Tak Ada Keberuntungan dalam Usaha


Orang bilang menyenangkan, ya, jadi orang bejo. Melebihi menyenangkan menjadi seseorang yang cerdas. Padahal asal ditau, keberuntungan tidak datang dengan tiba-tiba. Aslinya ada faktor-faktor pemanggil mengapa keberuntungan itu bisa menghampiri kita. Selain dibalik ketetepan takdir Tuhan, keberuntungan tau juga, bahwa memang kita pantas untuk didatangi. Mengapa bisa demikian?

Sebagai contoh analoginya seperti ini, ada seorang tukang tambah yang terkenal ramah dan sabar dalam melayani pembeli. Tak pernah marah-marah, dan juga telaten. Suatu ketika hari sedang sepi orderan, taka da yang menambal ban sama sekali. Namun tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba datang seorang ibu-ibu paruh baya memberi sedekah nasi kotak sejumlah tiga. Sebanyak anggota keluarganya. Apakah ini kebetulan?

Ketika bapak tambal ban itu adalah sosok yang menyebalkan dan tukang marah, sudah pasti ibu paruh baya tadi tidak akan berpikir akan membeikan sedekah nasi kotak itu ke bapak tersebut. Tapi rupanya, bekal kepribadian baik sang bapak menghantarkan keberuntungan datang kepada dirinya. So, sudah merasa benarkah mengenai konsep bahwa keberuntungan itu berasal dari usaha diri kita sendiri?


Lantas mari menuju ke ektistensi hakikat seorang hidup. Seseorang sudah tak diragukan lagi tentang kehidupan pokoknya berupa makan, minum, bekerja, mengejar sesuatu, atau merasa ingin dikenal. Sebagai tokoh penulis sastra, pada setiap jiwa penulis pasti yang diinginkan adalah karyanya mampu terbit dalam penerbit terkenal dan dibeli oleh ribuan bahkan jutaan pembaca. Lebih-lebih naik tingkat lagi, lolos seleksi scenario dan difilmkan.

Setiap orang memiliki tujuan tertentu untuk dicapai, walaupun sesederhana “Aku ingin menghasilkan uang melalui tulisanku.” Apakah sah? Jelas sah-sah saja, dan bagus. Karena kenyataannya mencari dan mendapatkan penghasilan bisa melalui mana saja. Bisa melalui kemampuan baking dengan membuat dan menjual kue, bisa juga menulis suatu ide gagasan opini maupun cerita karangan, sebagaimana hobi yang aku tekuni sekarang. Dan harapannya bisa menghasilkan penghasilan melalui ini.

Proses menulis hingga nantinya bisa menjadi tokoh yang dikenal tidak terlepas dari tiga hal, yakni writerpreneur, personal branding, dan optimasi sosial media. Loh, kenapa bisa demikian? Ingat tentang eksistensi tadi? Seseorang mendaba-dambakan sekali tentang menjadi terkenal dan dikenal. Memang tidak salah. Bahkan menjadi terkanl dan dikenal pun membawa banyak privilege.


Salah satunya, kita bisa menjual apapun. Percaya atau tidak, ketika nama kita sudah dikenal oleh msyarakat, mau menampilkan “produk” seserampangan apa dan bilang bagus, pasti mereka percaya dan mau membeli. Asal pintar membawa diri dan mengemas produk dengan baik. Serta mampu menawarkan produk secara professional. Begitu pula dengan seorang penulis, jiwa bisnisnya bisa sangat membantu dalam proses promosi dan penjualan karya maupun penawaran jasa.

Ketika menerbitkan buku solo dipenerbitan indie, maka tak heran lagi bila bisa sepi peminat apalagi hingga deal terjual. Karena nama penerbitan dan penulisan sama-sama belum diketahui. Pun sama tentang penawaran jasa review buku, tempat, produk, makanan, melalui blog. Bila kita belum memiliki rekam jejak yang baik, maka akan sulit juga untuk menemukan “pembeli” kita. Lantas supaya menarik pembeli bagaimana setelah berhasil membuat produk dan membangun portofolio?

Yakni yang selanjutnya personal branding dan optimasi sosial media. Kita bisa menggunakan sosial media untuk gencar memperkenalkan diri kita sebagai blogger yang khusus dalam mereview buku dan macam-macamnya. Selalu gunakan media sosial untuk membagikana info baru terkait upadate-an konten kita, dan bangun audience melalui sana. Maka lambat laun bila kita konsisten dalam hal ini, pembaca tau bahwa ciri khas kita adalah menulis review buku, sastra, dan pernak-perniknya.


Dari kecenderungannya ini, pelanggan yang siap menyewa jasa menulis kita, jadi tahu bahwa kita adalah penulis yang tepat sesuai kebutuhan mereka. Sehingga mudah untuk mengontak dan mengontrak setelah mengetahui kemampuan dan siapa kita.

Wah ternyata menjadi seseorang yang bisa menulis saja itu masih kurang ya. Rupanya harus bisa memperkenalkan diri dan menjual nama diri di tengah-tengah masyarakat agar penjualan bisa lebih meningkat dan memikat.  Lantas, kita bisa mendatangkan "keberuntung" di masa depan, atas usaha kita dalam memperkenalkan dan membawa diri di tengah-tengah masyarakat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali