Pentingnya Meluruskan Niat
Setelah sekian lama, aku ini yang alasannya sok sibuk, akhirnya bisa juga datang ke pengajian. Kadang suka mikir, sudah berbuat dosa sebanyak apa, sih, kok datang ke pengajian aja di bikin enggan sama Allah. Pernah mikir yang serupa, kah?
Mungkin kali ini pengen ngobrol-ngobrol santai aja, seputar insight apa yang aku dapat selama kajian. Karena pembahasannya bersumber dari catatan atau rangkumanku ketika pengajian, jadi mungkin pembahasannya tidak akan dalam, ya. Tapi semoga bisa bermanfaat dan jadi pengingat untuk kita.
Hari itu, menjadi hari pembukaan dimulainya majelis taklim yang diselenggarakan oleh pihak kampusku. Di pengajian lain (yang pada umumnya) biasanya langsung diberi materi, tanpa babibu. Tapi yang kali ini berbeda. Kegiatan diawali dengan pembacaan maulid.
Lalu Syarifah Sania pun, bilang yang kurang lebihnya seperti ini, “Karena hari ini hari pertama, maka saya tidak akan masuk ke dalam pembahasan. Melainkan ingin mengenalkan dahulu siapa pengarang kitab yang akan kita bahasa sebulan sekali ini.”
Yang selama diperkenalkannya pengarang kitab Risalatul Muawannah, Imam Haddad, Syarifah membahas sedikit tentang sebuah kitab lain. Yang mana, bahkan di mukadimmah, saja, sudah dibuka tentang bab meluruskan niat. Mari kita simak, ya. Apa saja isi mukadimmah itu, (Yang maaf banget aku lupa itu dari kitab siapa dan diarang oleh siapa. Mau nulis takut keliru).
Macam-macam niat, banyaknya ada tiga.
Lillahi Ta’la
Datang menghadiri majelis ilmu dengan niat ingin memperbaiki diri. Menambah pengetahuan untuk menunjang perbaikan diri menghadap Sang Ilahi. Supaya amalannya lebih sempurna, menjadi pribadi yang lebih baik, dan berkumpul dengan orang-orang shalih supaya keshalihannya menular.
Mencari Kedudukan di Mata Manusia
Orang yang datang ke mejelis ilmu hanya ingin dipandang rajin oleh manusia. “Wah, Si A rajin banget, ya. Hari ini datang lagi ke kajian.” Ingin dipandang shalih juga oleh orang lain, gara-gara sudah sering nongol di kajian manapun.
“Nah, inilah seburuk-buruk niat. Karena datang ke majelis itu niatnya kan mencari obat hati, bila datangnya sudah dengan niat lain, bagaimana sakitnya bisa sembuh. Bisa jadi pulang-pulang malah membawa penyakit baru, karena obatnya ndak cocok.”
Niat Mencari Ilmu Untuk dijual Kepada Dunia
Mencari ilmu jangan bertujuan agar bisa berdebat atau menyombongkan ilmu yang dipunyai. Apalagi hingga menjadikan sebuah ilmu agama sebagai jembatan untuk mendapatkan jabatan tinggi dan kepopularitasan.
- - -
Kenapa Syarifah memulai dengan membacakan mukadimah dari kitab lain? Tujuannya supaya pendengar paham, bahwa niat itu kedudukan sangat penting. Sebelum belajar diingatkan dahulu tentang niatnya, agar tidak salah jalan. Dan perkenalan penulis kitab, menjadikan kita bisa lebih menghargai, menghormati, dan mencintai. Melihat agungnya sosok waliyullah yang berhasil menjadi revolusioner pencetus metode dakwah sesuai zaman, dan cocok dengan anak muda jaman sekarang. Bikin terngiang-ngiang dan jatuh cinta, tatkala semakin dalam menyalami bait romantisnya.
Lalu terkait macam-macam niat di atas, ada sebuah pesan juga yang disampaikan oleh Syarifah, dikutip dari Hubabah Nur, bahwa ketika ingin atau sedang duduk dalam majelis ilmu, pasanglah niat ingin mengamalkan apapun hal yang akan disampaikan oleh guru. Walaupun belum tahu apa isinya, dan bagaimana caranya. Intinya, niat dahulu. Niat ingin belajar dan mengamalkan. Ini menjadi sebaik-baik niat yang bisa dipasang, untuk mencari keberkahan sebuah ilmu dan tidak meremehkan ilmu yang disampaikan seorang guru.
- - -
Di awal tadi, aku menyinggung tentang dosa apa yang membuat sesorang bisa dienggankan untuk menghadiri majelis ilmu. Kenapa bisa demikian? Karena bisa jadi kita belum dipantaskan Allah atau bahkan Sang Penulis kitab, dirasa belum siap dan banyak yang menghalangi bathin. Maka keberkahan belum siap untuk ditimpakan kepada seseorang itu. Makanya ditundakan.
Sedangkan yang dipanggil (yang diundang hadir), adalah mereka-mereka yang sudah secara khusus dipanggil, untuk diajak berbicara langsung dengan beliau. Karena sejatinya, ketika seseorang mengkaji sebuah kitab, maka ia sedang berbincang, menyelami diri seorang Ulama.
- - -
Sebetulnya aku kurang tau, benar atau tidaknya hal di atas. Tapi bagiku sendiri, bisa jadi benar. Terbukti dari niat-niat terselubung yang tidak baik, ditambah diri yang belum “memapankan hati”, merasa dipersulit untuk menghadiri majelis ilmu. Termasuk dosa-dosa yang membuat hati gelap. Entah dibuat malas sama Allah, entah ada musibah atau ujian lainnya.
Beda bila memang dipanggil. Ketika ada hujan badai halilintar tetap di terjang. Merasa gembira, sumringah bertemu guru, dan mencari 1001 alasan supaya bisa hadir.
Jadi point-nya adalah, tata niat baik-baik. Allah menitipkan rahmat tidak kepada sembarang orang. Perlu dengan usaha keras supaya kita berhak dipandang, diberi keberkahan hidup. Apalagi yang menyangkut dengan menuntut ilmu. Bagaimana bisa sampai kepada Tuhanmu, kalau ilmu saja tidak punya. Bagaimana bisa punya ilmu, kalau niat saja tidak ditata.
Mungkin kali ini pengen ngobrol-ngobrol santai aja, seputar insight apa yang aku dapat selama kajian. Karena pembahasannya bersumber dari catatan atau rangkumanku ketika pengajian, jadi mungkin pembahasannya tidak akan dalam, ya. Tapi semoga bisa bermanfaat dan jadi pengingat untuk kita.
Hari itu, menjadi hari pembukaan dimulainya majelis taklim yang diselenggarakan oleh pihak kampusku. Di pengajian lain (yang pada umumnya) biasanya langsung diberi materi, tanpa babibu. Tapi yang kali ini berbeda. Kegiatan diawali dengan pembacaan maulid.
Lalu Syarifah Sania pun, bilang yang kurang lebihnya seperti ini, “Karena hari ini hari pertama, maka saya tidak akan masuk ke dalam pembahasan. Melainkan ingin mengenalkan dahulu siapa pengarang kitab yang akan kita bahasa sebulan sekali ini.”
Yang selama diperkenalkannya pengarang kitab Risalatul Muawannah, Imam Haddad, Syarifah membahas sedikit tentang sebuah kitab lain. Yang mana, bahkan di mukadimmah, saja, sudah dibuka tentang bab meluruskan niat. Mari kita simak, ya. Apa saja isi mukadimmah itu, (Yang maaf banget aku lupa itu dari kitab siapa dan diarang oleh siapa. Mau nulis takut keliru).
Macam-macam niat, banyaknya ada tiga.
Lillahi Ta’la
Datang menghadiri majelis ilmu dengan niat ingin memperbaiki diri. Menambah pengetahuan untuk menunjang perbaikan diri menghadap Sang Ilahi. Supaya amalannya lebih sempurna, menjadi pribadi yang lebih baik, dan berkumpul dengan orang-orang shalih supaya keshalihannya menular.
Mencari Kedudukan di Mata Manusia
Orang yang datang ke mejelis ilmu hanya ingin dipandang rajin oleh manusia. “Wah, Si A rajin banget, ya. Hari ini datang lagi ke kajian.” Ingin dipandang shalih juga oleh orang lain, gara-gara sudah sering nongol di kajian manapun.
“Nah, inilah seburuk-buruk niat. Karena datang ke majelis itu niatnya kan mencari obat hati, bila datangnya sudah dengan niat lain, bagaimana sakitnya bisa sembuh. Bisa jadi pulang-pulang malah membawa penyakit baru, karena obatnya ndak cocok.”
Niat Mencari Ilmu Untuk dijual Kepada Dunia
Mencari ilmu jangan bertujuan agar bisa berdebat atau menyombongkan ilmu yang dipunyai. Apalagi hingga menjadikan sebuah ilmu agama sebagai jembatan untuk mendapatkan jabatan tinggi dan kepopularitasan.
- - -
Kenapa Syarifah memulai dengan membacakan mukadimah dari kitab lain? Tujuannya supaya pendengar paham, bahwa niat itu kedudukan sangat penting. Sebelum belajar diingatkan dahulu tentang niatnya, agar tidak salah jalan. Dan perkenalan penulis kitab, menjadikan kita bisa lebih menghargai, menghormati, dan mencintai. Melihat agungnya sosok waliyullah yang berhasil menjadi revolusioner pencetus metode dakwah sesuai zaman, dan cocok dengan anak muda jaman sekarang. Bikin terngiang-ngiang dan jatuh cinta, tatkala semakin dalam menyalami bait romantisnya.
Lalu terkait macam-macam niat di atas, ada sebuah pesan juga yang disampaikan oleh Syarifah, dikutip dari Hubabah Nur, bahwa ketika ingin atau sedang duduk dalam majelis ilmu, pasanglah niat ingin mengamalkan apapun hal yang akan disampaikan oleh guru. Walaupun belum tahu apa isinya, dan bagaimana caranya. Intinya, niat dahulu. Niat ingin belajar dan mengamalkan. Ini menjadi sebaik-baik niat yang bisa dipasang, untuk mencari keberkahan sebuah ilmu dan tidak meremehkan ilmu yang disampaikan seorang guru.
- - -
Di awal tadi, aku menyinggung tentang dosa apa yang membuat sesorang bisa dienggankan untuk menghadiri majelis ilmu. Kenapa bisa demikian? Karena bisa jadi kita belum dipantaskan Allah atau bahkan Sang Penulis kitab, dirasa belum siap dan banyak yang menghalangi bathin. Maka keberkahan belum siap untuk ditimpakan kepada seseorang itu. Makanya ditundakan.
Sedangkan yang dipanggil (yang diundang hadir), adalah mereka-mereka yang sudah secara khusus dipanggil, untuk diajak berbicara langsung dengan beliau. Karena sejatinya, ketika seseorang mengkaji sebuah kitab, maka ia sedang berbincang, menyelami diri seorang Ulama.
- - -
Sebetulnya aku kurang tau, benar atau tidaknya hal di atas. Tapi bagiku sendiri, bisa jadi benar. Terbukti dari niat-niat terselubung yang tidak baik, ditambah diri yang belum “memapankan hati”, merasa dipersulit untuk menghadiri majelis ilmu. Termasuk dosa-dosa yang membuat hati gelap. Entah dibuat malas sama Allah, entah ada musibah atau ujian lainnya.
Beda bila memang dipanggil. Ketika ada hujan badai halilintar tetap di terjang. Merasa gembira, sumringah bertemu guru, dan mencari 1001 alasan supaya bisa hadir.
Jadi point-nya adalah, tata niat baik-baik. Allah menitipkan rahmat tidak kepada sembarang orang. Perlu dengan usaha keras supaya kita berhak dipandang, diberi keberkahan hidup. Apalagi yang menyangkut dengan menuntut ilmu. Bagaimana bisa sampai kepada Tuhanmu, kalau ilmu saja tidak punya. Bagaimana bisa punya ilmu, kalau niat saja tidak ditata.
ini tulisannya reminder banget, jleb jleb jleb. makasih banyak ya kka ❤️
BalasHapusKembali kasih kak
HapusDuhhh ketampar pake banget euy. Hati kayak dicubit-cubit. Terima kasih pengingatnya ya Kak
BalasHapusTapi hati masih aman ya kak, hihi
HapusYaa Allah, ini nyess banget ke dalam hati, bahasanya ringan dan tidak menggurui, kena banget. Makasih banyak ya kak udah menuliskan ini, seperti reminder buat diriku sendir
BalasHapusAlhamdulillah bermanfaat, thank u feedback nya kak
HapusPesan Yang sangat mengena. Reminder buat kedepannya lagi🥲🙏
BalasHapusYuu semangat memperbaiki hati kak~
HapusBetul.. Penting sekali menjaga niat diawal, dalam prosesnya hingga akhir. Niat awal baik bisa saja berubah ketika menghadapi prosesnya.. Hrs2 sering2 introspeksi dan istighfar. Takutnya tanpa disadari niatnya sudah melenceng. Self reminder juga sih ini.
BalasHapusNahh iyaa, harus banyak-banyak istighfar, minta pertolongan Allah ya mba :(
HapusSetuju kak 👌. Ini tamparan banget buat diri sendiri. Niat itu emang sepenting itu sih. Amalan yang kecil bisa jadi besar karena niatnya. Begitu pun sebaliknya.
BalasHapusAmalan sebiji dzarrah pun penting ya kak, asal niatnya betul.. MasyaAllah
HapusBerbuat dosa lagi, taubat lagi, maksiat lagi, terus aja muter muter..
BalasHapusAstaghfirullah... 😢😢
Bismillah.. yang penting balik ke Allah lagi mba :(
HapusMau tanya Kak, Syarifah itu istilah untuk guru atau memang nama orang yg ngasih materi? Soalnya jadi inget istilah musyrifah
BalasHapusSepertinya soal niat ini emang selalu jadi bab pertama dalam kelas apapun ya, gak mesti kajian agama
Salah satunya kelas ngeblog. Pasti ditanyain dulu, niatnya ngeblog buat apa.
Ya karena kegiatan apapun itu tergantung niatnya. Kalau ga bener, kegiatannya juga gak akan memberikan hasil yg memuaskan
Artikel ini emang reminder yg bagus banget
Syarifah itu semacam gelar untuk keturunan Nabi kak, kalau laki-laki dipanggil Habib, sedang perempuan Syarifah. Semacam gelar ustadz dan ustadzah gituu... Terima kasii banyak mba feedback nya 🤍
HapusMakasih kak tulisannya ini bisa jadi pengingat bahwa apapun yang kita kerjakan dinilai dari niatnya. semoga Allah tetap meluruskan niat-niat baik kita ya
BalasHapusAamiin aamiin ya Allah, banyak minta sama Allah
HapusHaduh bener bgt mbak. Kita harus sering² inget untuk luruskan niat agar tetap dijalan Allah. Lillahi ta'ala yang susah kadang hati berkata lain 🥺
BalasHapusManusiawi kak.. tapi yang penting tetep mengusahakan buat stay on the track niatnya. Kalo gagal coba lagi :(
Hapusbenar banget kak.terima kasih atas pesannya kak.
BalasHapusKembali kasih, Kak
HapusBener banget kak, niat itu yang paling penting. Sesuatu yang niatnya baik insyaAllah akan berakhir dengan baik. Keren banget kak tulisannya, semangat teruus
BalasHapusTerima kasii feedback-nya, Kak
Hapustulisanya lembut dan mengalir, membacanya serasa diingatkan mama di rumah, bahwa apapun itu, niat harus selalu diluruskan demi meraih ridho Allah SWT..
BalasHapusTerima kasii Kak Rahma
HapusTulisannya mengingatkan banget kak, terima kasih
BalasHapusKembali kasiih
HapusKembali kasih, Kakk
BalasHapus