Friend’s Trap – Bagian 3


Pukul enam pagi tangan Kirana sudah disibukkan dengan pisau dapur. Cekatan meraih bahan masakan. Walau yang dimasak hanya oatmeal, dan yang dipotong hanya buah-buahan. Namun, jam sarapan pagi tidak pernah dia lewatkan sama sekali.

Beres menyiapkan sarapan Kirana beranjak mengambil barang-barang bawaannya di kamar atas. Langkahnya sedikit tergesa-gesa karena pagi ini dirinya bangun sedikit telat daripada biasanya.

“Sial, gue tidur jam berapa, sih. Jam segini masih di rumah.”

Semua barang bawaan sudah dijinjing ditangan mungilnya. Melesat ke depan rumah, tidak lupa menengok kanan, mengecek dapur dan mematikan elektronik yang tidak dipakai. Mengunci pintu dan pagar rumah, lalu berjalan menuju gerbang perumahan, menuju stasiun terdekat.

“Untung aja, hari ini nggak penuh-penuh banget. Bisa agak cepet.”

Baru masuk kereta belum ada sepuluh menit, ponselnya berdering. Terdengar suara dari ujung sana, “Ra, Lo, kemana, sih? Jam segini belum sampe kantor. Tumben banget,” tegur Meyta.

“Lah ini, gue masih di kereta, dodol.”

“Lo, tidur jam berapa? Gila benget, udah tau Senin. Pake acara telat segala.”

“Sumpah, kok gue nggak inget, ya, tidur jam berapa.”

“Lo, ngaco, ah. Bisa-bisanya. Gue tunggu di depan, deh.”

“Ntar, Lo, ikutan telat, bodoh. Sana, Lo, duluan.”

“Kan gue setia kawan.”

Tangan Kirana menurun, menandakan sambungan telepon baru saja berakhir. Dilihatnya jam pada ponsel, menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima, pagi. Udah jam segini ternyata, sial. Batin Kirana.

Dirinya jarang sekali terlambat masuk ke kantor. Paling lambat pukul enam lebih tiga puluh menit sudah sampai di sana. Tapi hari ini masih di dalam kereta. Belum berjalan lagi menuju kantor.

Dua puluh menit berlalu. Terlihat perawakan Meyta dari kejauhan. Wanita jenjang, setinggi Kirana. Mengenakan rok hitam selutut dan blazer berwarna cream, dengan atasan warna hitam juga. Menenteng tas warna merah muda mencolok, dan syal warna senada. Tengah berdiri bersandar di tembok depan kantor, mencari-cari batang hidung Kirana.

“Mey, ngelamun aja. Ayo masuk!”

“Gue kira masih lama.”

“Seneng kan, Lo, di depan sini bisa cuci mata.”

“Tau banget, sih.”

“Apa, sih, yang Kirana nggak tau,” ledek Kirana.

Mereka berdua melangkah bersama ke dalam kantor, menuju lift, menekan angka lima. Tak lama kemudiam sampai di lantai yang dituju.

“Gue deg-degan. Kirain udah ada bos. Untung-untung, hari ini si bos telat juga.” cetus Meyta, seraya melangkahkan kaki keluar dari lift.

“Rejeki anak sholehah nih.” Kirana membalas.

Kirana sudah menjatuhkan bokongnya di atas kursi depan komputernya. Tangannya gesit menyalakan komputer dan siap bekerja. Begitupun dengan Meyta.

Hari ini cukup sepi, banyak dari rekan-rekan kantor Kirana yang sudah berangkat bertugas ke lapangan. Hanya menyisakan kurang dari sepuluh orang saja di lantai ini, dan kebetulan orang-orang yang tidak terlalu dekat dengan Kirana. Sehingga tidak ada usikan dari mereka.

“Ra,” panggil Meyta

Tubuh Meyta sudah berada di belakang Kirana, tangannya menyodorkan kopi dan roti lapis.

“Serius amat kerjanya, nih, gue kasih camilan. Biar nggak ngantuk.”

“Tau aja, nih.”

“Lo, kan telat, berarti kemaren habis begadang. Berhubung gue baikm jadi gue kasih ini,” ujar Meyta.

“Kayaknya gue nggak ngapa-ngapain semalem. Habis Suci pulang gue langsung tidur, sih. Tapi kok rasanya ada yang aneh.” Kirana menjelaskan keadaannya kemarin ketika masih ada Suci di rumah.

Meyta terdiam sejenak, “Dia pulang jam berapa? Lama banget main di rumah, Lo. Udah kayak sahabat karib aja.”

“Lo, cemburu, nih?” goda Kirana.

“Enggak, aneh aja. Kan baru pertama ketemu. Terus nginep lama banget. Dia tidur di mana?”

“Tidur di kamar, Lo, yang biasanya.”

“Serius, Lo? Kan nggak pernah ada yang nginep dan tidur di sana. Kok Suci dibolehin, sih!”

“Tiba-tiba aja gue nunjuk ke kamar itu dan dia tidur di sana. Gue bingung sama diri gue.”

“Lo, bingung, apalagi gue! Kan, Lo, nggak pernah ajak siapa pun nginep di rumah. Ini tiba-tiba banget.”

“Rasanya nggak tega aja nolak Suci.”

“Sumpah, ada yang nggak beres sama, Lo.”

Meyta meninggalkan meja Kirana. Melangkah menjauh menuju luar ruangan. Mengarah ke kantin kantor, lantai bawah.

Kirana masih terdiam, memegang kopi dan roti lapis pemberian Meyta. Ada yang aneh sama diri gue. Nggak biasanya mudah nerima orang. Sama yang dikenal aja masih pasang barrier. Suci? Langsung gue ijinin? Batin Kirana.

***

“Mey, gue di bandara, nih. Sebentar lagi gue berangkat. Gue mau pamit, beberapa hari ke depan gue netap di Kalimanta Barat, bareng sama Suci.” Kirana berkata dengan nanar, membayangkan bagaimana ekspresi sahabatnya mendengar kabar dadakan tersebut.

Setelah perseteruan mereka hari kemarin, Kirana dan Meyta tidak berkomunikasi. Perang dingin dan semakin menjadi-jadi. Bukan apa-apa, Meyta hanya khawatir dengan sikap Kirana yang aneh akhir-akhir ini, tapi  dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menunggu, berharap akan membaik.

“Lo, dadakan banget. Kenapa baru ngomong sekarang?”

“Kemaren kita marahan, Mey. Nggak tega mau izin. Gue takut.”

“Gue marah karena ada alasan. Nah ini, Lo, tambah-tambahin lagi. Baru juga kemaren kenal sama Suci, sekarang mau vacation bareng? Yakin, Lo?”

“Tiba-tiba waktu berjalan cepet aja. Gue merasa nyaman dan baik, jadi kayaknya nggak ada masalah, kok. Titip salam buat mama gue. Gue nggak mau bikin mama khawatir, jadi gue belum pamit. Lo, pamitin, ya.”

“Lhah, gila, Lo, ya. Harusnya tetep pamit, kan?”

Meyta terheran-heran dengan keputusan serampangan Kirana. Baru kali ini dirinya pergi tidak berkabar dengan orang tua. Keresahan Meyta semakin menjadi-jadi. Tapi memilih bungkam dan menuruti kemauan Kirana.

“Takuk mama nggak izinin. Jadi gue berangkat duluan. Udah, ya. Nggak ada waktu lagi, nih. Gue masuk pesawat dulu. See u.

Tangan Kirana sibuk mengemas ponselnya kembali ke dalam tas kecil selempang. Namun, lupa dengan barang bawaannya tadi, sudah hampir lima belas menit tertinggal di bangku kafe bandara ketika dirinya sibuk bertelepon dengan Meyta.

Gadis muda berumur tidak jauh dengan Kirana datang menghampiri, “Ini punya, Lo?”

Kirana memekik sedikit keras, dan berjingkat, “Astaga, iya, nih. Tas gue!”

“Tadi ketinggalan di sana.” Jarinya mengacung, menunjuk bangku kosong dari kejauhan.

“Makasih banget udah nolongin gue. Oh iya, gue Kirana.”

Diraihnya tas itu dari tangan perempuan itu, lalu mengulurkan tangan, tulus.

“Gue Laras.” Disambutnya uluran tangan itu dengan hangat.

“Lo, sendirian aja, Ras?”

“Iya, gue sendiri. Lo sama siapa?”

“Gue sama temen, dia lagi ke toilet. Mending, Lo bareng kita aja, ya, daripada jalan sendirian.”

Laras hanya tersenyum menanggapi.

Netra Kirana menangkap sesuatu yang janggal. Suci dari kejauhan sudah memperhatikan  Laras dengan tatapan familiar dan akrab. Setiba di tengah-tengahnya dengan Laras, Suci seperti kenal dengan Laras. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dari pertemuan mereka.

“Loh, Laras!”  

“Suci, ya?” balas Laras, seraya berhambur ke arah Suci, dan memeluk erat.

“Kalian udah saling kenal?”

“Temen gue, nih, Ra. Temen kuliah dulu. Ternyata ketemu di sini.”

“Namanya jodoh, biasanya janjian nggak pernah cocok, ini tanpa janjian malah ketemu di sini.”

“Kok bisa kebetulan gini, ya. Lo, mau ke Sambas juga?” Suci menimpali.

“Iya, gue mau ke Sambas. Kalian sama?”

“Iya, nih,” jawab Kirana datar.

Keanehan semakin menjadi-jadi. Setelah mereka bertemu dengan apiknya, kali ini ternyata Laras juga duduk berdekatan dengan mereka. Tepat di baris yang sama dengan Kirana dan Meyta. Benarkah ini hanya kebetulan.

Mereka udah kenal lama, terus nggak sengaja ketemu di sini dengan tujuan yang sama. Mungkin masih bisa ditoleransi. Tapi, tempat duduk Laras dekat dengan kami juga? Betul cuma kebetulan? Batin Kirana.

“Ra, Lo, nggak papa? Kok ngelamun gitu?”

“Gue nggak papa. Mungkin sedikit kecapekan.”

“Its, oke, deh. Lo, tidur dulu, aja. Nanti gue bangunin.”

Senyap tidak ada respon. Kirana pura-pura tidur, malas merespon Suci. Entah bagaimana pikiran Kirana sudah sedikit normal. Tidak se-absurd  kemarin ketika Suci ada di rumah Kirana. Ada sesuatu yang mulai berubah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali