Aku Ingin Mengenal


Siapa, sih, yang tidak tahu dengan seorang Dee Lestari. Atau nama lahirnya Dewi Lestari Simangunsong. Yang lahir pada tanggal 20 Januari 1976. Seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia.

Dee merupakan anak nomor empat dari lima bersaudara. Lahir dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan br Siagaian. Rupanya pun darah seni Dee ini mengalir dari orang tuanya. Karena dalam keluarga, tak hanya Dee saja yang mencintai seni, melainkan juga ketiga saudaranya pun aktif di bidang seni.

Misalnya saja sang kakak, Key Mangunsong, seorang sutradara dan penulis skenario. Kakak perempuan keduanya, Imelda, adalah seorang pianis dan penyanyi Jazz. Lalu adik perempuan Dee, Arina Ephipania, juga seorang penyanyi grup musik Mocca.

Tak heran, ya, bagaimana seorang Dee bisa menjadi penulis. Karena lingkup keluarnya pun kebanyakan pecinta seni.

Tapi sebelum menjadi Dee yang sekarang, perjuangannya tidak sepele. Sebelum masuk ke dalam dunia kepenulisan, Dee lebih dahulu tertarik dengan dunia musik. Ayahnya lah, yang membawa kegemaran itu kepada Dee. Karena ia juga seorang pianis, di sisi lain pekerjaannya sebagai seorang TNI.

Karir Dee sebelum masuk ke RSD, rupanya pernah menjadi penyanyi latar untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye. Lalu kisaran bulan Mei 1994, barulah ia bergabung untuk membentuk RSD, atas ide Ajie Soetama dan Adi Ardian. Dan begitulah, mula karir musiknya dengan prestasi yang tak sedikit. Menggiring kesuksesan pada bidang kepenulisan.

Sebelum akhirnya karya Supernova terkenal, pada tahun 2001, Dee terbiasa muncul di beberapa media. Tapi sayangnya saat itu belum ada yang mengenali Dee.

Namun kegigihannya yang luar biasa, dibalik entah direspon masyarakat atau tidak, Dee tetap menulis. Kala masa sekolahan, Dee sudah terbiasa menulis, mengiirm lima belas tulisan untuk buletin sekolahnya. Sebegitu senangnya ia dalam hal kepenulisan, ya. Benar-benar totalitas.

Dari tulisan-tulisan kecil itulah Dee menyusun Supernova 1: Kesatria, Putri & Bintang. Yang rilis pada 16 Februari 2001. Terjual hingga 12.000 eksemplar dalam kurun waktu kurang lebih 35 hari.

Karya Supernova berhasil masuk nominasi Katulistiwa Literary Award. Bersaing dengan sastrawan terkenal lainnya, seperti Goenawan Mariyadi, Danarto.

Melihat kesuksesannya pada novel pertama, akhirnya pada 16 Oktober 2002 disusul oleh luncurnya Supernova 2, dan novel-novel lainnya yang berhasil terbit tiap tahun.

Dee Lestari yang sekarang tidak bisa akan didapat dengan berdiam diri di rumah. Kerja kerasnya dalam menulis, terbayarkan setelah sekian tahun menulis. Bermula dari media kecil, hingga akhirnya bisa dipinang oleh penerbit.

Penulis sukses tidak semulus itu jalannya. Walaupun kelihatannya lurus-lurus saja dan punya bakat, tapi pasti akan dihadapkan juga dengan masa sulit. Yakni Dee permah tidak menerbitkan karya selama sekian tahun. Sebelum akhirnya bisa bangkit, kembali menulis, dan terbitlah buku Rectoverso.

Ternyata demikianlah perjalanan singkat seorang Dee. Seseorang yang tidak cepat merasa puas, walaupun sudah berhasil dalam bidang musik, dirinya tetap mengekplorasi kemampuan diri dan mendapatkan nilai jual atas itu.

Lantas, bagaimana dengan angan-angan kesuksesan yang suka mampir di benak kita? Benar sudah pantas untuk mendapatkan itu? Seberapa banyak keringat dan air matamu yang luruh untuk mengupayakan itu? Kalau masih nihil, ya, jangan berharap ingin menjadi seorang seperti Dee Lestari. Malu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali