Kenapa Harus Sombong?



Dimulai dari hari kemarin, Universitasku, khususnya jurusan Manajamen Dakwah melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan.

KKL dilaksanakana di Pulau Karimun Jawa. Menggunakan jalur laut, yang jarak tempuhnya kira-kira lima setengah jam. Menggunakan kapal Pelni, yang mau tidak mau memaksa kami untuk mandiri membawa barang-barang, termasuk koper besar.

Keberangkatan kami pada malam hari pukul 23.00. Sudah dalam kondisi lelah yang didahului menunggu waktu keberangkatan sejak pukul 19.00.

Begitu masuk kapal, sudah dengan sisa-sisa tenaga. Perut kosong. Terpaan angin malam yang dinginnya tak terkira.

Menjadi penyebab tak sedikitnya dari kami mengalami mabuk laut. Sholat shubuh pun dilakukan dengan persaan campur aduk, badan kurang fit, perut mual-mual, kepala pusing.

Tapi syukur Alhamdulillah di waktu labuh kami bisa kembali ceria menyambut matahari terbit dan satu dua lumba-lumba yang menampakkan diri.

Perjalanan laut pun kembali diteruskan dengan berganti kapal yang lebih kecil. Menuju lokasi snorkeling yang pertama.

Ada agenda makan siang di pantai A, snorkeling ke dua, menunggu sunset lagi di pantai B. Daan banyak lainnya.

Hmmm.. Tapi sebenarnya titik fokusku tidak ingin berbagi detail perjalanan ke Karimun. Beberapa hal di atas sebagai pembuka kalimat saja.

Sebuah pengalaman menelan air asin sewaktu snorkeling yang tak akan pernah terlupakan. Bagaimana celorot matahari yang memuhi pelupuk mata. Bagaimana indahnya lukisan Tuhan di dasar laut. Juga tafakur alam yang sudah lama ini belum kulakukan dengan betul.

Dari perjalanan KKL ini, aku kembali merasa dekat dengan Tuhanku. Perjalanan kapal kecil terbuka, berjam-jam memaksaku untuk memandangi luasnya lautan.

Apalagi yang bisa kulakukan, selain mensyukuri dan MengAgungkan ciptaan-Nya.

Sepanjang jalan menuju lokasi per lokasi, selalu yang dibayangkan berapa kerennya Allah. Bisa menciptakan air sedemikian rupa. Gelombang. Ombak. Terumbu karang.

Betapa manusia itu sungguh kecil. Dengan gelombang ombak saja bisa kalah. Dengan terpaan angin sepoi nya saja bisa masuk angin. Yakan?

Betapa kerennya Allah bisa menciptakan dua warna air dan menyatukannya tanpa bercampur satu sama lain.

Lemahnya manusia makin nampak. Ketika dihadapkan dengan ciptaannya yang Agung. Terus, kenapa masih bisa sombong? Punya apa sih kita? Nafas saja masih pinjam.

Sebuah pengalaman spiritualis yang bisa aku bawa pulang. Semoga saja, bisa membantuku semakin taat dengan Tuhanku, kala mengingat kembali atas hamparan Rahmat-Nya yang luas.

Komentar

  1. Keren banget kaak. Dari mengamati alam kita juga bisa sekalian mengagumi ciptaan Tuhan, jadi semakin dekat kepada-Nya, mengagumi kebesaran-Nya. Manusia kadang lupa betapa kecilnya mereka jika hanya fokus pada diri sendiri huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kak. Makanya kalau orang bilang, "Coba daki gunung, biar tau rasanya nggak jadi apa-apa."

      Hapus
  2. Berhadapan dengan alam membuat kita merasa kecil ya Kak. Benar-benar merasa kayak debu, ga ada artinya. Masyaallah. Mau sombong jadi malu, karena beneran ga pantes buat sombong. Terima kasih remindernya, Kak

    BalasHapus
  3. Masya Allah the real taddabur ya. mudah-mudahan kita jadi individu yang merawat dan menumbuhkan lagi fitrah kita. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin ya Allah.. Sama-sama kita ya mba

      Hapus
  4. Masya Allah.. Itulah manfaat sebuah perjalanan. Bisa bertafakur dan sekaligus berdzikir mengagumi kekuasaan Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita bisa menjad hamba yang bisa ambil pelajaran dari tiap perjalanan ya, mba

      Hapus
  5. Impianku sejak dulu pengen ke Karimunjawa, semoga suatu hari nanti bisa keturutan 🤲

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin ya Allah. Bismillah, ya, Mba. Semoga cepet bisa ke sini, liat ikan nemo

      Hapus
  6. Emang sering banget dari tadabbur alam kita lebih mengenal ciptaan Allah dan ke Maha Besaran-Nya.. 😥

    BalasHapus
  7. Iya setuju, bahkan kadang cuma mandang langit jadi merasa kecil banget.

    BalasHapus
  8. Wah KKL nya bolang banget ya. Gak kebayang dinginnya naik kapal jam 23.00 malam. Bener² perjuangan bgt ya kak..

    BalasHapus
  9. Setuju kak, betapa manusia itu sungguh kecil. Dengan gelombang ombak saja kalah. Begitupun dengan terpaan angin sepoi, kadang bisa dibuat masuk angin. Terima kasih untuk pesan pengingat yang disampaikan lewat tulisan ini kak.

    BalasHapus
  10. Setuju banget kak, kenapa harus sombong sih? Manusia cuma titik kecil di muka bumi ya. Indah banget pasti KKL nya ya kak

    BalasHapus
  11. Setuju banget kak. Manusia hanyalah titik kecil di antara alam semesta yang tak terbatas ini. Membayangkan laut dan langit, rasanya indah sekali. Benar-benar menakjubkan kebesaran Tuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak pernah habis kata ya kak. Untuk memuji kebesaran Tuhan

      Hapus
  12. Seakan menampar saya, karena merasa masih sering terlalu sombong sebagai manusia-Nya

    BalasHapus
  13. Pengalaman terjun ke alam bener-bener bikin keimanan naik. Terkoneksi dengan alam membuat kita lebih terkoneksi lagi dengan Penciptanya. Renungan yang sangat dalam, Kak!

    BalasHapus
  14. Yes! Allah dulu, Allah lagi, Allah terus

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali