Esok Akan Baik-baik Saja


Langkahmu gontai menyambut pekarangan rumah. Lenganmu sudah payah, tak mampu menopang bobot tubuhmu kala mendorong pintu rumah. Napasmu masih tersenggal, habis diperjalanan. Pulang hanya membawa sisa kekuatan indra penciumanmu. Yang masih bisa menangkap nguar aroma ikan asin dan sambal tomat dari dapur rumahmu.

Kau bawa tubuhmu menghambur ke hangatnya dekapan ibu.

“Bu, anakmu pulang.”

Usapan halus di atas pucuk kepalamu, dan senyum tentramnya mampu merontokkan lelahmu yang tak terkira itu. Walaupun dalam batin, masih ada luka yang tak akan pernah sembuh ditambah luka baru yang entah kapan akan pulih.

Kekhawatiranmu akan hari esok. Masih menunggu ingin dituntaskan. Marajuk ingin diperhatikan.


- - -

Matamu menyorot tubuh ibu yang sembahyang Maghrib di sudut ruang tamu. Tak kuasa tanganmu mengangkat sesendok nasi, dan melihat ibu, yang tengah bermunajat kepada Gusti Allah dengan air mata mengalir pelan.

“Ibu, mikir apa?” batinmu.

“Cukup aku saja, Bu, yang memikirkan nasibku sebagai buruh.” Kata-kata yang tak bisa meluncur mulus melalui bibir pucatmu. Hanya tertahan anggun di kerongkongan. Mana tega harus membuat ibu khawatir, dengan nasib kehidupan yang sudah menjadi tanggung jawabmu.

Mana mampu kau teruskan makanmu itu, walau perut rasanya lapar setengah mati. Melihat ibumu hanya duduk manis melihat anak lelaki satu-satunya makan lauk terakhir dan nasi sisa kemarin.

“Ibu, sini makan berdua. Jangan melihat Anwar saja.”

Lagi-lagi, tegakah dirimu memandangi ibumu yang hanya mampu menyuguhkan senyuman tanpas protes. Masih sanggupkah untuk berada di sana tanpa memeluk ibumu dan menenangkan bahwa esok akan baik-baik saja.

 

- - -

Hidupmu hanya berdua. Berteman kelabunya awan-awan biru dan gema kesedihan. Lakumu tertahan oleh lengan-lengan birokrat yang maunya hanya mempekerjakan anak-anak konglomerat. Apalah dirimu yang hanya orang melarat.

Hari-harimu bagai kuburan tak bernisan. Sepi, tak ada tanda-tandan kehidupan. Sulit mau makan, apalagi mengembangkan kehidupan.

Mau sekolah saja tak ada biaya. Apalagi melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, bisa gila.

Dan urusan pekerjaan, apalagi.

Tenagamu, usahamu, doa-doa ibumu, harus kaurelakan. Sebentar lagi semuanya berganti dengan tangan-tangan besi. Yang lajunya tak perlu minta restu ibu. Yang geraknya tak akan merasa lelah selayaknya dirimu.

Semua sebab transformasi digital.

Kaum petinggi sudah tak lagi membayar gajimu yang kecil itu hanya untuk pekerjaan rendahan.


- - -

“Ibu, anakmu akan berhasil di jalan lain. Doakan aku. Semoga bisa menyambut Indonesia 2024 dengan bahu yang lebih kuat lagi, untuk membahagikanmu.”

Anwar berjalan perlahan dari meja dapur menuju ruang tamu. Seraya membopong sepiring nasi berlauk ikan asin dan sambal tomat. Juga segelas air putih siapan ibunya.

Duduk di samping ibu, lebih mententramkan. Daripada harus duduk sendirian walaupun hidupku menggiurkan di tanah seberang.

Makan nasi sepiring berdua lebih nikmat, daripada harus merantau dan kehilangan akalsehat.

“Temani aku hingga sukses, Bu.”

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali