Peran Orang Tua Membentuk Kepribadian Remaja


 

Remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju usia dewasa. Dimana di usia ini, mereka mengalami banyak perubahan. Baik dari segi fisik maupun psikologis. Disamping berubahan fisik yang menonjol, perubahan psikologis pada remaja pun sebenarnya tidak kalah menonjol. Banyak gejolak-gejolak batin yang dirasakan selama proses perubahan fisik itu berlangsung. Namun, tidak semua orang tua peka dengan perubahan psikologis ini. Padahal perubahan psikologis bukan suatu hal yang bisa diremehkan dan dikesampingkan. 

Yang daripada hal itu, tidak jarang sekali masa trasnsisi ini menjadi gejolak kenakalan remaja yang diakibatkan perubahan perilaku yang tidak diperhatikan dan diarahkan secara tepat oleh orang tua. Kenapa bisa dikatakan demikian? Karena pada usia remaja, kemampuan kognisi mereka berimplikasi pada kemampuan sosial. Mulai renggang hubungan dengan orang tua, lebih suka menghabiskan waktu dengan teman, mulai muncul perasaan kepada lawan jenis, lantas juga ada kecenderungan untuk fanatik pada suatu hal, misalnya musik, dll.

Bila orang tua tidak memperhatikan perkembangan sosial ini dengan baik, serta mengawalnya dengan bijak, bisa-bisa masa trasnsisi tersebut penuh dengan tindak-tindak kurang baik, yang bisa menjurus kepada tindak kriminalitas. Akibat salah pergaulan dan menempatkan porsi sosial tidak pada tempatnya. Ditambah dengan kedudukan orang tua yang belum paham betul tentang bagaimana menghadapi seorang remaja. Alih-alih mengajak diskusi malah melarang ini dan itu.

Sejatinya masa remaja itu, masa dimana mereka sedang mencari jati diri. Mempertanyakan banyak hal, termasuk eksistensi dirinya sendiri. Juga mulai mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan mendasar kepada orang tua, sebagai bentuk validasi emosi. Lagi-lagi, bila respon orang tua kurang tepat, ini bisa menjadikan seorang remaja semakin menarik diri dari keluarga. Lalu memilih mencari jawaban-jawaban itu di luar rumah. Yang mendorong seorang remaja semakin jauh dari jalur, dan menjadikan peluang “tersesat” menjadi sangat besar.

Lantas bagaimana peran orang tua yang benar dalam menghadapi remaja, demi membentuk karakter baik?

Tapi sebelum itu, perlu diingat, bahwa upaya-upaya ini tidak bisa hanya dilakukan oleh orang tua saja, melainkan haruslah bekerja sama dengan pihak sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Untuk pencegahan dan mendukung apa-apa yang sudah orang tua bekali.

Bentuk-bentuk penanggulangan kenakalan remaja dibagi menjadi tiga tahap, yakni: pencegahan, pengentasan, dan pembetulan (Ayuningtyas, 2011). Berikut upaya-upayanya:


Keluarga

1. Orang tua haruslah membentuk kondisi yang harmonis di dalam rumah. Peran-peran orang tua dijalankan dengan seimbang, sehingga bisa sama-sama saling bersinergi mencurahkan kasih sayang serta perhatian kepada anak dengan porsi yang pas, sekaligus mengupayakan pengkondisian rumah agar tidak kacau.

2. Memberikan pengawasan yang wajar kepada anak. Pengawasan wajar ini tidak membatasi anak, dengan melarang ini dan itu. Membiarkan anak berkembang sesuai apa yang dipilih, untuk mengajarkan tanggung jawab atas sebuah pilihan. Namun juga tidak bersikap longgar, karena mereka perlu diberi “batasan” yang jelas akan geraknya.

3. Memberikan kemerdekaan kepada anak. Mereka bebas berpendapat, bebas mengajukan pertanyaan, dst. Sebagai orang tua hanya perlu mendampingi setiap perkembangannya, tetap dengan lajur pengawasan dan perturan yang sudah disepakati bersama.


Sekolah

1. Mengajarkan kedisiplinan dengan menerapkan aturan-aturan yang adil dan tidak merugikan sebelah pihak. Peraturan ini ada untuk membentuk karakter dan menanamkan kedisiplinan, agar dewasa kelak, mereka sudah terbiasa untuk menjalankan norma-norma yang berlaku di masyarakat. 

2. Guru bersikap adil kepada semua siswa. Tidak pandang buluh ketika menjatuhkan sanksi. Dengan tujuan menghindari tercideranya kepercayaan siswa dan menjadikan meraka berontak akibat tindak tidak adil tersebut

3. Guru memahami aspek psikis pada tiap siswa, bahwa sejatinya setiap siswa kebutuhannya tidak sama. Dengan harapan, bila guru memahami ini dengan baik, maka bisa memfasilitasi dan menghadapi siswa dengan cara yang tepat kepada masing-masing mereka

 

Masyarakat

1. Menjadi teladan yang baik bagi remaja yang tinggal di lingkungan mereka. Tanpa dukungan dan contoh yang baik, bekal orang tua kepada remaja tidaklah cukup. Bagaimana bisa, seorang remaja belajar akan disiplin dan taat norma, bila seringkali melihat tetangganya saja suka melanggar. Bukannya mapan malah jadi ikut terprovokasi dengan tindak tersebut. Bisa jadi mempengaruhi perilaku remaja kedepan, "Dia aja begitu, kenapa aku harus patuh."

2. Menegur dengan bahasa yang santun. Kadangkala orang dewasa suka memposisikan dirinya sebagai orang yang serba benar dan serba tahu, Tiba-tiba menjudge seseorang dengan kata-katanya seadanya. Padahal "anak kecil" juga punya perasaan, loh. Dari kesalahan-kesalahan itulah biasanya timbul ilmu baru, dan pembentulan perilaku. Bila ditegurnya dengan cara tidak baik, bagaimana seorang remaja bisa belajar dan memperbaiki diri? Bisa-bisa mereka semakin berontak. 

3. Mengadakan kegiatan kepemudaan, untuk memfasilitasi gerak pada remaja dalam pencarian jati diri. Daripada seorang remaja kongkow dengan remaja lain di luar kompleks, lebih baik ia bergabung bersama remaja-remaja satu lingkup. Selain pengawasannya lebih mudah, orang tua juga tidak terlalu was-was, karena sudah mengenal anak-anak lain dengan cukup baik, plus sudah kenal orang tuanya juga. Jadi alangkah baiknya dibentuk perkumpulan remaja, entah berbasic olahraga atau apapun itu. Untuk memperkuat pertahanan diri mereka di lingkungan luas. 

 

Kenakalan remaja adalah tindak-tindak melawan hukum, anti sosial, anti norma. Yang di dorong oleh faktor internal dan eksternal diri. Berupa krisis identitas dan kontrol diri yang lemah. Juga dari faktor lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat yang tidak mendukung.

Maka dari itu, penguatan karakter ini perlu adanya, dimulai dari dalam rumah dahulu. Setidaknya ada bekal penguat untuk remaja yang mengarungi dunia luas, sebelum terjerumus ke dalam lubang keterpurukan akibat tidak bisa mengkontrol diri dengan baik. Setidaknya, oran tua mengupayakan dengan semaksimal mungkin sebagai bentuk pencegahan, sisanya berusaha untuk memilihkan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembanng anak, juga sekolah yang mendung visi misi keluarga dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Demikian upaya-upaya yang bisa dilakukan dalam menganggulangi kenakalan remaja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali