Who is Your Role Model?


Sebuah pertanyaan klise yang seringkali ditanyakan orang-orang terhadap seseorang yang dianggap “berhasil.” Bertujuan ingin mengetahui pola hidup suksesnya dari orang-orang yang diikuti. Misalnya saja seperti Wirdha Mansur, yang meletakkan Ir. B. J Habibie sebagai role modelnya.

Tapi apakah bila sudah memiliki seorang role model, kehidupan seseorang bisa berbanding lurus juga, semulus kehidupan role modelnya tersebut? Jawabannya tergantung. Terus apa pentingnya memiliki seorang role model, bila hasilnya saja masih “belum jelas”?

Nah, sebelum itu, mari pahami dulu pengertian role model. Role model adalah seseorang yang pola pikir dan perilakunya dijadikan teladan untuk dilakukan sehari-hari. Aku memisalkan diriku, untuk memberi contoh. Di sini, posisiku yang gemar menulis, pasti harapannya suatu saat karyanya bisa mejeng di mana-mana. Apa yang sekiranya bisa aku lakukan?

Tentu saja, menilik siapa tokoh yang mejeng duluan di luaran sana. Lalu mengulik, apa saja, sih, kebiasaan yang dilakukan tokoh tersebut untuk memicu munculnya ide. Apa yang biasa dilakukan untuk mengasah kemampuan merangkai diksi. Bagaimana caranya ia bisa meramu sebuah ceita yang apik, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Berangkat dari keresahan diri sendiri, akhirnya membawa kepada sebuah kesimpulan, “Aku butuh seorang role model!”. Walaupun diri ini sangat sadar, akan bagaimana hasilnya nanti. Yang bisa jadi tidak akan semulus tokoh tersebut. Tapi setidaknya dengan memiliki role model, hidup sehari-hari kita bisa dijalankan dengan “benar.” Sesuai dengan apa yang ingin kita tuju. Berdasarkan contekan hal-hal yang kita pelajari dari orang yang berhasil sukses duluan.

Andaikan kata kita tidak semujur seorang tokoh, setidaknya hari-hari kita tidak terombang-ambing dengan percuma. Setidaknya ada upaya yang diusahakan. Minimal ada progres untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan daripada hanya diam dan berpangku tangan dan tidak mencapai apapun.

Bila misalnya kita mengikuti etos kerja seorang penulis terkenal, paling tidak kita bisa memiliki kemampuan menulisnya dulu. Berdasarkan dari apa yang biasa ia lakukan. Walaupun kenyataannya kesuksesan memiliki karya cemerlang belum bisa diraih.


Jadi, siapa role modelmu?

 

Ternyata penting, kan, punya seorang teladan atau role model. Kalau bagi seorang muslim, jawaban nomor satu rata-rata akan mengatakan Nabi Muhammad Saw. Memang harus. Karena bagaimana bisa sukses atau selamat bila kita tidak mengikuti sebaik-sebaik role model di sepanjang zaman yang keberhasilannya sudah tidak diragukan lagi. Sebagai seorang muslim pasti harapannya ingin selamat dunia maupun akhirat, jadi tentu saja harus punya pegangan yang kuat.

Setelah meletakkan Nabi Muhammad Saw di urutan paling atas, tentu ada role model lain yang menjadi teladan juga. Kalau aku, karena seorang perempuan, pasti setelah itu meletakkan putri beliau, Fatimah Az-Zahra, sang pemimpin wanita akhir zaman di urutan kedua. Yang memberiku teladan untuk menjalani hari-hari, khususnya menjadi seorang muslimah. Tentang bagaimana beliau menjaga rasa malu, menjadi perempuan tersembunyi, dan terkenal akan  kesedarhaannya.

Yang ketika, aku tidak bisa menyebutnya seorang role model sebenarnya. Karena takdzimku berbeda dari dua di atas. Walau demikian, sosok ini menjadi salah satu sosok yang menginspirasi, dalam hal karya dan etos kerja. Siapa? Selena Gomez, haha.

Aduh, mendadak berasa lawak banget karena nulis Selena Gomez. Tapi serius. Entah bagaimana, ujung-ujungnya aku selalu merasa terkesan dengan seorang Selena. Mengingat bagaimana perjuangannya membangun karir. Dari usia muda hingga sekarang sudah akhir 20-tahunan. Dimulai dari karir akting di serial anak-anak, lalu menjadi penyanyi, sekarang kembali menapaki dunia akting dan membangun bisnis. Juga concern dengan isu kesehatan mental. Multitalenta sekali bukan. Apalagi tentang kisahnya yang akhir-akhir ini viral di mana-mana.

Dari seorang Selena aja (manusia biasa, tidak beriman), hal-hal yang bisa diteladani ada banyak, ya. Sudah bisa bikin terkesan (bagiku). Bagaimana dengan dua di atas, sungguh tidak bisa dibandingkan. Yakan?

Jadi, harapanku, siapapun role model kalian, tetap jangan lupa akan role model  nomor satu kita, ya. Nabi Muhammad Saw. bagi seorang muslim. Tetap jadikan pakem-pakem beliau sebagai standar utama, walaupun dalam prakteknya bisa menggunakan segala sumber.


Gimana, sekarang sudah menentukan role modelmu yang sebenarnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Diri Kita Seorang Introvert?

Untuk Kalian

Teringat Kembali