3 Rekomendasi Sad Movie
Setelah kemarin merekomendasikan film romantis full happiness dan happy ending, kali ini gantian ingin merekomendasikan film yang endingnya bikin nyesek. Sama-sama tentang hubungan, tapi yang ini harus merasakan kehilangan.
Peran utama dalam ketiga film yang aku rekomendasikan ini, diisi oleh seorang perempuan. Ada yang berkarakter aktif, penuh semangat, penuh motivasi, ada juga yang dalam keadaan kalut dan ingin bangkit dari keterpurukan.
Ketiga-tiganya berhasil membuat nangis bombay dan sulit move on setelah setelah menonton. Terngiang-ngiang dengan kisah romansa mereka yang sayang sekali harus kandas dengan tragis.
Penasaran, ya, apa saja filmnya? Yuk, langsung saja.
Me Before You
Source : imdb.com |
Sebuah film adaptasi novel karya Jojo Moyes, yang novelnya sudah laris duluan seantreo negeri. Termasuk menjadi salah satu english book yang digemari reader Indonesia. Sudah terbayang bagaimana bagusnya?
Me Before You bercerita seorang perempuan bernama Louisa Clark. Sebagai seorang tulang punggung keluarga yang menghidup ayah, ibu, kakek, dan beberapa saudaranya, memaksa Lou harus segera menceri pekerjaan baru. Lantaran diberhentikan bekerja dari sebuauh toko roti dekat rumahnya.
Untuk menyambung hidup, Lou tidak memilih-milih pekerjaan. Termasuk sebuah tawaran kerja yang memposisikan ia sebagai baby sitter seorang laki-laki dewasa bernama Will Traynor.
Bisa ditebak, yah. Lou dan Will memiliki hubungan unik. Antara perawat dan “pasien”. Selain berusaha profesional untuk merawat Will, Lou juga memiliki misi untuk membuat Will termotivasi dan memiliki semangat hidup kembali.
Five Feet Apart
Source : kompasiana.com |
Film romantis “jaman dulu” yang sekarang di rewatch pun tetap terasa enjoy. Karena storyline yang tidak membosankan. Juga pemain yang totalitas.
Sebuah film berlatar belakang di rumah sakit. Menyoroti kisah wanita muda bernama Stella yang mengidap penyakit langka Cystic Fibrosis. Hidup sehari-hari di rumah sakit, sejak beberapa bulan lalu karena kondisinya yang turun.
Selama masa pengobatan itu, Stella menjalin persahabatan dengan seorang laki-laki seusianya, dan bertemu dengan Will, yang berdiagnosis sama seperti dirinya.
Pou, sahabat Stella, selalu menjadi perantara hubungan Stella dengan Will. Karena hanya kondisi Pou yang aman dari sebaran penyakit. Sedangkan Stella dan Will bila berdekatan kurang dari 5 langkah, bisa sama-sama menularkan virus dan membahayakan hidup masing-masing.
Sehingga kisah romansa mereka yang berkembang seiring berjalannyaa waktu pengobatan, harus terhambat dengan jaga jarak 1,2 meter. Tidak pernah bergandengan tangan, tidak pernah duduk bersama, apalagi makan sepiring berdua.
Kebayang?
All The Bright Place
Berkisah tentang kehidupan seroang remaja perempuan introvert bernama Violet Market. Yang keadaan mental dan tubuhnya sedang buruk, akibat baru saja ditinggal oleh orang terkasihnya.
Rasa kalut, kehilangan orang tersayang membuat mental Violet terguncang. Takdir menemukan Violet dengan Theodore. Di depan sebuah terowongan jembatan. Bermula dari pertemuan tidak sengaja itu, akhirnya Theodore bisa mengisi kesepian Violet dan membawa ia bangkit kembali.
Mengenalkan tempat-tempat baru, mengajak berpergian jauh, mendekatkan diri Violet dengan teman-temannya, selayaknya pasangan. Saling mengisi dan memotivasi.
Tapi rupanya, ada hal tak menyenangkan terjadi dalam hubungan mereka. Theodore menjadi tak terkendali, penyakit mentalnya muncul dipermukaan, dihadapan Violet yang mentalnya baru saja perlahan pulih.
Aku menulis ini sambil terbayang-bayang dengan kilas balik kisah mereka yang menurutku, “Kisah sejati, kenapa harus kandas, sih? Kapalku barusan berlayar”.
Serius. Ada rasa menyesal dan sangat disayangkan. Kenapa harus terjadi seperti itu. Menjelang ending yak kupikirkan hanya semoga ada kabar gembira.
Tapi ternyata tidak. Sad. Benar-benar sad ending.
Komentar
Posting Komentar