Untuk Sahabat di Masa Depan
Untuk aku yang hanya dikelilingi oleh sedikit orang, makna sahabat menjadi sangat luar biasa. Tidak sembarang orang bisa kusebut sahabat walaupun sama-sama dekat dan bisa berbaur. Nyatanya hingga sekarang, rasanya-rasanya belum menemukan arti sahabat yang sebenar-sebanarnya. Teman dekat? Tentu ada. Sahabat? Masih dalam mode pencarian hingga sekarang.
Barangkali yang merasakan hal serupa seperti aku banyak juga
ya? Apakah kalian suka khawatir? “Mereka enak sekali ya, punya sahabat dekat
sebanyak itu. Sedangkan aku masih seperti ini saja.”
Tema kali ini sebenarnya tentang surat untuk sahabat. Berhubung
aku belum memiliki sahabat, maka izinkan aku, untuk menuliskan sedikit surat
untuk sahabatku kelak di masa depan. Mungkin bisa jadi kalian yang akan membaca
surat ini kelak. Who knows?
Tidak apa-apa, kok. Kalau sekarang masih sendiri. Setidaknya
selalu ada Allah yang selalu menemani. Tidak apa-apa, kok. Kalau sekarang hanya
itu-itu saja teman mainnya. Barangkali Allah sedang menjagamu dari pergaulan
yang tidak di ridhio Allah. Tidak apa-apa, kok. Kalau sekarang tempat mainnya
hanya sekitaran rumah. Tidak seperti mereka, yang bersama sahabatnya bisa ke
sana kemari lintas kota, lintas negara. Barangkali yang Allah inginkan perginya
hanya boleh dengan kekasih halal atau mahrom saja, demi menjaga izzah dan
iffahmu sebagai perempuan.
Arti sahabat menurutku, bukan tentang kamu yang melulu bisa
bisa bercanda ria melepas panat. Diammu pun tak apa. Mungkin dari sana kita
bisa memperbanyak muhasabah diri dan saling berbenah. Tidak apa, jika kamu
hanya orang biasa sepertiku. Mintaku bukan hartamu, bukan traktiranmu. Inginku,
hanya semoga kita bisa sama-sama menuntut ilmu bersama. Membersamai disetiap
langkah kebaikan, tidak melulu tentang ke sana kemari ke tempat-tempat viral.
Aku tidak masalah, dengan perangaimu yang bawel. Kita bisa
saling melengkapi. Apalagi dengan sifatku yang cukup pasif. Semoga aku bisa
mengimbangi bawelmu dengan mengingatkan hal-hal kebaikan dan turut memengaruhi
agar berbicara bisa secukupnya saja. Kamu pun bisa mengimbangi diamku, dengan
mengajarkan berani berbicara dan beropini, tidak melulu diam dan terjerumus ke
dalam ketakutan menolak.
Sesungguhnya mencari sahabat itu tidak sulit. Allah sudah menciptakan
milyaran manusia. Harusnya tidak ada kata, “Aku tidak punya sahabat.” Tapi its,
oke. Peran kita di dunia ini, mungkin sementara waktu untuk sendiri dulu.
Belajar menghadapi diri sendiri sebelum menghadapi orang lain. Belajar
menghargai diri sendiri dulu sebelum bisa menghargai orang lain.
Kesendirian pun tidak selamanya menyedihkan, kok. Pun
nantinya, di akhir hayat pun kita sendirian. Barangkali Allah menginginkan kita
untuk berdamai dengan kesendirian, sebelum nantinya benar-benar dihadapkan
dengan kesendirian yang nyata.
Untuk sahabatku, tidak apa-apa, ya. Mungkin temumu dan temuku
tidak sekarang. Barangkali besok, lusa, atau bisa jadi tahun depan. Semoga aku
dan kamu Allah takdirkan untuk saling menemukan dan membersamai. Dalam suka
maupun duka. Dalam taat maupun maksiat, semoga bisa saling mengingatkan.
Tak usah risau dengan kekurangan dirimu. Aku pun memiliki
kekurangan yang sama. Kekurangan itu tidak akan menghambatmu untuk bersahabat
denganku. Karena pandanganku kepadamu hanya karena Allah. Semoga pun kamu mau
menerima aku tanpa melihat kekuranganku. Mungkin aku yang berbeda tidak seperti
orang lain. Tidak seeksis orang lain dan sebagainya. Semoga kamu tetap mau jadi
sahabatku.
Semoga sekelumit suratku ini bisa engkau kenang nanti.
Barangkali kalau kamu adalah salah satu dari pembaca suratku saat ini. Bisa
jadi, kita dipertemukan dalam suatu kegiatan yang tidak disangka-sangka. Jangan
sedih, ya. Sekarang sendiri dulu tidak apa-apa.
Komentar
Posting Komentar