Organisasi Kampus yang Penuh dengan Nepotisme
Terkadang praktek nepotisme dalam organisasi di Kampus juga dilakukan secara terang-terangan.
Walaupun saya tidak pernah menyaksiakan secara langsung tapi teman saya ada yang bercerita kepada saya, bahwa dia ditawari jabatan penting untuk suatu organisasi. Tanpa melalui rangkaian rekrutmen yang seharusnya dilakukan. Ia memang cukup aktif di beberapa organisasi dan orangnya memang pandai mengolah kata dan selalu aktif menyuarakan pendapatnya.
Mungkin bagi kebayanyakan orang hal tersebut terlihat biasa dan sangat wajar dilakukan. Padahal dibalik itu semua terdapat sebuah dampak negatif didalamnya seperti Ketidakadilan dalam seleksi masuk dalam sebuah organisasi, penurunan reputasi, dan dapat menimbulkan ketidakpuasan bagi mahasiswa yang tidak terlibat dalam jaringan nepotisme.
Organisasi kampus yang terkenal dengan praktik nepotismenya cenderung mendapatkan reputasi buruk di mata masyarakat luas. Hal ini dapat berdampak negatif pada citra universitas dan daya tarik bagi calon mahasiswa, dosen, atau tenaga kerja.
Selain itu praktik nepotisme dapat menyebabkan Kurangnya keberagaman. Nepotisme dapat menghambat keberagaman dan inklusi dalam organisasi kampus. Jika posisi dan peluang hanya diberikan kepada keluarga atau teman dekat, ini dapat mengabaikan individu-individu berbakat dari latar belakang yang berbeda. Apalagi jika dilakukan dalam skala yang besar.
Mahasiswa yang merasa bahwa promosi atau penghargaan didasarkan pada faktor-faktor non-kinerja dalam praktik nepotisme mungkin kehilangan motivasi mereka. Hal tersebut dapat mengurangi semangat dan dedikasi dalam mencapai hasil terbaik dalam organisasi.
Kampus memang bisa jadi tempat untuk membentuk diri, organisasi sedikit banyak mengambil peran di dalamnya. Bahkan Sejak awal masuk, para mahasiswa memang sudah dicekoki kiat-kiat terkait organisasi kampus.
Biasanya pada masa orientasi akan terdengar himbauan dari para senior seperti , “Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang)”. Begitulah kira-kira, hingga kemudian dogma yang mahasiswa terima sejak awal ini diterapkan dalam hidup mereka.
Alasan para mahasiswa baru ketika ditanya mengapa mengikuti suatu organisasi. Jawabannya, tak jauh-jauh dari keinginan mendapat pengalaman dan juga relasi. Jawaban dari mahasiswa pasti masih terlalu normatif, termasuk juga saya. Hehe.
Lalu timbul sebuah pertanyaan dipikiran saya, Apakah benar relasi memang dibutuhkan ketika seseorang sudah cukup mempunyai pengalaman yang banyak dan mumpuni? Tentu akan terdapat banyak sekali jawaban jika pertanyaan tersebut kembali anda tanyakan kepada teman-teman yang lain.
Untuk orang-orang yang tau dengan bagaimana praktik nepotisme ini berjalan di dunia organisasi kampus pasti tau apa yang sedang saya bicarakan ini. Begitupun orang yang pernah masuk dalam sebuah organisasi kampus yang penuh dengan ketidakasilan.
Praktik nepotisme dalam kampus memang sulit dihilangkan, tapi tidak mustahil juga untuk dihilangkan secara perlahan. Meskipun sudah terasa hilang pasti tetap saja masih ada yang melakukan hal tersebut secara sembunyi atau terang-terangan entah itu sadar ataupun tidak.
Yang jelas hal seperti ini harus sebisa mungkin dihilangkan dari organisasi kampus. Nepotisme harus dihilangkan karena memiliki dampak negatif dan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang mendasari organisasi yang adil dan transparan.
Nepotisme juga merusak keadilan, merusak iklim organisasi, mencederai reputasi, dan menghambat keberagaman dan perkembangan organisasi. Dengan menghapuskan nepotisme, organisasi kampus dapat memastikan bahwa seleksi dan promosi didasarkan pada kualifikasi dan kemampuan setiap individu.
Tapi hal ini lumayan challenge sih, sebab perubahan budaya membutuhkan waktu puluhan tahu. Tapi tak masalah, kita bisa memulainya dari sekarang untuk meminimalisir perilaku amoral dalam tata kelola organisasi, khususnya organisasi negara.
BalasHapusKorupsi, Kolusi dan Nepotisme juga sebenarnya udah ada dari zaman baheula, dari zaman firaun pun sudah ada praktik KKN, ini memang penyakit laten di tubuh organisasi,
Mau gimana pun memang gabisa dipungkiri ya kak. Tetap bakal ada praktek-praktek itu walaupun ibarat kata di depan kantor terpampang himbauan no KKN
Hapus