Membangun Hubungan yang Sehat
.png)
Siut-siut angin dan teriknya matahari ikut meramaikan suasana pagi itu. Pelataran halaman sekolah sudah dihiasi bentangan karpet lipat berwarna abu-abu berlis merah. Juga botol minum warna-warni yang berjajar rapih ditepian karpet. Melambai-lambai minta diseruput. Sedang di ujung sana, anak-anak sedang berbaris manis di depan kelas masing-masing. Rambut kuncir kuda dengan karet berwarna pink, senada dengan sepatu yang dipakai. Seorang Agnes, tengah sibuk mengatur barisan teman-temannya. Tersorot dari mata Dila, yang berjalan dari arah berlawanan. “Ra, lihat, deh. Dila gaya banget. Baru sekali ditunjuk Bu Nina untuk pimpin barisan, jadi sok ngatur gitu.” “Itukan memang tugas seorang pemimpin, Dil. Apanya yang salah? Udah syukur Agnes mau menggantikan Iman,” balas Ara, dengan nada pembelaan. “Bener, sih. Nggak ada yang salah. Tapi ini, lho. Kok sombong gitu. Sok banget tingkahnya. Kayak orang paling penting sedunia aja,” bantah Dila. “Mulutmu, Dil! Kamu, kan, nggak tau apa niat Agnes di ...