Friend’s Trap – Bagian 6
Kirana terduduk di belakang pintu kamarnya. Memeluk lutut dan membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya. Air matanya sudah mengering, menyisakan rasa panas dari kedua bola matanya yang memerah.
Hari sudah menggelap, tidak sadar Kirana sudah berpindah posisi, meringkuk di atas lantai. Tertidur akibat menangis seharian. Detik-detik eksekusinya hampir tiba.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kirana. Pindah ke ranjang, lalu tidur. Berharap dirinya akan lupa dengan masalah itu, dan berharap ada keajaiban. Tidak ada lagi mimpi indah mendapatkan wajah cantik awet muda. Yang ada hanya mimpi buruk, bahwa besok, bisa jadi yang kembali hanya tinggal nama.
Terdengar kunci diputar dari luar. Kemudia pintu terbuka, memperlihatkan dua perempuan bengis telah siap dengan tali rotan, penutup mata, dan plester di genggaman tangan mereka.
Suci mendekat, duduk di samping tubuh Kirana yang dalam posisi berjaga-jaga. Didorongnya tubuh itu dengan keras, agar berbalik membelakangi Suci. Menarik kedua tangannya dari sisi-sisi dan memutarnya ke belakang lalu menautkan dengan tali rotan kering yang kering dan kasar.
Baru ikatan pertama pergelangan tangan Kirana sudah tergores dan meneteskan darah segar dari beberapa kulitnya yang terkelupas akibat gesekan dengan rotan. Masih ada tiga tali lagi yang menunggu diikatkan.
Setelah ikatan tangan itu rampung, Kirana dipaksa berdiri. Laras menarik tubuh Kirana sembarangan. Tidak peduli sakit, nyaman, atau tidak. Menyeretnya ke luar kamar hingga tubuhnya terduduk di lantai akibat seretan brutal.
Nasi terlempar dari atas, meluncur kasar dari tangan Suci yang jatuh tepat di wajah Kirana. “Makan, tuh! Sebelum eksekusi, gue pengen, Lo, makan dulu. Gue baik, kan? Gue ngasih makanan terenak dulu sebelum, Lo, mati.”
“Udah, buruan habisin!”
“Nggak usah pake nangis!” bentak Laras.
“Satu lagi, nih. Gue, kan, baik. Gue bakal nyuapin, Lo. Sebagai salam perpisahan. Buka mulut, Lo!”
Tangan kanan Suci memegang sendok dan mengambil makanan dari kertas pembukus makan itu, kasar. Dan tangan kirinya mencengkram keras dagu Kirana agar buka mulut. Di dorongnya sendok itu keras-keras, hingga ke kerongkongan Kirana. Matanya berair kembali, makan bercampur air mata bukan harapan Kirana.
Sepuluh menit kemudian makanan itu tandas juga. Mau tidak mau Kirana harus buka mulut dan menghabiskannya demi mendapatkan secuil tenaga walaupun sesuap itu harus dibayar dengan rasa sakit tidak terkira.
“Tuh, minum!” Laras melempar botol minum ke arah Kirana, tepat mengenai dadanya.
Sakit. Kapan siksaan ini berakhir. Lebih baik gue langsung mati aja. Batin kirana.
“Gue kira, Lo, beda dari Suci. Ternyata jadi tuan rumah. Kenapa awal-awal ramah sama gue?”
“Jawab gue, Ras!” bentak Kirana. Amarahnya tidak tertahan, melihat kelakuan Laras yang lama-lama sama iblisnya seperti Suci.
“Udah, nggak usah banyak omong! Minum sebelum gue ambil lagi!”
“Plis, gue mau mati aja, daripada di siksa!”
“Oh, mau mati, ya? Tenang, habis ini kita berangkat ke mata air. Rela, kan, darah, Lo, untuk Gue sama Laras?” Kakinya melangkah meninggalkan ruangan itu.
Kirana bungkam, mulutnya sudah cukup sakit untuk menanggapi perkataan Suci. Tidak ada lagi tenanga untuk melawan. Dua lawan satu, kondisi yang tidak menguntungkan.
Suci kembali dari dalam rumah, membawa pernak-pernik yang dijadikan satu dalam tas hitam yang dijinjingnya.
“Ras, panggil Ki Langgeng! Kirana udah nggak sabar mau mati.” ungkap Suci, ketus.
Ki Langgeng menjadi kunci ritual ini. Akan berakhir dengan darah atau bersikap sebaliknya?
***
Mereka menempuh perjalan darat, ke arah barat daya sejauh satu setengah kilometer, tepat pukul sebelas malam. Jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh pun medannya tidak terlalu sulit. Namun memasuki hutan lebat dengan banyaknya tanaman beracun dan hewan buas yang bisa menyerang tiba-tiba.
Perjalanan dosa mereka aman dari gangguan, mungkin siksaan itu akan datang langsung dari sang Pencipta.
Beberapa saat berjalan di tengah kegelapan, membawa mereka ke dalam hutan terdalam. Menampakkan tabir kasat mata yang harus dibuka dengan doa-doa leluhur. Setelah itu, mata ini baru bisa menyaksikan pemandangan mata air suci itu. Kecuali Kirana, yang mata, mulut, serta tangannya tidak berdaya.
“Detik-detik kematian sudah di depan mata,” bisik Suci di telinga Kirana.
Tangannya memegang pundak Kirana, erat. Sepintas tergambar ringisan samar dari balik plester menandakan kesakitan. Kirana di dudukan di batu besar, tepat di sebelah mata air. Bentuknya oval dengan permukaan tidak beraturan, khas batu alam. Seolah keberadaanya di sana sebagai tempat dudukan para tahanan kematian. Bercak merah kehitaman pekat tampak dipermukaan batu tersebut.
Laras melepas penutup mata Kirana, membuangnya ke permukaan tanah. Tas jinjing yang semula di bawa Suci, kini sudah berganti tangan dan dibawa Lasar. Tangannya merogoh ke dalam isi tas. Sedetik kemudia mengeluarkan bunga tujuh rupa, baki, pisau, dan semacam gayung kecil.
Kirana menatap diam, bergeming, merasakan kehidupannya akan berakhir sebentar lagi.
“Ki, bisa kita mulai.”
Ki Langgeng maju perlahan mendekati Kirana. Berbisik, “Tenang, saya akan menyelamatkan anda, sebisa saya.”
Langkahnya mundur kembali ke titik awal. Berbicara kepada Suci dan Laras, “Maaf, ternyata kitab pemujaan yang saya bawa tidak ada di sini,” menunjukkan tas selempangnya yang kosong dan memaparkan lubang menganga di tengah-tengah tas.
“Sepertinya kitab itu terjatuh. Boleh saya cari dahulu?”
“Kita udah bekerja sama berapa lama, Ki! Baru sekarang tindakan bodoh itu bisa terjadi dan disaat-saat genting. Saya muak!”
“Sana pergi! Carilah!”
“Larasm Lo, temenin Ki Langgeng cari kitabnya. Gue urus Kirana di sini.”
“Jangan mulai tanpa kamu,” timpal Laras.
“Itu suka-suka gue, siapa tau gue tertarik dan bisa menyiksa dia duluan, siapa yang bisa mencegah?” kata sini Suci diiringi tawa jahat.
Laras dan Ki Langgeng beradu pandang. Lantas berlalu meninggalkan lokasi ritual.
“Sekarang tinggal ada kita berdua di sini. Gue bisa ngapain aja. So, excited!”
Entah kapan pisau itu diambil, pisau besar itu sudah ada ditangan mungil Suci. Diacung-acungkannya pisau itu di depan wajah Kirana.
Wajah Suci mendekat, hanya berjarak kurang dari tiga puluh sentimeter, dirinya menggertak, “Lo, pengen tau kenapa gue ngincer, Lo?”
“Coba tebak, deh.”
Senyum-senyum jahat sudah menghiasi wajah Suci sedari tadi. Ucapan jahatnya sudah berkelebat seharian di benak Kirana. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ini, batin Kirana.
“Gue lepas, deh, plesteran, Lo. Siapa tau ada pesan terakhir yang mau, Lo, sampein.”
Tangannya menarik keras plester yang ada di mulut Kirana, meninggalkan bekas merah dan perih akibat kulit sensitif Kirana yang dibiarkan mengenai benda asing terlalu lama.
“Gue pengen, Lo, ikutan mati kayak gue!”
“Mau apa, Lo? Tangan aja keiket. Nggak bisa ngapa-ngapain, Lo, bodoh!”
Gue kasih pelarajan, nih. Akibat nentang dan berani meremehkan gue. Suci meraih kaki jenjang Kirana yang terlipat dan meluruskannya ke posisi berselelonjor, di sayatnya kulit putih mulus itu dengan pisau yang sedari tadi sudan digenggamnya. Tertoreh tiga sayatan pisau melintang di atas kulit kaki Kirana.
“Awww, sakit!” teriak Kirana, suaranya setengah tercekat di kerongkongan.
“Bagus, teriak yang kenceng, di sini nggak akan ada yang bisa denger suara, Lo.”
Suci melanjutkan, “Gue belum puas.”
Suci beralih ke belakang tubuh Kirana, meraih tali rotan itu. Dipotong lalu digenggam erat-erat tangan Kirana.
“Ahhh, sakit! Stop! Stop!”
Bekas ikatan rotan yang tertali kuat menimbulkan luka yang belum mengering, dan menyebabkan kesakitan ketika di sentuh.
“Ini? Belum ada apa-apanya. Tapi sudahlah, gue udah cukup puas. Gue mau melanjutkan ritual itu tanpa mereka. Lo, siap?”
“Berengsek, Lo!”
Urat nadi Kirana tersayat dalam dan mengucurkan darah segar. Diarahkannya aliran darah itu ke dalam mata air.
“Lo, pasti bertanya-tanya, kenapa gue bisa melakukan ini?”
“Gue muak dengan drama mereka. Gue tau, mereka mau menyelamatkan, Lo. Maka gue harus bertindak. Untung aja, gue udah mempersiapkan ini. Jadi dalam kondisi terdesak gue nggak butuh mereka dan bisa kulakukan dengan tanganku sendiri.”
“Selamat-”
“Stop!”
Datang seorang tetua desa bersama beberapa warga membawa corong api untuk pencahayaan. Keajaiban apa ini. Bagaimana mereka bisa tau.
Komentar
Posting Komentar