Apa Yang Membuat Kita Bahagia?
Sekarang ini rasa-rasanya setiap orang memberi tekanan tersendiri, juga menaruh ekepektasi tinggi kepada kita. Entah “minta” dibahagiakan, minta dimengerti, minta diperhatikan. Lalu, bila tidak ada respon apa-apa dari kita, menilai kalau kita ini kurang cakap. Bukan good people.
Padahal, nih. Kebahagiaan diri yang datangnya dari perhatian orang lain atau apapun itu, harusnya menjadi tanggung jawab diri sendiri, lho. Tidak dibebankan kepada orang lain. Diri sendirilah yang berhak mengatur ritme kerja hati supaya bisa merasa bahagia “setiap waktu”. Bukan malah menyalahkan orang lain yang tidak bisa membuat kita bahagia.
Menurutku perilaku orang lain kepada kita adalah sebuah bonus. Kalau rupanya dibalas dengan perlakuan yang baik atau bahkan lebih, ya, Alhamdulillah. Kalau tidak pun tidak apa-apa. Jadi jangan menaruh ekspektasi berlebihan, supaya jatuhnya tidak sakit. Dan tidak memperparah keadaan “tidak bahagiamu.”
Jadi semisalnya sudah memegang kontrol atas diri sendiri, sudah tak ada lagi itu yang namanya tersinggung, tidak terima, kurang apresiasi dari orang lain. Karena sejatinya pun, kita melakukan hal tersebut juga untuk kewarasan diri sendiri, bukan membahagiakan dan mencari validasi orang lain. Betul?
Aku punya beberapa kebiasaan yang bisa dibangun untuk membantu diri mengkontrol kebahagiaan (Menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri). Dikutip dari rangkuman video Youtube yang aku simak, Psych2go.
Menerima Hal-hal Positif dalam Hidup
Seringkali kita sebagai manusia suka sekali sibuk dengan perasaan-perasaan tidak mengenakan dari masa lalu dan mengabaikan hal baik apa yang sudah terjadi dalam kehidupan. Pokoknya hal negatif terus yang diingat-ingat. “Saya anaknya malas, ya. Nggak bisa ngapa-ngapain banget. Ah, kenapa sih, waktu itu saya tolak tawaran itu.” Dll.
Suka banget memutar-mutar kembali skenario buruk, yang isinya bisa jadi malah mendatangkan penyesalan. Alih-alih membayangkan hal positif apa yang bisa datang dari hal tidak mengenakan itu. Justru yang ada malah makin merana.
Ayo ganti kalimat-kalimat negatif yang suka sliweran dengan kata-kata yang lebih menyenangkan,“Alhamdulillah waktu itu saya menolak tawarannya, walaupun gajinya besar, tempatnya nyaman, tapi ternyata di sana kegiatan ibadahnya kurang. Tidak ada shalat berjamaah apalagi pengajian mingguan bersama karyawan.”
Kebiasaan yang baik itu menerima dan mengakui apa yang dirasa berharga dalam diri, dan merasa beruntung atas itu. Supaya tidak terus menerus membandingkan diri dengan orang lain. Selain tidak bahagia, itu juga menjadi indikasi mejadi orang yang tidak bersyukur.
Karena kalau disyukuri, hal yang sedikit, yang dirasa sangat buruk, bisa menjadi berkah dan membuat bahagia.
Lakukan Hal yang disukai
Bila mempunyai hobi, lakukanlah. Sempatkan bila ada waktu senggang. Melakukan hal kesukaan misalnya membaca buku atau melukis dan menonton film, bisa melepas tekanan dan mengurangi stress. Bisa mendatangkan kebahagiaan juga.
Di sisi lain pun bila diwaktu senggang itu bisa melakukan suatu kemampuan yang ingin dikembangkan, hasilnya akan lebih baik lagi. Rasa puas setelah berhasil menghasilkan dan membuat kemajuan dari hal yang dipealjari, akan lebih membahagiakan dan memuaskan diri. Daripada hanya sekedar melakukan hobi.
Bergaul dengan Orang-orang Yang Membuatmu Nyaman
Bergaullah dengan orang-orang yang kamu merasa aman dan nyaman. Tidak merasakan tekanan bila harus merespon suatu hal. Tidak merasa bersalah ketika melontarkan hal-hal “di luar” kendali. Dan bisa menjadi diri sendiri.
Rasanya sangat menyenangkan ketika bisa melepas topeng yang biasanya dipakai untuk menghadapi khalayak. Rasanya lelah bukan? Maka ajaklah teman yang kamu senang ketika bersamanya untuk menghabiskan waktu bersama. Serap energi positifnya, dan pulanglah dengan perasaan bahagia.
Tak perlu ambil pusing dengan sikap-sikap dingin orang lain. Toh, hidup berhargamu itu tidak untuk mereka, kok. Energimu jauh lebih penting dihabiskan umtuk membahagiakaam orang berharga.
Mereka yang tidak baik itu, tidak berhak atas perhatianmu. Jangan habiskan energi positifmu untuk merespon hal tidak mengenakkan. Banyak deretan kegiatan yang menunggu dicoba, pengalaman baru, teman baru. Iya kan?
Investasilah kepada hal-hal yang bisa mendatangkan kebahagiaan. Kalau suka nonton konser bersama, ya, upayakanlah itu. Dan ingat selalu momen bahagiamu itu, ketika suatu hari sedang merasa tidak baik-baik saja. Siap?
Di atas adalah beberapa hal penting yang bisa dibangun untuk menciptakan rasa bahagia untuk diri sendiri. Selain hal-hal di atas, masih ada banyak lagi. Tapi mungkin tiga itu dulu yang bisa kita coba perhatikan dan terapkan dalam keseharian. Dengan harapan, semoga diri kita ini puas akan diri sendiri. Tidak butuh lagi validasi orang. Kalau bisa, buatlah orang lain bahagia dahulu, kebahagiaan yang memancar itu bisa menular kepadamu, lho.
Lebih baik mengupayakan apa yang bisa diupayakan, alih-alih menuntut ini dan itu. Bahagiamu kamu sendiri yang menciptakan.
Lakukan yang terbaik untuk orang lain, tanpa memaksakan diri memenuhi ekspektasi mereka. Tapi kurangilah ekpektasimu terhadap mereka.
Resep terakhir, banyak-banyak bersyukur.
Komentar
Posting Komentar