Friend’s Trap – Bagian 5
Kirana memutuskan menjernihkan pikirannya di bangku depan rumah. Kakinya tak pernah sampai ke dapur, dan berakhir di sini. Di depan pekarangan rumah, ditemani kunang-kunang, dan sepinya malam. Malam itu mencekam, waktu seolah diberhentikan dari porosnya. Tidak ada yang bergerak. Bahkan tidak ada yang sudi berlalu-lalang padahal ini masih pukul tujuh malam.
“Ra, lagi apa di sini sendirian? Masuk, yuk. Angin malam nggak bagus untuk kesehatan.”
Laras muncul dibelakang Kirana, berdiri diambang pintu rumah dengan kepalanya yang sedikit melongok keluar, melihat Kirana yang sedikit jauh dari jangkauan.
“Mau, ikut? Gue masih betah di luar.”
Terlihat sinar mata yang tengah menimang-nimang. “Yaudah, gue temenin sini.”
Laras memutuskan bergabung dengan Kirana malam itu. Mengalihkan waktu yang terus berputar dan siap menyingkap rahasia besar.
“Boleh saya berbicara?”
Seorang laki-laki paruh baya datang mengendap-endap dari pintu belakang. Menuju dalam rumah menghampiri Suci dan Laras yang tengah berbincang.
“Silakan, Pak. Ada apa?”
Suci mempersilakan Ki Langgeng memasuki kamar untuk perbincangan tersebut. Memastikan tidak ada orang yang melihat dan mendengar rencana mereka.
“Kirana, di luar sendiri, tidak bahayakah? Bagaimana bila ada orang yang ingin menggagalkan rencana anda?”
“Benarkah? Terima kasih sudah memberi informasi, saya dan Laras akan lebih ketat menjaga Kirana.”
“Waktu kita terisisa berapa lama lagi?” tanyanya penasaran. Bukan ingin buru-buru, melainkan mungkin saja ada suatu rencana yang hendak di realisasikan sebelum tenggat waktu datang.
“Besok malam kita eksekusi.”
Ki Langgeng hanya menggangguk samar. Tatapannya nanar dan menjemukkan. Sedetik kemudian berlalu meninggalkan Suci dan Laras. Tidak lama kemudian Laras menghampiri Kirana di depan rumah dan menemaninya.
“Ra, kita udah satu jam di sini. Masuk, yuk? Kita butuh istirahat. Setelah tadi perjalanan panjang, lo, pasti capek, kan?”
Tanpa kata-kata Kirana berlalu meninggalkan Laras. Dirinya ingin membisu selayaknya malam yang sunyi dan bersembunyi dalam balik kegelapan.
“Selamat tidur, Ra.”
Tubuh Kirana menghilang di ambang pintu kamar. Berganti dengan tubuh Suci yang menyambut Laras dan menggandeng tangannya.
“Kirana ngomong sesuatu sama, Lo, Ras?”
“Enggak, dia diem aja. Mungkinkah tau sesuatu?”
“Mungkin tidak. Karena tidak ada perilaku pemberontakan. Tapi bisa jadi orang lain menginginkan darah Kirana dan mulai mencari celah kita.”
Suci bangkit dari duduknya, berjalan mondar-madir. Mengecek pintu jendela kamarnya. Barangkali ada barang mencurigakan. Namun nihil
“Besok malam acara pemujaan kita. Kirana tidak boleh lepas. Apapun yang terjadi nyawanya harus kita korbankan.” tegas Suci, matanya membara dengan api berkoban dalam dirinya. Laras sedikit mencelos.
Laras memperbaiki posisi duduknya. Kakinya menyerong menghadap Suci, matanya menatap lekat. “Suci, gue mau tanya. Kenapa, kita nggak pake darah orang-orang biasa aja kayak sebelumnya? Kenapa harus orang yang dikenal?”
“Bukan kenapa, tapi kebetulan aja. Darah itu ternyata dimiliki oleh Laras.”
“Apa yang akan berubah dari pemujaan kali ini? Kecantikan, Lo, akan abadi?”
“Why! Cukup, ya, Ras. Gue nggak mau denger omong kosong dari mulut, Lo.”
“Inget, kita temenan udah lama, dan gue merasa berhak untuk tau segalanya tanpa ada yan gdisembunyikan.”
“Lo, mau bantu urusan kita ini, atau memilih pergi? Kalo pergi maka siap-siap, besok yang dieksekusi dua orang. Lo, dan Kirana. Camkan!”
Suci melanjutkan, “Gue rasa guna-guna yang pernah gue pasang ke Kirana sudah pudar. Dia tidak semenurut awalnya serta sikapnya sudah mulai berubah kembali ke sikap aslinya. Lo, harus pastikan, jangan biarkan dia kabur!”
Suci keluar kamar dengan serampangan. Pinu kamar dibantingnya hingga jendela kaca ikut bergetar kencang. Meninggalkan Laras dengan tatapan tidak percaya. Air matanya meleleh membasahi pipi, turun hingga ke piyamanya. Kisah indah sebagai penutup hari Laras.
***
Kegelapan menyelimuti Kirana yang sedang berusaha tidur dibalik selimut. Tangannya memegang ujung selimut yang dia tarik hingga ke atas kepala, dan membenamkan tubunya. Terlentang, miring kanan, miring kiri, tidak ada beda. Matanya tetap tidak mau terpejam.
Disibaknya selimut itu, lalu bangkit dari tempat tidur dan duduk dipinggirannya. Terlihat tatapan gelisah di mata Kirana. Lalu berbisik, “Apa yang akan terjadi besok?”
Matanya beralih menatap koper merah mudanya yang teronggok di pojok ruang. Kakinya melangkah menghampiri, sedetik kemudia koper itu sudah terbuka dan menampakkan buku kecil bersampul hitam. Itu buku diary kecilnya.
Kirana suka menulis, untuk sekilas mencurahkan isi hatinya ketika sulit berbicara dengan orang lain. Malam ini, Kirana ingin berkeluh kesah bersama buku kecil hitamnya. Tangannya merogoh sisi-sisi koper mencari sesuatu. Namun, nihil. Pun di tas jinjingnya juga nihil. Pena, jodoh buku kecil hitamnya tidak terbawa, atau mungkin jatuh sewaktu diperjalanan.
Gusar sekali tampangnya. Ketika tidak bisa menyalurkan emosi maka yang ada hanya air mata merembas ke relung hati. Kesedihannya harus buyar akibat suara berisik dari kamar sebelah. Kirana mendengar mendengar namanya disebut, “Kenapa harus Kirana?”
Eksekusi? Besok malam? Gue mau ditumbalkan sama mereka? Kenapa gue?
Malam itu menjadi malam panjang panjang bagi Kirana dan Laras. Kirana seorang tidak bersalah yang diseret ke dalam kegilaan Seuci, dan Laras, orang bodoh yang mau jadi pesuruh. Keduanya menderita dengan luka masing-masing, dan menghabiskan waktu malam hanya untuk merenung dan memikirkan jalan keluar.
Pagi menjelang, matahari menerobos ke kamar Kirana melalui sela-sela tirai yang sedikit terbuka. Kondisi rumah sepi. Sepertinya tidak ada siapa pun di rumah itu.
“Jam berapa, sih? Mana nggak ada jam lagi, hp juga mati. Perasaan udah panas banget. Lebih panas daripada di rumah. Padahal ini di kampung. Astaga,” rutuk Kirana seraya bangkit dari tidur dan sibuk melipat selimut.
Kali ini tangannya sudah meraih gagang pintu, dan melangkah keluar. Benar perasaan Kirana, rumah itu sepi. Tidak ada siapa pun di sini. Bahkan dari dalam kamar sebelah pun tidak terdengar kebisingan apa pun.
“Suci? Laras? Kalian di mana?”
Kepala Kirana tengak-tengok memastikan keberadaan mereka. Lalu berjalan ke arah dapur, “Laras?”
Tidak ada siapapun di sana.“Mereka nggak ada, nih? Sumpah, bagaimana pun ini kesempatan gue buat kabur!”
Kirana berlari menuju kamar tidurnya. Mengemas barang-barang pribadinya yang harus dibawa untuk keperluan pulang, dimasukkan ke dalam tas jinjing.
Kakinya melesat kembali ke arah pintu kamar, hendak mencari jalan pintas. Tiba-tiba teringat, “Kamar gue, kan, ada jendelanya. Gue lewat situ aja.”
Tubuhnya berhenti dan kembali berbalik mengarah ke ranjang tidurnya, memanjat, lalu membuka tirai jendelnya. “Sial! Jendelanya di teralis, kenapa gue nggak sadar, sih.”
“Gue harus cari jalan lain!”
Kembali lagi melesatkan tubuhnya. Kirana menuju dapur tanpa menengok pintu depan sama sekali. Pikirnya, bila keluar melalui pintu depan, bisa saja ada orang yang melihat lalu melapor. Maka pintu belakang lebi aman. Namun, nihil. Pintunya terkunci dengan kunci ganda. Tidak ada benda keras yang bisa digunakan menghancurkan. Jendela-jendala di dapur pun sama diteralisnya.
Harapan Kirana tinggal satu pilihan, yakni melalui pintu depan. Kirana begegas secepat kilat menuju pintu depan dan mencari segala upaya untuk membuka pintu tersebut, namun sama. Lagi-lagi nihil.
Tubuhnya terhuyung, jatuh ke tanah. Pupus sudah harapannya untuk menyelamatkan diri. Air matanya kembali banjir. Tas jinjingnya sudah tergeletak di samping tubuhnya yang terkulai lemas.
“Kenapa nangis, Ra?”
Dua orang perempuan sudah berdiri di belakang Kirana. Memangku tangan dan memincingkan telinga. “Dasar bodoh!” Laras mengumpat. Tangannya berhasil meraih kepala Kirana dan dihempaskannya keras-keras.
“Ra, Lo, belum jawab pertanyaan gue. Ngapain, Lo nangis?”
Suci melanjutkan, “Ah, pasti udah tau, ya? Tentang rencana kita? Bagus deh, gue nggak usah pura-pura baik sama, Lo.”
Suci berjongkok di depan Kirana, tangannya memegang dagu Kirana yang tiap detik kian mengeras. “Lo, tau? Lo, orang paling tolol yang pernah gue temuin.”
“Gampang banget, ya, bodohin dia.”
“Gampang, Lo, bilang, Ras? Gue tau, pasti ada yang, Lo, lakuin kan, untuk bikin nurut sama kalian?” Kirana berteriak di depan Suci.
“Iya! Gue taruh santet di rumah, Lo! Puas?” dihempaskannya lagi kepala Kirana, ditambah rambutnya dijambak dari belakang oleh tangan busuk Laras.
“Kenapa, kalian lakukan ini ke gue?” Tangisnya menderu, air mata sudah tidak dapat terbendung.
“Tanpa alasan. Kita pilih, Lo, ya karena mau aja.” jawab Laras sinis.
Suci berjalan menjauhi Kirana. Tangannya mencari sesuatu di laci almari dekat ruang tamu.
“Nih, kurung Kirana di kamar. Nanti malam langsung kita seret ke mata air!”
Suci melemparkan kunci tua kepada Laras. Lalu pergi keluar meninggalkan mereka.
Sedang di sudut depan rumah ada sesosok orang tengah mengintai. Bala bantuan atau musuh?
Komentar
Posting Komentar