayak
gue gini, lho.”
“Sama aja, ini. Wajah gue juga.”
“Enggak, ah. Lo, bercanda. Aura
wajah, Lo, tu beda.”
“Mau tau rahasia nggak?”
Suci mendekat ke arah Kirana. Merapatkan
duduknya, mengambil posisi tepat di samping Kirana.
“Lo, pernah tau tentang tempat ini, nggak?”
Ponsel Suci menampakkan sebuah gambar mata air, di tengah hutan rimbun. Terlihat
mata air itu menyegarkan dan menarik mata.
“Tempat apa itu?”
“Lo, beneran nggak pernah denger?”
“Enggak.”
Kirana berdiri, berjalan menjauh
lalu melepaskan handuk bajunya dan melanjutkan berenang.
“Lhah,” sentak Suci. Terdengar nada
kesal.
Kirana memang anti berwisata. Apalagi
ke tempat-tempat aneh terpencil seperti itu. Dirinya tidak tertarik sama sekali
dengan gambar yang ditunjukkan Suci. Walaupun dalam hati terkecilnya ada
suara-suara halus mendorongnya untuk bertanya dan mencari tau lebih.
“Ra, serius, Lo, nggak pengen
tau? Ini berkaitan sama pertanyaan, Lo, tadi tentang gue.”
Suci berjongkok di tepi kolam dan
meneriaki Kirana.
Gerakan tubuh Kirana melambat,
lalu menepi. Dari dalam air dirinya sayup-sayup mendengar suara Suci. Lantas tergiur
juga dengan cerita yang hendak diceritakan Suci.
“Jadi, Lo, tertarik pengen tau?”
“Gue mau mandi dulu nih. Nanti aja,
ya. Kita ngobrol lagi. Habis itu gue ada kerjaan dikit. Lo, bsia tunggu di sini
atau nonton tv juga boleh.”
Kirana melenggang meninggalkan
kolam renang. Tatapan kebencian Suci mengiri langkah Kirana yang seraya
menjauhi kolam. Namun, tatapan itu kian tajam dan membenci.
***
Hari menjelang sore, udara panas berganti dengan sejuknya matahari tenggelam dan temaramnya lampu bulan senja. Peluh tidak membanjiri kening, dahi itu telah kering dengan sapuan angin sepanjang hari. Pun sama dengan Kirana yang telah selesai juga dalam peraduan, kembali menghadapi singa laparnya.
Kaki jenang itu mnuruni tangga mengarah ke dapur. Air minumnya telah tandas dengan derasnya panas siang itu. Beruntung hari sudah sore, tidak perlu lagi untuk buru-buru mengisi ulang air minumnya. Tapi itu perlu juga, untuk mewaraskan diri setelah bekerja seharian. Serta menghadapi fakta, bahwa Kirana meninggalkan Suci seharian. Acuh, tidak memdulikan.
Sebelum tubuhnya sempurna bertolak ke arah dapur, tatapan mata tajamnya menangkap lantai kotor berwarna merah bata. Titik-titk dari arah kolam renang berbelok ke kanan, ke luar ke arah depan rumah. Kirana berjongkok, menjumput kotoran itu, sedikit. Mengusap-usapkan jarinya,
“Kok, ada tanah di sini?” tanyanya terheran-heran.
Siapa gerangan yang sudi berkebun siang bolong. Tukang kebunna tidak ada tugas bercocok tanam hari ini. Lantas siapa yang berani mengotori lantai rumahnya dan bebuat onar.
Sekelebat bayangan tertangkap dari sudut mata Kirana. Menampakkan sesosok perempuan yang beberapa waktu terakhir ini menghabiskan waktu bersama. Sedang berjongkok di taman depan rumah. Mondar-mandir membawa cangkul kecil dan sibuk membuat lubang. Kirana tidak berani memastikan, saat itu dirinya hanya bungkam.
Tidak sengaja Suci memasuki rumah dengan menyisakan kotoran tanah di tangannya dan memergoki Kirana tengah memandangnya dari dalam rumah.
“Ehmm, Lo, habis ngapain? Tangannya, Lo, kotor,” tegur Kirana.
“Tadi ada kucing tikus mati. Mungkin di makan kucing-kucing, Lo. Gue bantu kuburin, daripada bangkainya ganggu.”
Jawaban tidak masuk akal apa itu? Batin Kirana.
“Oh, benarkah? Terima kasih sudah bantu menguburkan.”
Berbeda dari reaksi tadi pagi, ketika harus dipusingkan dengan bujukan mengenal tempat asing yang katanya membawa awet muda. Kirana sore ini bersikap tenang dan tidak memusingkan itu. Bahkan cenderung penurut, kepada Suci. Apakah ada yang salah dengan Kirana sore ini.
“Ra, kita lanjutkan obrolan yang tertunda, yuk? Mau, kan?”
“Tentang mata air awet muda?”
“Percayakah dengan itu?”
“Aku percaya Suci, buktinya kamu awet muda dan tampak segar. Selalu menawan.”
“Sini, duduk di sampingku. Aku tunjukkan lagi gambar mata air itu.”
Kirana berjalan ke arah Suci yang sedari tadi sudah duduk di sofa. Mendekatkan diri lalu meraih ponsel Suci untuk melihat gambar itu dengan jelas,
“Indah bukan, Ra?”
“Hmm, ya. Ini sangat indah. Apakah kamu hendak mengajakku ke sana?”
“Kirana mau?”
“Dengan senang hati.”
Entah apa yang terpikitkan oleh Kirana hingga akhirnya setuju dengan bujukan Suci. Di mana letak integritas dan keteguhan hati Kirana. Menjelang sore hari pertahanan itu runtuh juga. Apa yang akan terjadi jadi dari keputusan dan keanehan sikap dirinya masih menjadi teka-teki dan Meyta belum tau tentang hal ini.
“Hei, terima kasih sudah mengijinkan aku menginap. Liburan pekan depan kita pergi ke sini, ya? Aku siapkan semua keperluan tiket dan lainnya. Kita bertemu di bandara. Detil lebihnya kuberitahu nanti.”
Suci pamit, hengkang kaki dari kediaman Kirana, setelah berhasik membujuknya pergi, selangkah kemudian dia pun pergi, keluar dari rumah itu. Tergambar aura bahagia dan tawa jahat, karena seolah-olah keingiannya sudah tercapai dan sore itu menjadi waktu kepulangannya. Entah pulang ke mana. Menyisakan Kirana dengan tatapan bingung.
Tubuh Kirana membeku seperkian detik di tempat semula. Tidak merespon Suci yang berpamit pulang. Tidak mengantarkannya ke depan gerbang. Hanya menatap ruang kosong di depan matanya dengan tatapan nanar.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering. Sayup-sayup terdengar orang berbicara dari ujung sana, “Ra, Lo, nggak papa? Dari tadi gue kirim pesan nggak, Lo, buka-buka. Suci beneran nginep di rumah, Lo? Sekarang dia di mana?”
Seberondong pertanyaan dari sahabat baiknya, Meyta. Tidak digubris-nya sama sekali. Ditutupnya sambungan telepon, lalu melenggang meninggalkan ruang tamu, Beranjak menuju kamar tidurnya.
Komentar
Posting Komentar