Membangun Hubungan yang Sehat


Siut-siut angin dan teriknya matahari ikut meramaikan suasana pagi itu. Pelataran halaman sekolah sudah dihiasi bentangan karpet lipat berwarna abu-abu berlis merah. Juga botol minum warna-warni yang berjajar rapih ditepian karpet. Melambai-lambai minta diseruput.

Sedang di ujung sana, anak-anak sedang berbaris manis di depan kelas masing-masing. Rambut kuncir kuda dengan karet berwarna pink, senada dengan sepatu yang dipakai. Seorang Agnes, tengah sibuk mengatur barisan teman-temannya. Tersorot dari mata Dila, yang berjalan dari arah berlawanan.

“Ra, lihat, deh. Dila gaya banget. Baru sekali ditunjuk Bu Nina untuk pimpin barisan, jadi sok ngatur gitu.”

“Itukan memang tugas seorang pemimpin, Dil. Apanya yang salah? Udah syukur Agnes mau menggantikan Iman,” balas Ara, dengan nada pembelaan.

“Bener, sih. Nggak ada yang salah. Tapi ini, lho. Kok sombong gitu. Sok banget tingkahnya. Kayak orang paling penting sedunia aja,” bantah Dila.

“Mulutmu, Dil! Kamu, kan, nggak tau apa niat Agnes di dalam hati. Jangan komentar sembarangan, tau. Diem aja, deh. Sstt…” telunjuk Ara mengisyaratkan tanda diam kepada Dila.

-----

“Kok lama, sih? Dari kamar mandi aja jalannya lelet banget kayak puteri Solo. Mana sambil ngobrol. Gak tau, nih, kalian ditungguin satu kelas?” tanya Agnes.

Dila yang hatinya dongkol, berjalan dengan langkah lebih cepat dari sebelumnya. Meningggalkan Ara yang tetap berjalan santai di belakang Dila.

“Eh, Dil. Tungguin dong. Buru-buru banget kayak dikejar setan.”

Kepala Dila hanya menengok sekilas ke arah Ara, dan sibuk menyibak kerumunan barisan. Lalu nimbrung di dekat Bela yang tengah berdiri sambil membopong dua tas jinjing di tangan mungilnya.

Matanya menyorot kedatangan Dila, “Bete, nih, habis diapain sama Agnes?”

“Ah, biasa, Bel. Mereka kan gitu. Nggak pernah akur. Kerjaannya saling nge-gas.” buru-buru Ara menyerobot pertanyaan Bela. Sebelum harus mendengar nada ketus Dila lagi.

-----

Agenda pagi itu, sebenarnya hanya makan bersama. Semua murid kelas 1-3 SD Harapan Indah diharapkan bisa berjajar rapi, dan duduk di karpet masing-masing yang sudah disiapkan walikelas masing-masing.

Tapi tetap saja, sepertinya tidak akan ada hari-hari damai antara Dila dan Agnes. Entah bermula dari perkara apa, mereka berdua saling menolak untuk berbuat baik. Pemandangan yang memauakkan bagi Ara dan Bela.

Harus melihat tingkah tidak masuk akal mereka setiap hari.

“Pagi-pagi mereka udah berantem lagi, ya,” ucap Bela, ketika memandangi Dila dari arah kejauhan.

Setelah proses baris yang dibumbui nada ketus Agnes, akhirnya mereka duduk juga di karpet masing-masing.

“Aku heran, deh. Kalo ada salah, harusnya kan dibiacrakan baik-baik aja. Bener nggak?” tanya Ara. Matanya ikut berkeliling menyapu tempat duduk siswa. Memastikan lokasi duduknya tidak berdekatan dengan Dila.

“Iya, kalo ada salah tuh, saling bicara. Biar jelas masalahnya apa. Jangan malah saling ngomongin di belakang.”

Bela setuju dengan perkataan Ara. Kalau ada masalah, ya diselesaikan. Jangan bawa-bawa penyakit ke dalam tubuh yang sehat. Jangan mencemari kepercayaan teman, hanya kerena kita tidak suka dengan seseorang itu.

Luruskan apa yang salah, jangan biarkan tubuh yang sehat jadi tercemar ikut busuk. Karena hati yang tidak bisa dikondisikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali