Friend’s Trap – Bagian 7

“Kirana!”

Suci melihat Kirana sudah bersimpah darah dan terkulai lemas. Akibat tindakan Suci yang gegabah dan bodoh.

“Tolong, temen saya! Dia di sini, berlumur darah dan banyak luka.” Laras berteriak kepada segerombolan warga yang hadir malam itu, dan mendesak mereka untuk tanggung jawab.

Padahal ada andil tangannya malam petaka itu bisa terjadi. Jadi seharunya tidak mendesak pihak pembantu dan justru sebaliknya. Laras harus bergabung dengan Suci, membayar semua dosa-dosanya.

“Ras, ternyata, Lo nolongin gue. Makasih banyak, ya,” ucap Kirana dengan keadaan tidak berdaya.

“Ra, ini semua ide Ki Langgeng, beliau yang menjelaskan semua rencananya. Setelah siang hari itu memergoki gue dan Suci tengah mengolok, Lo. Gue minta maaf atas itu.”

“Its, oke, Ras.”

“Ki Langgeng sedari awal bukan orang jahat, Ra. Hanya seorang laki-laki yang perlu menafkahi keluarganya, dan terdesak harus melalukan pekerjaan kotor ini, dan selalu berniat ingin mengakhiri. Ternyata niat itu terealisasi pada kasusmu, kali ini. Walaupun harus membuat, Lo, terancam.” Laras merasakan matanya perih, buliran hangat sudah mengalir deras. Dirinya bersimpuh mohon ampun di samping Kirana yang sedang ditangani oleh warga sekitar.

“Udah, Ras, gue nggak papa. Gue percaya sama, Lo.”

“Maaf, saya harus meyakinkan Suci bahwa saya tidak memberontak dengan bersikap kurang baik di awal kedatangan anda, dan harus membuat anda terluka seperti ini,” ucap Ki Langgeng’

“Tidak papa, Ki. Semua alasan masuk akalnya. Saya sudah makaafkan kaliam semua.”

“Lantas, alibi buku hilang apakah guna memanggil orang-orang ini?”

“Betul, Ra, kita butuh alibi, yang sayangnya sudah bisa ditebak Suci dan akhirnya melukai, Lo.” ucap Laras.

Laras dan Kirana masih di dalam hutan pedesaan kota Sambas. Mereka belum beranjak keluar dari hutan sebelum membereskan kekacauan yang timbul oleh seorang Suci.

Suci diduga orang menyimpang, dan mengikuti ilmu hitam, dia percaya dengan mitos-mitos yang dikatakan gurunya dan berani melakukan hal tidak baik. Hingga berujung pada pembunuhan berat berencana. Itu menurut orang sekitar.

 walaupun masih ada oknum-oknum yang percaya dengan dengan berita ini. Maka semua pihak harus tetap diam menyimpan semuanya dengan rapi. Supaya tidak timbul hal yang tidak diinginkan dikemudian hari.

Keadaan sudah membaik, Kirana sudah dibawa ke rumah tetua setempat. Pada siang itu sang tetua mendekati Kirana, dan berkata,"Apa yang kamu ketahui benar adanya. Tapi kami harus tetap merahasiakan ini. Kami harap, kamu pun bisa menjaga rahasia ini juga seperti kami. Oke Kirana?"

"Bapak tau nama saya? "

"Iya, saya tau. Saya tetua, kerabat dari keluarmu, kamu memiliki darah yang seperti Suci sebutkan. Serta. Itu nyata. Suatu hal kutukan dari keluarga kita. Jadikanlah itu pelajaran untuk lebih hati-hati dalam hidup, jangan mudah masuk perangkap orang."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali