Romansa Ariel yang Penuh Haru

Source from: www.etonline.com

Siapa, sih, yang tidak tau tokoh Ariel? Kayaknya tidak ada perempuan yang tidak kenal dengan Ariel. Secara pada zaman itu Disney Princess sangat unggul daripada animasi lainnya. Khususnya dikalangan perempuan, nih.

Aku ingat sekali. Dulu berlangganan majalah Bobo, sewaktu ke toko tergiur dengan majalah anak yang full gambarnya pakai Disney Princess. Semenggiurkan itu, haha. Sampai punya pernak-pernik yang berbau Princess. 

Kala itu, walaupun gemar dengan Disney Princess, aku tidak pernah tertarik dengan Ariel. Entah mengapa. Pokoknya sedari awal suka sama Aurora. Selain warna kesukaan kita sama, pink, haha.

Tapi nih, tiba-tiba banget hari ini nonton live action The Little Mermaid. Tidak pernah terpikirnya mau nonton ini. Dengan berita yang sempat viral gara-gara tokoh utamanya berkulit hitam, pun, aku biasa saja. Perkara rombongan, akhirnya nonton Ariel. Dan surprisenya, rupanya menarik juga.

Kalian sudah nonton The Little Mermaid?

Kalau belum, semoga ulasan singkatku bisa mencerahkan, ya.


SPOILER ALLERT!

Jadi Ariel ini adalah anak terakhir dari seorang Raja Lautan. Punya banyak kakak yang kesemuanya perempuan. Dan Ariel, termasuk anak yang paling bandel.

Kerjaannya hanya sibuk mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan manusia. Suka meninggalkan wilayah kerajaan hanya demi mengumpulkan pernak-pernik yang dipungutnya dari kapal karam.

Ayahnya jelas-jelas menantang Ariel berhubungan dengan dunia manusia. Sekedar bertanya saja tidak boleh, bagaimana dengan mengumpulkan barang-barangnya dan jatuh cinta dengan manusia?

Perang dunia ketiga akan pecah, sih, haha.


Aku tidak tahu, apakah build ceritanya sama dengan versi animasi atau tidak. Karena aku tidak menonton versi animasinya. Jadi tidak bisa membandingkan secara objektif.

Ulasanku hanya berupa sedikit hal yang kuambil atau aku tandai, sepanjang menoton film ini. Oke? Semoga bisa bermanfaat. Cus, langsung aja ke ulasannya.


Ulasan

Gambaran besar ceritanya, berkisah pada konflik keluarga antara Ariel dan ayahnya. Ayahnya kolot menentang Ariel untuk tidah berhubungan dengan dunia manusia. Yang akhirnya malah membawa diri Ariel ke dalam petaka lebih besar.

Menghampiri dunia manusia. Mengintai kapal pangeran Eric.

Yang secara takdir, kok, ya dibuat karam oleh badai. Jelas saja, Ariel yang penasaran dengan dunia manusia, memanfaatkan kesempatan itu. Menolong Eric yang tenggelam, akhirnya jatuh cinta, ada ujian cinta, dan ending. Happy atau sad? Nanti, yah, tonton sendiri.

Untuk rate usia semua umur, topik yang “fokusnya” sama kisah romansa, seperti kurang cocok, ya. Aku tidak tahu, sih, waktu itu live action Beauty and The Beast juga demikian. Padahal aku rasa, kalau untuk anak-anak (SU) lebih tepatnya dengan storyline yang anak-anak, gitu. Misalnya Monster Inc, Toy Story, dll.

Karena kalau anak-anak menonton Ariel, apanya yang bisa diambil hikmah. Dia berbakti dengan ayahnya saja setelah sadar, ayahnya rela berkorban nyawa untuk dirinya. Kalau belum terjadi sampai meninggal dunia, memang mau melirik ayahnya? Tabiat manusiawi memang, tapi tidak semua anak-anak yang menonton bisa kritis akan hal ini dan bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk.

Haha, kritik dan tafsiranku terlalu dalam, apa ya. Tapi serius, itu hal yang aku tangkap di akhir film. Jadi semua konfliknya bermuara karena Ariel yang jatuh cinta pada manusia.

Klise banget, ya. Cinta beda alam, cinta dua dunia. Perang karena tidak setuju, ada masalah lebih dalam, akhirnya ngalah, terus direstui. Basi, gasih?

Tapi walaupun secara sadar storylinenya bisa ditebak, nyatanya ketika menonton aku dibuat tidak bisa menduga-duga. Karena terlalu fokus dengan eksekusi filmnya yang baik. Mata betulan dimanjakan dan telingan pun ikut merasakan.

Dengan penyelesaian konflik yang kupikir kurang nampol, terasa gantung, endingnya tetap bisa dinikmati, kok. Di menit-menit terakhir film, aku dibuatnya berkaca-kaca karena sebuah adegan yang sentimentil.

Overall, good. Aku cukup enjoy menonton Ariel. Walaupun dibeberapa scene ada yang bikin pusing. Karena shoot kameranya cepat dan berputar. Lagu-lagu yang dimainkan juga bisa dinikmati. Membawa suasanya banget, lah pokoknya.

Bisa, nih, dijadikan referensi film keluarga. Untuk kamu yang suka dengan drama musikal, dunia bawah laut, dan cerita romansa. Untuk anak-anak pun boleh, silakan. Tidak ada scene kissing berlebihan, interaksi lawan jenis pun terbilang normal. Jadi, aman..

Terakhir, aku tidak terlalu kenal dengan tokoh-tokohnya. Kecuali yang sempat nongol sedikit di awal film, kakak Ariel, Indira, pemain tokoh di series Bridgerton. Juga burung yang pengisi suaranya aku kenal banget. Dan dia yang justru mencuri perhatianku sepanjang film (daripada tokoh utama). “Ah, suara orang ini, haha. Tapi bener, nggak, ya.” (Rupanya setelah dicek betul, suara Awkwafina).



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali